Strange Courtship

Strange Courtship
Bagian 22


__ADS_3

AUTHOR POV


■■■■■■■■■■■■


Sudah satu minggu ini Sholik nggak masuk sekolah tanpa izin. Hp-nya juga nggak aktif, sehingga teman-temannya serta para gurunya tidak bisa menghubungi Sholik. Mereka semua juga sering bertanya kepada teman-teman dekatnya di antaranya yaitu Zen, Yuki, Jeno, Anton tapi mereka malah menjawab tidak tahu. Padahal sebenarnya mereka itu tahu alasan Sholik tidak masuk tapi mereka semua kompromi untuk tidak memberitahu atas permintaan Sholik sendiri.


Mengenai Bu Intan, dia juga ingin tahu apa yang terjadi pada Sholik. Bu Intan sangat penasaran apa yang membuat Sholik tidak masuk sekolah semenjak kejadian sebelumnya (Author: jika tidak tahu lihat chapter 20)


"Apa Sholik gak masuk gara-gara aku ya? Tapi kan waktu itu gak di sengaja. Dia juga salah karena gak hati-hati" batin Bu Intan


Kini guru-guru di kantor sedang membicarakan Sholik, siswa yang meraih peringkat 3 paralel di sekolah setelah Anton. Ya, Sholik tidak masuk selama seminggu padahal waktu belajar kelas 12 sangatlah singkat. Mereka (para guru) berdiskusi dalam menentukan siapa yang akan datang ke rumah Sholik untuk mencari tahu apa yang terjadi, namun setiap guru yang di tunjuk oleh Pak Kepsek justru membuat berbagai macam alasan untuk menolaknya. Dan akhirnya Bu Intan mengajukan diri untuk pergi ke rumah Sholik. Dan akhirnya sepulang sekolah Bu Intan bertanya kepada Zen mengenai alamat rumah Sholik, Zen memberikannya. Setelah itu bu Intan pergi ke rumah Sholik.


Zen Kurnia POV


▩▩▩▩▩▩▩▩


Gue, Jeno, Anton, mengikuti Bu Intan secara diam-diam. Entah kenapa teman gue si tukang cukur maksud gue Yuki nggak mau ikutan. Nah, sekarang Bu Intan sudah ada di depan rumah Sholik dan dia sudah mulai ketok pintu dan tekan tombol bel rumahnya. Gak lama kemudian Sholik membuka pintu rumahnya dan mengajak Bu Intan masuk ke dalam. Sementara itu gue sama temen gue Anton, dan Jeno langsung berlari dan naik ke lantai dua kamar sholik dengan menggunakan tali yang sudah kami siapkan sebelumnya. Sesampai di kamar Sholik gue pergi ke lokasi mereka berdua saat ini dengan berjalan mengendap-endap.


"Njir ini benda apaan ya?" kata Jeno memegang benda aneh di kamar Sholik


"Itu bukanya celengan yang terbuat dari tanah liat ya?" tanya Anton


"Oh, gue gak pernah tahu beginian. Ini pertama kalinya gue lihat benda kayak gini" Jeno


"Brisik banget kalian, nanti kita bisa ketauhan cok" gue


Sekarang gue sudah melihat mereka di ruang tamu dari jendela ruang keluarga Sholik. Mereka berdua duduk cukup dekat, dan masih diam satu sama lain.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Bu Intan


"Ya beginilah" jawab Sholik


"Kenapa kamu nggak masuk?" tanya Bu Intan   secara terus terang


"Bukan urusanmu" Sholik


"Bangsat, ngomong sama guru gak ada bedanya sama temen sendiri loh" Jeno Ikut mengintip

__ADS_1


"Kalau kita sampe ketahuan siap-siap lo bakal gue eksekusi Jen" ucap gue dengan suara samar-samar dan mata gue masih fokus sama mereka. Lalu Jeno langsung membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri.


"Setidaknya kamu ngasih alasan soal itu, Pak Kepala Sekolah sempat khawatir sama kamu Sholik, guru-guru yang lain juga ikutan cemas" Bu Intan


"Aku merawat adikku, dia sakit. Aku tidak bisa meninggalkan dia sendirian, dia tidak bisa di tinggal" Sholik


"Begitu ya. Bolehkah aku melihat kondisi adikmu?" Bu Intan


Sholik, mengajak Bu Intan ke kamar Alena. Sesampainya di sana mereka melihat Alena yang saat itu sedang membaca sebuah novel. Gue, Jeno, dan Anton juga sempat ngikutin mereka tapi nggak sampe masuk kamar Alena sih.


"Alena, ini Bu Intan. Guru Kakak" kata Sholik memperkenalkan Bu Intan dengan adiknya.


"Hai Alena" Bu Intan melambaikan tangannya dengan ramah


"Hai Bu Intan" jawab Alena


"Kamu gimana keadaannya?" tanya Bu Intan yang kemudian duduk di sebelahnya Alena


Tiba-tiba Sholik melihat ke arah gue sama temen gue yang lain. Dia kaget dan agak kesel juga kayaknya. Sementara itu Bu Intan masih sibuk ngobrol dengan Alena adiknya Sholik. "Asem, kalian ngapain di sini hah?" kata Sholik ke gue, Jeno, Anton tanpa suara.


"Pyar"


"Biasa Bu kucing nakal" jawab Sholik dengan santai


Waktu itu temen gue Jeno gak sengaja menjatuhkan guci bunga yang berukuran kecil. Kemudian gue narik Jeno dan Anton untuk balik ke persembunyian di ruang keluarga sambil ngintipin mereka.


Setelah Bu Intan dan Alena berbicara banyak kemudian Bu Intan kembali ke ruang tamu dan kembali mengobrol berdua bersama Sholik.


"Sholik aku mengerti bagaimana perasaanmu terhadap kondisi adikmu saat ini, tapi kamu juga harus berpikir bahwa saat ini kamu itu sudah kelas 12 dan... " Bu Intan


"Iya aku tahu" jawab Sholik memotong ucapan bu Intan agak kesal


"Baiklah" Bu Intan


"Maaf jika aku bersikap seperti ini sama Ibu, aku akan berangkat ke sekolah beberapa hari lagi" Sholik


"Oke, kalo begitu Ibu pulang dulu" Bu Intan berdiri dari tempat duduknya

__ADS_1


"Bu Intan" panggil Sholik


"Iya?" tanya Bu Intan melihat Sholik


"Jadikan aku pacarmu" ucap Sholik terang-terangan


Entah kenapa saat itu gue dan yang lain merasa melihat mereka itu seperti sedang nonton drama Jepang terbaru secara langsung di lokasi syuting.


"Apa? Sholik apa sih yang kamu bicarakan?" Bu Intan masih tidak percaya mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Sholik


"Aku mencintai kamu sejak pandangan pertama kita bertemu di tambah lagi dengan ciuman yang tidak kita sengaja waktu itu membuatku semakin terganggu dan selalu memikirkanmu Bu Intan" Sholik


"Sholik" lirih Bu Intan


"Aku tahu semuanya tentang kamu Bu Intan. Aku paham betul kamu lahir tanggal 10 Febuari 1997 kamu lulusan S2 kan? Jurusan biologi? Tapi sebelum kamu jadi guru kamu adalah wanita penghibur dan kamu juga bekerja sebagai pramu nikm*t" Sholik


Tiba-tiba bu Intan meneteskan air matanya dan terduduk lemas di lantai karena teringat kembali masa lalunya. "Bagaimana kamu bisa tahu semua tentang diriku Sholik? Kamu menyelidikinya? Jika benar berarti kamu sudah tahu kisah kelamku, aku bukan wanita yang baik-baik" ucapnya Bu Intan dalam islak tangisnya.


Jeno saja sampe menghabiskan banyak tisu di ruang keluarga.


"Aku lulus S1 itu di usia 17 tahun, aku kuliah belum cukup umur. Saat itu aku menjadi seorang sarjana S1 termuda dengan nilai terbaik. Semua orang berkata bahwa aku sangat cerdas. Kemudian saat aku mulai menempuh pendidikan S2, aku bergaul dengan orang-orang yang tidak baik, bisa di bilang aku salah pergaulan. Saat itulah aku... Aku... Hehehehehehehe" Bu Intan menjelaskan semuanya dengan tangisan dan air mata.


Sholik duduk di dekatnya "Aku tidak peduli masa lalu kamu itu seperti apa. Aku menerima semua yang ada padamu. Aku menerimanya apa adanya, bahkan masa lalu kamu. Aku tidak akan pernah mempermasalahkannya. Kamu adalah Bu Intan saat ini, Bu Intan yang baru dengan kisah baru yang lebih baik" ucap Sholik


Bu Intan melihat Sholik dan berhenti menangis, Sholik menghapus air mata di wajahnya. Sholik memegang kedua tangan Bu Intan. "Bu Intan, jika aku menjadi pacarmu semua rahasiamu akan aman di sekolah" Sholik


Bu Intan hanya diam


"Bu Intan, aku sungguh sangat mencintai Bu Intan, aku ingin menjalin hubungan yang serius dengan Bu Intan. Bu Intan mau kan?" Sholik


Kemudian Bu Intan menganggukkan kepalanya, yang menandakan kalo dia mau menjadikan Sholik pacarnya.


"Sholik mau ngapain tuh" ucap gue pelan dan masih fokus sama mereka.


Kemudian Sholik dan bu Intan berciuman. Setelah itu Sholik memeluk bu Intan dengan erat. Dalam pelukannya Sholik melihat gue, Jeno, sama Anton dan kami ngasih acungan jempol buat dia.


(Author: anggap saja di bawah ini adalah Bu Intan)

__ADS_1



...


__ADS_2