
Zen Kurnia POV
Sialan tuh anak lama banget gue sampe jamuran di pertigaan deket sama pemakanan umum nih. Biar apa lu tau? Biar kalo misalnya gue atau dia yang mati tinggal ngubur aja di sana!
Ya sambil nungguin dia, hampir setengah jam gue mabar sama temen gue si Anton dia di apartemen sementara gue duduk di kursi taman yang ada di pinggir jalan.
Nggak lama kemudian gue melihat ada sekelompok anak gadis jalan kaki bareng - bareng lewat di depan gue, kayaknya itu siswa dari sekolahnya dia yang baru saja di pulangkan. Nah gue perhatiin mereka sampe jauh kemudian gue lihat ke arah lainnya dan akhirnya gue bisa menangkap keberadaan si keparat Nakirara dari kejauhan.
Kali ini gue sama dia udah saling berhadapan dan menatap satu sama lain, sialaaan cantik juga lihat versi aslinya njir. Kadar manisnya tinggi banget lagi. Kayaknya gue suka deh sama dia...
"Siapa lu?" Nakirara
"Zen Kurnia" gue
"Hai, Zen? Ada perlu apa? Kenapa lu menghalangi jalan gue? Ada masalah sama gue? Minggir dong, gue mau lewat" ucap Nakirara yang agak kesal sama sifat gue.
"Gue mau bales dendam buat yang kemarin malam, gue pengen balikin tendangan lu" gue
"Yaampun Zen, cowok macam apa lu? Lu mau nendang seorang cewek? Eh Zen dimana harga diri lu" Nakirara ngejekin gue njir sialan.
"Gue gak peduli lu cewek, cowok, tomboy, atau pun banci, yang jelas... "
"Bugh"
gue nendang Nakirara dan tendangan gue sama persis dengan tendangan dia yang kemarin malam itu. Nakirara jatuh dengan memegangi perutnya karena kesakitan.
"Maaf ya. Gue harap lu terima dengan semua ini dan tidak membesarkan-besarkan masalah ini ke semua temen-temen preman lu itu" gue
"Hiks... Hiks... Hiks... He.. He... He... He... He.... He... Jahat! Lu tau nggak sih apa yang lu lakukan? Harusnya lu tuh nyadar nggak egois kayak gini he...he...he...he...dasar cowok yang nggak punya belas kasih sama sekali" Nakirara
Dia menangis kemudian berdiri dan terjatuh, gue ngerasa bersalah banget saat itu karena menendang dia sampe gak bisa berdiri njir. Bangs*t gue bisa di laporkan nih kayaknya.
"Huaaaaa...ha...ha...ha...ha...ha...ha... "
Tangisan dia semakin keras anjing, semua pada ngeliat ke arah gue sama dia.
Tanpa basa-basi gue langsung mengangkat dia yang gak bisa berdiri itu dan ASEM BERAT BANGET tapi gak masalah deh.
"Apa yang lu lalukan?! He...he...he..he..." ucap Nakirara dalam tangisnya
"Sudah diam, jangan banyak gerak elu tuh berat tau nggak" gue emosi. Perasaan tubuhnya kecil deh, atau jangan-jangan gue nya ya yang kurang olahraga? Waduh kayaknya harus nge-gym atau fitnes sih gue.
Habis itu gue nganter dia sampe rumahnya, gue bantu lah dia duduk di dalam.
__ADS_1
SIALAN kok gue malah kayak gini sih ke dia? Gue kenapa sih?
"Sekali lagi gue minta maaf. Kalau lu nggak maafin ya sudah gue gak peduli sih. Dan gue gak masalah kok kalo lu benci ke gue" gue pergi
Sesampai di apartemen gue masih kepikiran sama kejadian tadi. Entah kenapa hari ini gue lemes banget biasanya sepulang sekolah gue nonton bok*p Jepang atau Korea entah kenapa hari ini gue beneran nggak ada selera buat gituan.
"Zen lu kenapa ngalamun terus? Lu kesambet apaan di jalan tadi?" Yuki penasaran melihat gue
"Tadi gue ketemu sama gerandong" ucap gue yang masih kepikiran sama si Nakirara.
"Zen ini bh siapa?" Jeno melempar bh ke gue
"warnanya putih dan kalo di pikir - pikir cara memakainya di ikatkan ke leher" kata Jeno lagi
"Kalo nggak salah ini milik Yuki" jawab gue santai melempar kembali bh itu ke Jeno
"Apa? Apa yang punya gue apa? Ha aku dengar tadi punya gue?" Yuki datang setelah mendengar namanya di sebut
Jeno langsung melempar bh kepada Yuki "Lu kan setengah perempuan? Nih bh lo simpen baik-baik, ntar hilang bingung lagi" ucapnya Jeno
"Iya gue setuju sama Jeno, simpen baik-baik!" tambah Sholik
"Anjing, kalian semua!" Yuki
"Gue gak pakek ginian bangsat! Siapa sih yang nemu? Gue yakin pasti salah satu di antara kita yang bawa nih barang dan nggak ada yang ngaku" Yuki
"Yaelah tinggal bilang iya itu bh gue kenapa sih susah banget" Jeno
Yuki, yang merasa kesal langsung mengikat lehernya Jeno dengan bh yang di lempar ke arahnya tadi.
Jeno langsung panik karena takut di bunuh sama Yuki. Padahal niatanya Yuki cuma bercanda buat nakutin Jeno tapi bisa berakibat fatal juga sih.
"Yuki... Yuki... Yuki... Woy... Tunggu! Oke gue minta maaf, gue tarik semua ucapan gue tadi"
Yuki langsung melepaskan tangannya "Buka sendiri"
"Teman-teman, tenang dulu... Aku akan menjelaskan semuanya. Tadi itu saat pulang sekolah aku di panggil sama Bu Riska yang baru saja melatih renang adik kelas kita. Nah Bu Riska berpesan kepadaku supaya di sampaikan kepada teman-teman yang lain kalo besok kelas kita libur untuk berenang. Stelah itu aku kembali tiba-tiba aku melihat ada pakaian yang tergeletak aku berpikir itu pakaian siapa, tiba - tiba sekelompok adik kelas yang baru saja ganti baju lewat dan mereka melihat itu kemudian mereka memperebutkan ehem... Itu tadi " jelas Anton
"Dan lu ikut-ikutan berebut bh?" Sholik
"Nggak Sholik, kok kamu nuduh aku sih? Orang aku di kasih sama mereka kok yaudah aku bawa pulang" Anton
"Ngapain di terima cooook?" Jeno
__ADS_1
"Lalu buat apa lu mau di kasih ginian?" Yuki
"Ehem, sebenarnya itu milik Siska anak kelas 12 IPS tak heran adik kelas kita yang punya selera nonton BF tingkat dewa memperebutkan semv*k dia" sahut gue
"Siska juga cantik dan seksi banget sih" Yuki
Lebih cantikan Nakirara - batin gue
"Kok lu tau sih Zen? Atau jangan-jangan...?" Sholik
"Jangan-jangan" Jeno
"Jangan-jangan 3" Anton
"Jangan-jangan? 183620204629" Yuki
Anjir author sama reader gak bisa ngitung
"Jangan... Jangan... Jangan... Please jangan... Jangan... Jangaaaannn tolong jangaaan" Anton teriak-teriak
"Brisik... Lu kayak mau di perkosa secara paksa tau nggak! Gue tau soalnya gue tadi ngeliat dia berantem sama adik kelas dan menaruh pakaian di situ habis itu gue liat isinya... mungkin dia lupa ngambil" gue
"Kenapa nggak lu bawa pulang aja dan lu cuci terus kembalian besok pagi?" Yuki
"Najis banget dia bukan tipe gue ambil aja kalo lu suka" gue
Kalau itu punya Nakirara gue sih mau-mau aja tapi buat apa coba?
Author pov
____________
20.17
Hp milik Nakirara berbunyi, dia mendapat panggilan dari rekan sebangkunya. Nakirara menjawab panggilan telepon itu
"Halo ada apa?" Nakirara
"Na besok kita nggak bisa belajar di sekolah kita, proses belajar kita bakal di gabung sama anak sekolah lain" Mita
"Apa? Emang kenapa Mita? Kenapa sekolah kita?" Nakirara
"Hari ini ada kebakaran di sekolah kita" ucap Mita sedih lewat telepon
__ADS_1
Nakirara kaget dan langsung pingsan mendadak