Smiley Girl!

Smiley Girl!
Bayi Cantik...


__ADS_3

Tatiana meremas surat itu penuh amarah, ia bahkan belum mengkonfirmasi info yang ia dapatkan. Ia berharap informasi itu tidak benar. namun, dari surat ini Tatiana seolah membaca sebuah pengakuan. dan sayangnya pelakunya sangat pengecut dan memilih kabur sebelum mendapatkan hukuman!


.


.


.


Sudah hampir satu tahun sejak kepergian Katarina dari kehidupan Keluarga Jhonson. Lambat laun Albert dan Tatiana mencoba kembali membenahi hubungan mereka. Seperti saat ini, mereka sekeluarga pergi tamasya di taman Kota.


Mereka berempat menikmati pemandangan danau buatan dengan tanaman-tanaman hias yang berjajar dan tertata rapi. Mereka tampak bahagia menghabiskan waktu bersama, seolah tidak pernah ada masalah sebelumnya.


Di perjalanan pulang Ana mengajak Albert untuk singgah di rumah Samanta. Sejak kepergian Katarina, Ana sering datang ke rumah Samanta. Meskipun ia tahu Samanta sering merasa agak kesal saat Ana mulai mengumpati Katarina namun temannya itu hanya diam dan mendengarkan.


Hari ini Ana singgah tanpa memberi tahu Samanta. Entah, kenapa perasaanya ingin membawanya menemui temannya itu. Karena setiap ia akan berkujung Samanta memintanya untuk menghubunginya dulu.


Rumah Samanta cukup besar namun tampak sederhana. banyak sekali tanaman dan bunga menghiasi taman yang letaknya di depan teras.


tok tok tok


cklek!


Seorang wanita tengah baya membuka pintu, Rose pengurus rumah Samanta mempersilahkan tamu-tamu manjikannya masuk dan duduk di ruang tamu.


"Saya akan memanggilkan Tuan, silahkan duduk." ucap wanita itu ramah.


Tak lama Ben suami Samanta muncul bersama Carlos anaknya. Pria berkulit coklat dengan rambut hitam itu terkejut melihat kedatangan Ana. Setelah mereka bersalaman dan saling menyapa Ben mulai bertanya heran karena tidak biasanya Ana datang tanpa mengabari dulu.


" Tumben kau tidak mengabari saat datang, saat ini Samanta sedang pergi."


" Iya Ben, kebetulan kami baru saja bertamsya di dekat sini dan aku pikir sekalian saja aku dan suamiku mampir." Ana melihat Ben nampak tidak nyaman. Sesekali suami temannya itu tampak menggaruk kepalanya.


Rose datang dengan nampan berisi teh dan beberapa camilan untuk anak-anak. Alex, Anne dan Carlos tampak antusias memakan camilan tersebut dengan segelas susu.


" Apa kedatangan kami mengganggu Ben." Albert yang sedari tadi hanya diam memukai percakapan.

__ADS_1


" Tidak Al, tentu saja kalian tidak menggangu. Jadi bagaimana kabar mu, kudengar ada proyek baru dengan Perusahaan Lyod."


Tatiana meninggalkan kedua pria yang sedang asyik membicarakan soal pekerjaan, dan menghampiri tiga anak kecil yang sedang bermain di pojok ruangan.


kriiing...kriiing....kriiing...


Dering pesawat telepon berbunyi. Rose mengangkatnya dan segera menghampiri majiakannya yang sedang menemani tamunya.


"Tuan, maaf... Nyonya menelfon." wanita itu tampak meminta maaf karena menginterupsi percakapan majikannya.


" Maaf, aku permisi dulu." Ben pergi meninggalkan Tamu-tamunya.


***


Samanta memegang pesawat telepon dengan tubuh masih bergetar menangis.


" Hallo, sayang ada apa?. Apa kau baik-baik saja" terdengar suara Ben suaminya cemas.


" Dia sudah pergi sayang...hiks...Katty sudah...pergi..."


Samanta menangis keras. Mengingat semua penderitaan yang harus di alami temannya. Samanta meletakkan kembali pesawat telepon dari meja perawat. Dan berlalu dengan lemas menuju ruangan yang terdapat tubuh Yang sudah tak bernyawa. Di samping ranjang itu, terdapat box dengan bayi mungil yang tersenyum manis. Bayi yang tidak tahu bila ibunya sudah pergi meninggalkannya untuk selamanya.


.


.


.


Tak lama kemudian Ben sudah datang, dan langsung memeluk tubuh istrinya yang pucat dengan mata bengkak. Ben mengelus pelan punggung istrinya, ia sangat mengkhawatirkan istrinya dan bergegas menuju Rumah sakit , tanpa menyadari kedua tamu yang ia tinggalkan dengan terburu-buru tadi mengikutinya ke Rumah sakit.


Samanta melepaskan pelukannya saat ia menyadari ternyata suaminya tidak sendiri.


"Sayang, mengapa kau mengajak mereka kesini."


Ben yang binggung dengan ucapan istrinya mengerutkan keningnya. Ternyata Albert dan Tatiana sudah berada diruangan yang sama. Menatap tak percaya tubuh tak bernyawa seorang wanita.

__ADS_1


"Dia kenapa? apa dia tidur?" Ana bertanya dengan dingin belum menyadari bahwa wanita itu sudah pergi ke alam yang berbeda.


"iya, dia tidur....untuk selamanya." Samanta mengerjabkan matanya yang teraliri air mata.


" Kau BOHONG! dia hanya tidur!" teriak Ana keras kepala. Sedangkan Albert berdiri kaku dengan wajah pucat pasi, saat tahu wanita yang ia cintai telah pergi.


" Katty bangun... BANGUN!" Tatiana berteriak histeris sambil menangis dan mengguncang tubuh tak bernyawa itu. Teriakannya seketika membuat sosok mungil di samping terkejut dan menangis.


Owaa...Owaa...Owaa...


Samanta merengkuh bayi cantik dan mungil itu dalam pelukannya dan menimangnya perlahan. Namun, tak juga meredakan tangisannya.


"ssshuutttt...ssshuut...sayang... Clara sayang..."


Tatiana menoleh menatap bayi dalam gendongan Samanta. Rambut dan matanya berwarna coklat sedangkan wajahnya.Ya Tuhan! wajahnya sangat mirip dengan pria yang kini berwajah pucat dan bersandar di dinding untuk menopang tubuhnya.


Plak!


Tatiana menampar suaminya. Ia begitu di liputi amarah. Dulu, Karena menyelamatkanya dari sebuah insiden di masalalu Katty mengalami kerusakan pada ginjalnya. Dan ia tidak diperbolehkan hamil karna akan sangat beresiko. Sedangkan ilmu kedokteran saat ini belum begitu maju. Bertahun-tahun tahun Katty menunggu donor ginjal, namun nasib belum berpihak padanya.


" Cukup Ana!, jangan membuat keributan disini. Katty harus segera di makamkan."


Dan taknlama kemudian jasad Katarina Rein di makamkan. Dan setelah melalui perdebatan yang panjang bayi kecil yang bernama Clara Rein pun harus Samanta relakan untuk diasuh Keluarga Jhonson.


Flasback off


***


" Bagitulah, ceritanya...aku ada karna kesalahan. Aku bukan anak yang diingankan." Milly memeluk tubuhnya yang tiba-tiba terasa dingin. Masih banyak hal dan cerita yang panjang.


" aku akan menceritakan padamu lagi lain kali." Milly memasuki kamar dan membaringkan tubuhnya. Butiran bening membasahi kedua matanya, sudah lama ia melupakan masa lalunya. Melupakan bahwa ia adalah sosok yang tidak diinginkan!


Max memeluk tubuh istrinya yang terlihat sangat rapuh, ia tahu istrinya itu sedang menangis dalam diam. Max merasa bersalah karena harus mengorek luka lama. Tapi, ia harus tahu. Agar tidak ada lagi kebohongan yang akan mengganggu masa depan mereka.


****

__ADS_1


Jangan lupa like n votenya ya guys...Terima Kasih...🤗


__ADS_2