
"Dok-Dok-Dok" Zen mengetuk jendela kamar Nakirara (Kira) yang ada di lantai dua. Sedangkan Nakirara sendiri saat itu sudah berencana untuk tidur dia sendiri juga sudah menggunakan kimono tidur pendeknya se paha. "Dok-dok-dok-dok-dok" Zen mengetuk jendela kamarnya sekali lagi, kali ini terdengar agak keras di telinganya Nakirara.
Nakirara dengan raut wajah yang sedikit kesal menggeser korden kamarnya itu, di lihatnya Zen yang tersenyum ke arahnya sambil melambaikan tangannya. Sepertinya laki-laki itu terlihat sangat puas melihat Nakirara yang kesal dan panik setengah mati.
Mereka masih bertatapan, pemuda itu merasa bahwa gadis yang ada ada depanya terlihat begitu imut dan menggemaskan saat sedang marah. Kemudian Zen menelpon Nakirara.
"Sayang buka jendelanya, atau aku lewat pintu depan nih?" Zen
Nakirara yang merasa tidak punya pilihan lain pun membuka jendelanya. Zen mematikan teleponnya dan langsung masuk ke dalam kamarnya Nakirara sembari berkata "Terimakasih banyak nona premanku"
"Bruak"
Zen langsung tidur terlentang di tempat tidur Nakirara
"Dasar cowok gak tahu sopan santun" ucap Nakirara pelan
"Aku kan suami kamu sendiri" Zen
"Lain kali kalau mau datang tuh tahu waktu! Kabari dulu, jangan mendadak kayak gini! Kamu kenapa sih mengganggu kehidupan aku terus?" keluh Nakirara yang merasa lelah atas sikap Zen "Sekarang jelaskan, apa tujuanmu datang kemari" Nakirara bersandar di tembok kamarnya sambil menatap Zen
Zen bangun dan berdiri di depan Nakirara
"Kira" panggil Zen
"Apa?" Nakirara
Mereka saling melihat, kali ini tatapan mata Zen begitu dalam dan benar-benar serius.
Ini pertama kalinya aku melihat Zen seserius ini, Nakirara coba ingat kamu pernah buat salah apa sama dia sebelumnya? - ucap Nakirara dalam hatinya sendiri Nakirara
"Aku suka sama kamu. Aku mencintaimu Kira. Kumohon jadilah pacarku" ucap Zen blak-blakan
Nakirara ( Kira) cuma mematung dan kaget banget saat itu. Dia masih gak percaya bahwa Zen sudah menyatakan cinta kepadanya.
"Kayaknya lu kelelahan deh Zen? Lu pasti tadi dari tempat karaoke iya kan? Habis berapa botol kamu?" tanya Nakirara
__ADS_1
Zen, sudah menduga bahwa Nakirara tidak akan percaya dengan dirinya. Dia sendiri juga sudah menyiapkan mentalnya jika Nakirara menolak cintanya.
"Mending sekarang lo pulang dulu dan tidur. Sebelum pulang gimana kalau lo minum dulu? Soalnya lo udah repot-repot dari tempat karaoke mampir ke sini buat nyapa gue, pasti lo haus iya kan? Gue ambilin ya?" Nakirara
"Gregh"
Zen langsung menarik Nakirara ke dekapannya, dengan lancangnya dia mencium bibir gadis itu. Kemudian Zen melepasnya kali ini Nakirara tercengang dan tidak bisa berkata apapun, jantung Nakirara berdetak kencang bahkan sangat kencang.
"Mungkin kamu sulit mempercayai hal ini. Aku sendiri juga tidak tahu, sejak pertama kali aku bertemu denganmu aku merasa sangat kesal tapi di sisi yang lain aku merasa bahwa aku ada rasa suka sama kamu. Semakin hari perasaan itu semakin kuat. Aku gak bisa membohongi diriku sendiri lagi" jelas Zen
Nakirara mendorong Zen pelan setelah itu memegangi kepalanya di bagian samping dengan kedua tangannya dan mata terpejam.
"Dasar, jadi kau datang kesini cuma untuk itu? Gue pikir lu cowok yang romantis dan tau diri" Nakirara
"Apa?!" Zen nggak ngerti
"Harusnya lu tau tentang situasi dan kondisi saat mau nembak cewek" Nakirara
"Iya... Gue sengaja nembak lo di jam segini biar tenang, nggak ada yang ganggu. Selain itu gue bisa melampiaskan semua perasaan cinta gue ke lo" Zen
"Terserah lu saja, tapi tadi itu ciuman ke..." Nakirara mendadak diam. Tadinya dia ingin mengatakan bahwa itu ciuman pertamanya tapi dia baru saja teringat bahwa dia sudah pernah mencium Zen sebelumnya melalui pemberian nafas buatan.
Wajah Nakirara langsung ngeblus berwarna merah
"Huft... Jadi apa jawaban lu" Zen
"Jujur gue beneran kaget banget sumpah dah..." Nakirara masih gak menyangka bahwa sekarang ada cowok yang sebelumnya bersikap kasar yang merenggut hatinya sekarang mendadak menjadi lemah lembut dan menyatakan cinta kepadanya.
"Namanya juga surprise" Zen
Gak ada romantis - romantisnya lagi, oh iya lupa kan dia cowok kasar dan sikapnya kadang suka juga gak jelas - batin Nakirara
iya baiklah, terimakasih" Nakirara menganggukkan kepalanya, Zen membuka matanya lebar-lebar karena itu adalah suatu kode bahwa Nakirara menerima cintanya Zen.
"Yoshaa" Zen dengan perasaan bahagia memeluk Nakirara erat
__ADS_1
"Anjir, Zen gue gak bisa gerak ini" Nakirara
"Maaf aku terlalu seneng" Zen melepas pelukannya
Zen Kurnia Pov
_________________
06.15
Kampret gue masih ngantuk njir gara-gara tadi malam, duh hari ini ada piket kelas lagi. Sholik, Jeno, dan Yuki sudah berangkat lebih dulu. Gue gak tahu kenapa mereka hari ini mendadak semangat banget ke sekolahnya.
"Anton, cepetan dong pakek bajunya" gue
"Iya udah selesai, gue pake kos kaki dulu ya" Anton mengambil kaos kakinya
"Pake di sana aja lah An" gue mengambil tas dan pergi lebih dulu
"Iya baiklah, tunggu Zen" Anton bergegas memakai sepatunya
"DER" Dia menutup pintunya sedikit kasar dan menguncinya lalu berlari mengejarku.
Hari ini gue resmi pacaran sama Nakirara, hanya saja Nakirara muinta supaya hubungan kami berdua di rahasiakan. Karena hubungan anak-anak sekolah SMA Utama (sekolahan gue) dan sekolahan dia (SMA Maju Jaya) sedang memanas, gue juga nggak tau kenapa dan apa yang terjadi sementara Nakirara gak mau cerita katanya kapan - kapan gue mau di ceritain.
Nah sekarang gue sama Anton udah sampe di sekolahan, tiba-tiba gue gak sengaja tuh tabrakan sama Nakirara di depan anak-anak geng flowers dan anak-anak yang lainya juga.
"My prince Zen, kamu nggak apa-apa kan?" Siska membantu gue bangun
"Makanya kalo jalan tuh lihat-lihat dong jangan asal nabrak" Nakirara
Maksudnya apaan nih? Gue ga paham sumpah. Oh iya gue ingat kan anak-anak di sekolah gue musuhan sama sekolahnya dia
"Kok lu nyalahin gue sih? Yang salah tu lo bukan gue! Lu tau baju seragam gue jahitnya di mana? Di China! Nyucinya aja ke Los angeles, nyerikanya ke Jerman! Detergen belinya di Arab tau nggak" gue
Gue bercanda, gua tahu itu gak lucu. Tapi omongan gue pura - pur kasar dan emosi ke dia, jujur saat itu gue pengen ketawa saat gue ngomong gitu. Dan yang benar saja Nakirara pergi menahan tawanya. Dalam hati gue sendiri gue juga ketawa.
__ADS_1
Dari situlah perang besar gelombang ke 2 antara anak-anak kelas 12 SMA UTAMA dan 12 SMA MAJU JAYA di mulai. Mengapa gelombang ke 2 karena tanpa sepengetahuanku gelombang pertama sudah di mulai sejak kemarin. Selama jam pelajaran di mulai gue beneran gak konsentrasi saat itu gue izin ke belakang tapi pada akhirnya gue ke UKS dan gue tidur di sana.
To be continue