
AUTHOR POV
▓▓▓▓▓▓
Zen, Jeno, Anton kemudian pulang kerumah masing-masing. Mereka berpisah di sebuah pertigaan. Setelah Zen sampai rumahnya dia kaget melihat Zinan dan Nakirara ada di sana.
Waduh ngapain Nakirara ada di sini juga? - batin Zen
"Eh Mas Zen yang paling ganteng sudah pulang ya? Gue udah panggil tukang kayu buat benerin pintu kamar lo" kata Zinan
"Tumben banget lo bawa temen ke rumah?" tanya Zen melihat Nakirara dan kemudian mengedipkan salah satu matanya sambil tersenyum.
"Tolong matanya di kondisikan dong, gusah bersikap genit sama temen gue" ucap Zinan kepada Zen
Kemudian Zen duduk di sebelah Zinan
"Ayo ngobrol, kenapa diam?" Zen
"Inilah sebabnya kalau aku nggak suka bawa atau ngajak teman ke rumah. Soalnya ada penghuni rumah ini yang suka mengganggu tamu yang datang" kata Zinan kepada Nakirara
"Emangnya gue hantu apa?" Zen pergi ke meninggalkan Zinan dan Nakirara. Dari kejauhan Zen melihat Nakirara. Sang pacar (Nakirara) melihat ke arah Zen, setelah itu Zem memberikan far kiss kepada Nakirara lalu Zen pergi ke kamarnya.
"Na, kenapa lo sampai pengen main ke rumah gue sih?" tanya Zinan
"Gue pengen kenal lo lebih deket lagi. Dan sebagai temen sebangku gue juga pengen tahu dimana rumah lo, apa itu salah? Gue harap suatu saat nanti lu juga pengen tahu rumah gue, dan kalo bisa sering-sering lah main ke rumah gue" Nakirara
"Begitu ya" Zinan
"Oh iya kalau boleh tahu, apa rencanamu setelah lulus?" tanya Nakirara
"Habis lulus kalau gak salah gue bakal kuliah di luar kota mungkin di Yogyakarta" Zinan
"Itu keren" Nakirara
"Kok lo mau jadi temen gue sih?!" tanya Zinan yang masih penasaran
"Entahlah aku ngerasa kalau kamu itu orang yang baik, teman-teman yang lain juga berpikiran kayak gitu. Mereka semua tuh ingin berteman sama kamu juga. Setiap kali melihat kamu duduk sendirian di kelas, pergi ke kantin sekolah sendirian, ke perpustakaan sendirian membuat mereka ingin mengajakmu juga tapi mereka takut sama kamu. Mereka juga takut jika kamu menolak ajakan mereka" kata Nakirara
Zinan tercengang mendengar apa yang di katakan oleh Nakirara "Mana mungkin aku menolak mereka untuk menjadi temanku? Ketakutan mereka mungkin saja di sebabkan oleh sikapku" kata Zinan
"Tok-tok-tok-tok-tok"
Terdengar suara ketukan pintu
"Kecebong buka pintunya!" ucap Zen keras dari kamarnya
"Brisisk lo kambing!" kata Zinan keras melihat ke arah kamar Zen
__ADS_1
Kemudian Zinan dan Nakirara bangun dari tempat duduknya untuk membuka pintu. Dan di luar sudah ada teman-temannya, Zinan cukup kaget melihat mereka yang datang bersama-sama kerumahnya.
"Nakirara? Lo di sini juga ya?" tanya Mita kaget melihat Nakirara
"Buset dah si Nakirara udah di sini lebih dulu ternyata" Tisa
"Emang kalian mau ngapain kemari?" tanya Nakirara
"Kami di suruh ke rumah Zinan sama Pak Kepala Sekolah. Ya kamu tahu kan kalau kami agak bermasalah dalam mapel MTK? Jadi kami di suruh untuk belajar ke Zinan mengenai pelajaran tersebut" Fais
"Katanya sih Pak Kepala Sekolah sudah bilang langsung sama Zinan" Beni
"Iya itu benar" Zinan memegang kepalanya walau tidak pusing, ya nampaknya dia merasa terbebani.
"Guru-guru juga bilang kalau Zinan itu bagus dalam bidang akademiknya" Andri
"Zinan, kami mohon padamu untuk mengajari kami" Nawang
"Zinan, cuma lo yang bisa kami mintai bantuan" Aldo
"Terserah kalian saja sih tapi cara ngajarin gue agak kaku dan kasar loh ya" Zinan
"Tidak masalah kok" Mita
"Oke, nggak apa-apa" Tisa
"Woy masuk njer, lo mau jadi gembel di depan hah?!" Zen melihat mereka
Kemudian Zen pergi. Zinan melihat ke teman-temannya "Kalo gitu masuklah" ucapanya
Mereka pun masuk ke dalam
"Adik sama Kakak beda banget ya" kata Aldo dengan nada yang pelan
Mereka pun belajar bersama lamanya kurang lebih sekitar dua setengah jam mereka susah merasa kelelahan.
"Aduh badan gue capek semua. Otak gue rasanya mau meledak" Aldo berbaring di sofa
"Oi jaga etika dan sopan santun anjir ini bukan rumah lo cok" Andri mukul Aldo pelan pakai buku catatannya yang di gulung.
Aldo bangun dengan wajah mengantuk.
"Biasanya tuh ya jam segini gue udah joging sore dan main basket di lapangan" Fais masih menghitung di buku coret-coretan
"Mas! Tolong buatin minum dong!" ucap Zinan keras dari ruang tamu
"TIDAK SUDI! Buat sendiri" balas Zen tak kalah sadis dari dalam kamarnya
__ADS_1
"Duh ngeri banget Mas Zen" Nawang ketakutan
"Gue jadi takut kalau misalnya datang sendiri kesini" Mita
"Iya beneran lewat aja udah berasa banget aura horornya" Beni
"Emang rumah gue anagker dan Mas Zen gue hantu?" tanya Zinan
"Gue saja yang buat minum?" Nakirara mengajukan dirinya "Nggak apa-apa kan?" tanya Nakirara
"Jangan, gue aja yang buat" Zinan bangun dari tempat duduknya
"Jangan, biar aku aja. Kamu ajarin teman-teman yang lain" Nakirara
"Baiklah, terimakasih banyak ya" kata Zinan
"Sama-sama" Nakirara
Nakirara pergi ke dapur dan membuat minuman untuk mereka semua.
"Na..." panggil Zen yang baru saja datang ke dapur
"Zen" Nakirara melihat Zen
"Sini aku bantu" Zen membantu menuangkan air dingin secukupnya ke beberapa gelas yang sudah di siapkan. "Terimakasih banyak ya sudah membuat Zinan mau bersosialisasi dengan yang lain" ucap Zen
"Jangan berterimakasih Zen, aku belum melakukan apa-apa untuk Zinan" Nakirara
"Oh iya, kamu sering-sering main kesini ya sama Zinan, biar aku bisa sering-sering ketemu sama kamu" kata Zen
"Aku rasa mungkin cuma hari ini saja kesini" Nakirara
"Eh, kenapa sayang?" Zen
"Fokus ujian lah masa main mulu sih?" Nakirara
"Oh iya ya? Dan mengenai Anton temen aku, kamu sudah tahu kan?" tanya Zen
"Anton? Oh iya dia akan menikah dengan Kakaku setelah lulusan nanti" Nakirara bahagia
"Cepet banget ya" Zen
"Iya. Anton baik banget sama keluarga aku. Dia bijaksan dan bisa berpikir dewasa. Aku tidak menyangka akan mempunyai Kakak Ipar sebaik dirinya. Dia nggak kayak kenalan Kakak aku yang lain dan Kakak Iparku yang pertama kalinya dulu" jelas Nakirara
"Syukurlah kalau begitu" Zen
"Sudah selesai, terimakasih sayang sudah di bantu" Nakirara mengangkat nampan yang di atasnya terdapat beberapa gelas jus jeruk segar. Nakirara pergi meninggalkan Zen yang masih berada di dapur.
__ADS_1
"Barusan Nakirara manggil gue apa ya? Kok kayak nggak biasa banget di kuping?" Zen bertanya-tanya dalam hatinya dan berusaha untuk mengingatnya. Kemudian dia teringat kata "sayang" yang keluar dari mulut Nakirara tadi. Itu membuat Zen sedikit kaget dan tidak menyangka bahwa Nakirara akan memanggilnya seperti itu.
To be continue