Strange Courtship

Strange Courtship
Bagian 29


__ADS_3

********-------AUTHOR POV-------*******


Waktu terus berjalan, hari-hari mereka lalui dengan sangat baik. Sekarang ini adalah hari yang mana Zen Kurnia bersama teman-temannya yang lain menunggu pengumuman kelulusan. Kelulusan itu akan di umumkan melalui website sekolah mereka.


"Ini sudah waktunya kita cek sekarang ya" ucap Sholik, membuka laptopnya dan mengakses website sekolah mereka


"Hemmm... Gimana ya?" Yuki melihat laptopnya Sholik


"Sebentar, duh kok jadi ngelag gini sih" Sholik


"Gue gugub banget anjir" Jeno


"Gak usah gugup Jen, kita sudah pasti lulusnya" sahut Zen


"Aku coba buka pake hp ya" Anton mengeluarkan hp dari saku bajunya


"Iya buka saja An" Zen


Mereka memasukan nomor ujian mereka dan mengecek kelulusan di website resmi sekolah mereka. Dan hasilnya mereka semua lulus.


"Naaah apa gue bilang ini tuh sudah takdir kalo gue ini siswa terbaik dan gue juga yang lulus dengan nilai terbaik di sekolah ini" Zen menyombongkan dirinya dengan menunjukkan hasil ujiannya kepada teman-teman dekatnya.


"Wah wah wah selamat ya Zen" Anton merangkul Zen


"Bosen masih saja stuck di peringkat tiga. Susah banget ngalahin Zen" Sholik


Hari ini juga Zen mendapat panggilan kalau dia diterima dan biasiswa untuk kuliah di Jepang. Dan mengenai kabar itu Zen hanya merahasiakannya sendiri, dia juga mewanti-wanti Zinan supaya tidak membeberkan rahasianya itu kepada teman-teman dekatnya karena jika rahasia itu bocor sampai di telinga mereka bisa di pastikan bahwa kabar tersebut bisa sampai kepada Nakirara dan rencananya untuk membuat kejutan bisa gagal.


"Gue luluuusss peringkat 4 paralel lagi! Mama I love you aku pengen kuliah di Newyork sama Nisa tercinta" Yuki teriak-teriak


"Brisik lu kambing! Biasa aja bisa gak sih?!" Jeno


"Teman-teman gue pulang dulu ya?" Zen bangun dari tempat duduknya


"Kok mendadak pulang? Mau kemana sih Zem? Terus ntar malam kamu jadi ikutan pesta buat merayakan kelulusan kita gak?" tanya Sholik


"Gue mau kerumah pacar gue hari ini" Zen


"Oh... Okelah. Hati-hati Zen" Anton


"Iya" Zen


Sesampai di rumahnya Nakirara, Zen dan Nakirara mengobrol santai membicarakan banyak hal. Dia juga menanyakan apakah Nakirara jadi kuliah di Jepang atau tidak. Dan Nakirara menjawab kalo dia akan jadi kuliah di Jepang tepatnya di Osaka University. Sampai sekarang ini Nakirara juga belum tahu kalo Zen akan kuliah di tempat yang sama denganya. Yang Nakirara ketahui adalah Zen akan pergi ke Inggris dan kuliah di sana.


Sebelumnya Nakirara memang pernah mengatakan kepada Zen bahwa dia akan kuliah di Indonesia, rencananya Nakirara juga mau mengajak Zen untuk kuliah di Univ yang sama tapi setelah mendengar dari Zinan yang mengatakan bahwa Zen akan kuliah di Iggris akhirnya Nakirara berubah pikiran dan memutuskan untuk kuliah ke Jepang.


"Sepertinya aku akan berangkat besok, ya memang terlalu cepat sih. Apa kamu jadi ke Inggris?" tanya Nakirara


"Sepertinya jadi aku juga akan berangkat besok" Zen


"Aku berharap semoga kita sama-sama sukses" kata Nakirara


"Aku juga berharap sama" kata Zen


Dan malam itu Zen mulai menyiapkan keperluannya untuk pergi ke Jepang. Dia tidak menyangka bahwa Nakirara akan mengambil keputusan yang cepat dalam hal ini. Malam itu juga Zen mengubungi Sholik melalui panggilan telepon dengan mengatakan bahwa dia akan pergi ke Jepang besok.


"Iya aku serius" Zen menutup kopernya

__ADS_1


"Bangsat! Kok lo baru bilang sih anjer?!" Sholik kaget


"Ini rahasia cok! Pokoknya temen-temen gak boleh ada yang tau soal ini sekalian kita ber lima. Ya cuma gue elu, si Yuki, Anton, dan si soang Jeno oke!" Zen


"Tapi kenapa? Kenapa gue baru di kasih tahu sekarang goblok?!" tanya Sholik yang masih kesal


"Kalo gue ngasih tau elu di awal-awal takutnya rencana gue bisa ambyar dan semrawut Shol" Zen


"Oh gitu, jadi lo gak percaya sama gue ha?" Sholik


"Percaya lah Sholik!" Zen


"Terus kenapa baru bilang sekarang ha?" Sholik


"Gue pengen liat lo jantungan, dan buat lo kesal! Puas lo? Jangan banyak bacot ah" Zen


"Terserah lo aja deh! Yang jelas semangat ya kuliahnya, yang serius! Jangan nonton video ANU mulu kamu"


"Oke siap. Lo juga ya, jangan pacaran terus sama Intan" Zen


"Iya baiklah, ngomong-ngomong lo ambil jurusan apa?" Sholik


"Tekhnologi informasi dan komunikasi sih kayaknya. Kayak komputer-komputer gitu lah" Zen


"Padahal gue bisa ngajarin lo jadi hacker loh ngapain jauh-jauh ke Jepang sih cok" Sholik


"Oi, gue ke Jepang bukan buat jadi hacker" gue


"Okelah kalo gitu. Good luck" Sholik


"Lo juga ya" Zen


"Tau nggak Nakirara tadi bilang ke gue kalo udah 2 hari ini dia gak bisa tidur gara-gara mikirin lo" Zinan


"Brisik ah pendusta! ganggu orang istirahat aja lo" Zen


"Istirahat yang lama dan jangan bangun lagi! Lu gak guna kalo masih napas!" Zinan


"Yaampun Fais! Pergi lu dari sini?" Zen


"Apa lu bilang barusan?" Zinan


"Fais!" Zen


"Maksud lo apaan anjas?!" Zinan


"Lo gak bisa bohong ke gue, lo gak bisa menyembunyikan apa pun dari gue sekalipun gue gak di rumah atau udah wafat misalnya, gue bakal tau semua tentang elo ya wahai Fais" Zen


Ya diam-diam Zinan sudah berpacaran dengan Fais anak kelas IPA. Zinan kaget ternyata selama ini Zen sangat perhatian dan menyayangi dirinya, Zen juga sangat memahami Zinan. Zinan merasa kalo dia sangat beruntung mempunyai kakak seperti Zen. Perasaan Zinan perlahan-lahan mulai luluh dan dia heran terhadap dirinya sendiri kenapa dia baru menyadari kalo Zen perhatian, penyayang, asyik di ajak bercanda, pengertian dan memahami Zinan.


Tiba-tiba Zinan menangis dengan sendirinya, dia merasa sangat menyesal karena selama ini Zinan kurang bersyukur, dia tumbuh dengan penuh kasih sayang dari Ayah dan Bunda sementara Zen selama SMP dan SMA dia hidup mandiri di apartemennya bersama sahabat-sahabatnya dari anak-anak orang kaya yang bernasib sama. Tapi walau pun begitu mereka tumbuh menjadi anak yang baik bahkan mempunyai prestasi yang gemilang, Zen dan teman-temanya juga baik dan tidak menjadi anak yang nakal seperti anak-anak jalanan, mereka tidak menghambur-hamburkan uang, dan tidak berbuat sesukanya. Zinan sangat mengagumi mereka.


"Anjir kok lu nangis sih? Lu putus ya sama Fais?" tanya Zen


"Huaaaaaaaa" Zinan memeluk Zen "Besok lu pergi ke Jepang, dan gue... Gue sendiri lagi" Zinan


"Kan ada Fais?" Zen

__ADS_1


Di bawah ini adalah foto kebersamaan Zen dan teman-temannya



Author: anggap saja mereka Zen, Anton, Sholik, dan Jeno. Yuki nggak ikut karena dia yang ambil fotonya



Author: Sholik, Zen, Jeno, dan Anton. Yuki nggak ikut karena dia lagi gak mau di foto



Author: Itu Jeno Sholik dan Anton



Author: Kalau yang ini Yuki. Dia di foto sama Zen secara diam-diam



Author: Ini Yuki sama Zen



Author: Ini juga Yuki sama Zen


 


AUTHOR POV


keesokan harinya Nakirara sudah terbang ke Jepang dia sampai di sana sekitar siang hari. Selanjutnya hal yang di lakukan oleh Nakirara yaitu pergi ke asramanya dengan naik kereta super cepat dan setelah sampai di sana Nakirara menata barang-barangnya. Zen juga berangkat di waktu yang sama, waktu semua teman-temannya ikut mengantarkan Zen kebandara. Dia satu pesawat dengan Nakirara, Zen juga melihat Nakirara waktu itu tapi Nakirara tidak tahu mengenai Zen. Dan saat ini Zen juga sudah di asrama laki-laki untuk menata barang-barangnya.


"Untung Bahasa inggris gue cukup lancar dan fasih dan pas banget gue bisa ngomong Jepang, ini gara-gara gue sering nonton bok*p Jepang dulu dan sering nonton anime sehingga terinspirasi buat belajar bahasa Jepang sampe gue niat banget buat les privat dan ikutan JLPT berkali-kali supaya gue bisa nonton tanpa subtitle" batin Zen


Hari selanjutnya di Jepang tepatnya Osaka ada acara festival kembang api, malam itu juga bertepatan dengan ulang tahun Nakirara.


"Zen kira-kira bagaimana ya di inggris? Seandainya saja dia ada di sini? Apa Zen ingat kalo hari ini ulang tahunku?" batin Nakirara melihat kembang api yang menghiasi langit Osaka


"Kirei da nee"


Kirei da nee \= cantik ya


Nakirara melihat orang yang berkata seperti itu yang saat ini di sampingnya melihat langit Osaka yang indah dengan menggunakan Kimono (baju tradisional Jepang). Orang itu tidak lain adalah Zen yang kemudian tersenyum kepadanya.


"Zen?" Nakirara masih tidak percaya dengan orang yang baru saja di lihatnya.


"Konbanwa Nakirara" Zen


Konbanwa \= selamat malam


"Zen kamu di sini?" Nakirara


"Na, aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku gak bisa jika harus jauh-jauh dari kamu" Zen langsung memeluk Nakirara di tengah-tengah keramaian orang-orang yang tengah menikmati pemandangan di langit malam di penuhi kembang api yang begitu indah. "Selamat ulang tahun Nakirara" uap Zen dengan suara pelan


"Arigato gozaimasu Zen... " Nakirara


Zen melepas pelukannya dan kemudian dia mencium Nakirara

__ADS_1


------------------------ The End-------------------------


__ADS_2