
AUTHOR POV
*************
Sholik berlari saat jam istirahat setalah dia menerima panggilan dari telepon, itu membuat beberapa tenan dekatnya penasaran apa yang sudah terjadi sebenarnya? Wajahnya sangat panik, penuh kekhawatiran dan kecemasan. Dia berlari menuruni anak tangga yang lantainya baru saja di pel oleh anak-anak yang tadi pagi berangkat telat lalu di hukum oleh guru BK di sekolah itu. Saat Sholik tengah berlari menuruni anak tangga yang masih basah dan licin dia melihat Bu Intan, guru baru yang saat sedang menaiki anak tangga. Karena saat itu Sholik sedang buru-buru, dia tidak sengaja terpeleset.
"BRUAK"
Sholik terjatuh dan jatuhnya ke arah Bu Intan si guru baru tersebut. Posisi Sholik tepat di atas Ibu Intan dan tidak di sengaja mereka berciuman bibir bertemu dengan bibir. Untungnya kejadian itu tidak di ketahui oleh orang lain dan mereka berdua merahasiakan peristiwa yang baru saja terjadi.
Saat ini Sholik berada di sebuah Rumah Sakit karena adiknya yang masih duduk di bangku SMP baru saja mendapat perawatan akibat kecelakaan lalu lintas. Tubuhnya di penuhi luka, pada kakinya penuh dengan lilitan perban. Walaupun sudah di Rumah Sakit dan menemui adiknya dalam pikirannya, Sholik masih saja terbayang-bayang dengan ciuman pertamanya yang sempat di curi oleh guru baru secara tidak sengaja tadi. Sholik melihat adiknya yang saat ini belum sadarkan diri.
"Kayaknya gue sementara ini nggak kesekolah dulu deh sampai Alena sembuh, kalo bukan gue siapa lagi yang akan merawat Alena? Soalnya Papa sama Mama selalu sibuk dengan pekerjaanya dan mereka gak bisa pulang kalo misalnya nanti gue panggil pengasuh atau asisten pribadi buat Alena gimana ya? Bisa sih kayaknya tapi masalahnya gue gak yakin dan nggak percaya sama pengasuh gue takut jika Alena kenapa-kenapa" batin Sholik kebingungan
"Kakak... " Alena sudah sadar, dia memegang tangan Sholik
"Iya sayang kamu sudah bangun? Pasti lukanya sakit banget" Sholik merasa sedih melihat kondisi Alena
"Nanti juga sembuh kok Kak, Kak Sholik gak usah khawatir. Alena minta maaf ya Kak, Alena kurang hati-hati soalnya" kata Alena
"Tidak apa-apa Alena, saat ini yang terpenting adalah kamu masih di beri kesempatan untuk menikmati hidup" ucap Sholik memeluk Alena
"Iya Kak" Alena
Sholik melepaskan pelukan Alena "Alena, mau makan atau mau minum?" tanya Sholik
"Aku mau minum Kak" Alena
"Hmm jadi Alena haus ya?" Sholik mengambilkan minuman dan meminumkanya kepada Alena
"Sudah?" Sholik
"Iya sudah kak" Alena
Sholik duduk kembali
"Aku nanti bisa jalan kan Kak?" tanya Alena sedih
__ADS_1
"Tentu saja! Alena pasti bisa jalan, berlari, melompat, menari" jawab Sholik
"Kakak akan merawatku?" tanya Alena lagi
"Iya Alena, Kakak akan merawat Alena dengan baik" jawab Sholik
"Lalu bagaimana sekolah Kakak?" tanya Alena
"Tidak apa-apa Alena" Sholik
Sholik sangat menyayangi adik satu-satunya itu. Karena selama ini adiknya lah yang memasak untuknya setiap hari, membersihkan kamarnya, dan mengerjakan seluruh pekerjaan rumah. Alena adalah adik Sholik yang sangat rajin, dia pintar, di sekolah adiknya selalu dapat peringkat pertama. Dan saat ini Alena masih kelas 9 SMP rencananya setelah lulus Alena mau sekolah yang sama dengan Kkaknya (Sholik)
Hampir seharian ini Sholik tidak membuka atau mengecek akun media sosialnya karena sibuk mengerjakan pekerjaan rumahnya, selain itu dia juga harus bolak-balik ke rumah sakit untuk mengurus Alena sang adik. Pada malam ini Sholik melihat adiknya yang tertidur lelap. Setelah itu karena dia merasa sedikit luang, Sholik menghidupkan hp dan laptopnya yang selalu di bawa kemanapun dia pergi.
"Sialan, gue masih saja kepikiran sama dia" batin Sholik dengan kesal.
Kemudian Sholik mengotak-atik laptopnya.
Itu adalah hal biasa, jadi kalau dia sudah pegang laptop ujung-ujungnya ya nge stalking kalau enggak ya nge hack. Tiba-tiba saja tanganya berhenti dan matanya fokus membaca sesuatu di layar lapotopnya. Mata Sholik terbelalak melihat apa yang di bacanya.
"Zen, rumah sakit Mawar Indah kamar VIP No 17, sekarang!" ucap Sholik dengan singkatnya lalu menutup hp-nya.
###### Zen Kurnia POV###
Malam ini tadi gue tuh udah sampai di rumah Nakirara kesayangan gue, eh malah Sholik nelpon gue dan untungnya saat itu gue belum masuk ke kamarnya Nakirara. Waktu itu gue masih di luar rumahnya. Kalau saja misalnya gue udah masuk dan ketemu sama Nakirara lalu Sholik nelpon dan nyuruh gue pergi ke tempat yang udah di sebutkan, gue gak segan-segan memecat dia yang awalnya sahabat gue jadi musuh gue. Ya mau gimana lagi gue bukan orang yang suka di ganggu saat sedang menikmati moment kebersamaan. Kecuali kalau hal itu sangat penting. Anjir, gue ngomong apa sih gak jelas banget.
Saat itu gue langsung naik ke mobil gue dan ngegas ke rumah sakit dan nemuin dia. Perasaan gue gak enak nih, dia sakit atau gimana gue gak tahu. Sesampainya di rumah sakit, gue cari kamar yang di sebutkan sama dia tadi. Karena gue pinter tentu saja gue ingat.
"Shol?" panggil gue sambil masuk ke dalam kamar itu dan gue melihat ada Alena adiknya Sholik yang sudah tidur di ranjang dengan keadaan yang sangat cukup parah.
Sholik menutup laptop dan hp-nya lalu menarik gue keluar. Kami duduk di luar dan diam sejenak.
"Alena kenapa?" tanya gue
"Dia kecelakaan tadi" jawab Sholik
"Lo yang sabar ya, dia pasti sembuh kok" gue
__ADS_1
"Iya Zen. Gini gue mau ngomong rahasia besar sama lo, langsung saja ya nggak usah banyak bacot. Tadi gue saat dapat kabar mengenai Alena yang kecelakaan gue langsung lari ke rumah sakit. Lo tahu kan tadi gue buru-buru? Saat itu lantainya licin banget karena baru di pel. Nah saat gue menuruni anak tangga gue liat Bu Sexy naik ke tangga" Sholik
"Bu seksi siapa? Maksud lo guru baru itu ya?" tanya gue. Agak gimana gitu mendengar kata "Bu Sexy"
"Iya, karena anak tangganya tadi ikutan di pel dan gue buru-buru gue gak sengaja terpeleset lalu nabrak dia dan kami berdua jatuh" Sholik
"Wah wah wah menang banyak dong kamu" tanya gue
"Begitulah, gue jatuh di atasnya tepat dengan kondisi sudah berciuman bibir bertemu dengan bibir, lu tau nggak rasanya? Manis banget, selain itu kenyal, lembut banget pokoknya, tubuhnya juga harum dan hangat aduhhhh mantap lah" Sholik
"Anjir" gue
"Dan barusan gue cari tau tentang dia" Sholik
"Terus apa yang lo dapatkan?" tanya gue
"Jadi gini, sebelum dia jadi guru itu dia adalah seorang wanita penghibur di club malam dan yang menemani di hotel gitu" Sholik
"Tinggal bilang lon-T kenapa sih susah amat" gue
"Begitulah, lu bisa kan jaga rahasia ini?" Sholik
"Enggak" gue
"Anjg!" Sholik
"Bisa, tenang aja. Percayakan semuanya ke gue, kalo misalnya lo jadi pacarnya mungkin lo dikasih gratisan sama dia" ucap gue
"Bisa jadi begitu. Oh ya gue gak bakal masuk sekolah sampe adek gue sembuh" Sholik
"Perlu gue buatin surat?" tanya gue
"Nggak usah, gue ada rencana lain" Sholik
"Gue jadi penasaran apa yang lo rencanakan Shol" gue
To be continue
__ADS_1