
Saat sedang santai, tiba-tiba saja Amira ingin makan bakso yang biasa ia lihat lewat di depan rumah.
"Aku ingin makan bakso, tapi kalau ketahuan mas Kaydra pasti dia marah, gimana ini tapi aku pengen." gumam Amira yang bingung.
Amira memperhatikan suaminya yang ternyata masih tidur. Amira yang sudah menginginkan bakso tersebut pun pelan-pelan keluar kamar dan berjalan menuju keluar rumah.
"Non, mau kemana?" tanya Robi yang mendapati Amira yang keluar rumah, dan masih mengenakan piyama. Tingkahnya yang aneh membuat Robi curiga.
"Aku mau keluar gerbang sebentar, jangan bilang-bilang sama mas Kaydra ya." ucap Amira dengan suara pelan.
"Apa bisa saya temani, non bahaya kalau pergi sendirian. takutnya kalau non Amira sendirian keluar dan ketahuan tuan Kaydra pasti dia marah." saut Robi.
"Baiklah, aku hanya keluar gerbang." Amira pun berjalan menuju ke gerbang dan keluar di ikuti Robi.
"Non, nunggu apa disini, kok dari tadi mondar-mandir." tanya Robi yang penasaran.
"Bisa diam gak sih, aku cuma mau nungguin paman bakso itu yang masih di ujung sana, aku pengen makan bakso, kalau ketahuan mas Kaydra pasti dia marah." Amira terus saja mondar-mandir menunggunya.
"Kenapa gak bilang dari tadi non, kan bisa saya datangi langsung pamannya daripada nunggu disini kelamaan."
Tak lama paman bakso pun lewat dan Amira langsung menyinggahkan nya.
"Man pesan baksonya ya, yang pedas." pesan Amira
"Berapa mangkuk neng?" tanya paman bakso itu.
"Kamu mau gak?" tanya Amira pada Robi.
"Gak non, saya sudah kenyang."
"Satu aja man,porsi jumbo ya" pesan Amira , aroma bakso menggugah selera Amira, ingin sekali segera menikmatinya.
__ADS_1
Amira duduk di kursi yang paman bawa, sedangkan Robi tetap berdiri.
Bakso porsi jumbo yang pedas sudah siap. Amira pun ingin segera menyantapnya dan saat ingin memasukkan bakso didalam mulut Amira mangkuknya tiba-tiba direbut Kaydra dan di buangannya membuat Amira kaget dan langsung mematung memandangi bakso yang sudah berhamburan di jalan, saat bakso yang hampir masuk di mulutnya dibuang begitu saja bersama mangkuknya hingga pecah.
"Siapa yang menyuruh makan sembarang, sudah aku katakan tidak boleh makan sembarang kamu tahu kan makanan ini bisa saja tidak higienis dan bisa membuat anakku kenapa-kenapa." Kaydra pun memarahi Amira dan Amira hanya menunduk sambil menitikkan air mata, bukan amarah suaminya yang membuatnya menangis tapi karena baksonya tak tadi dimakan.
"Mas, anak kita cuma pengen makan bakso, masa tidak boleh." jawab Amira membuat Erwin makin marah.
"Sekali tidak ya tidak, jangan membuat aku marah dengan hal sepele seperti ini, sekarang cepat masuk." ucap Kaydra dengan tegas dan marah.
"Dan kamu Robi kenapa membiarkan istri ku menunggu bakso disini." Robi pun tak luput dari amarah Kaydra.
Kaydra pun mengeluarkan uang untuk membayar bakso dan mangkuk yang pecah.
"Ambil ini, dan jangan pernah singgah lagi disini."
Kaydra pun menarik paksa Amira untuk masuk, karena Amira masih berdiri di gerbang , Amira hanya diam saat Kaydra terus memarahinya.
"Maaf ya man, dia bos saya, istrinya ngidam tapi suaminya sangat ketat mengawasi makanannya." ucap Kaydra.
"Iya gak papa mas, biasa orang kaya ma biasa sikapnya begitu saya gak kaget." jawab paman bakso.
"Oya man buatkan sesuai pesanan Nyonya tadi tapi kuahnya di pisah ya." Robi yang kasihan dengan Amira pun diam-diam membelikan bakso buatnya lagi.
Di kamar Kaydra masih saja memarahi Amira, sampai Amira tak hentinya menangis.
Setelah bosan marah, Kaydra pun meninggalkan Amira dan pergi entah kemana menghilangkan emosi yang meledak-ledak.
Amira terus menangis dan duduk di lantai. melampiaskan semua unek-uneknya yang tak bisa di ucapkan dihadapan suaminya.
Robi mengetuk pintu kamar Amira dan membawa semangkuk bakso yang Amira mau.
__ADS_1
"Non, saya bawakan bakso apa non masih mau memakannya" setelah mendengar nama bakso Amira pun menghentikan tangisnya dan menatap Robi yang sedang membawa mangkuk berisi bakso.
"Darimana dapat bakso itu?" tanya Amira
"Tadi saya minta paman buatkan bakso sesuai pesanan nona, silahkan sekarang dimakan, mumpung gak ada tuan." jawab Robi.
Amira langsung mengambil bakso yang dibawa Robi dan langsung memakannya, dengan buru-buru Amira sampai tersedak.
"Hati-hati non makannya, jangan buru-buru, tuan gak akan tahu, tuan sedang pergi." ucap Robi sambil memberikan segelas air.
Satu mangkuk porsi jumbo bakso habis dimakan Amira sampai kenyang perutnya.
"Makasih Robi , kamu selalu ada buatku." dengan tersenyum Amira memberikan kembali mangkuk yang sudah kosong tersebut.
"Itu sudah tugas saya menjaga nona, jika nona membutuhkan sesuatu katakan saja, biar saya yang mencarikan." Amira hanya mengangguk.
"Robi, apakah mas Kaydra benar-benar sayang aku dan anakku? kenapa sikapnya membuatku selalu tertekan, aku sudah berusaha menerima, tapi kenapa dia tetap saja begitu, apa aku salah menilai cinta mas Kaydra."
"Tuan Kaydra itu sayang dengan Nona, cuma sikapnya saja yang terkadang masih salah, yang kuat ya non, suatu hari nanti Tuan pasti akan berubah."
"Aku sangat berharap itu, aku tak peduli jika mas Kaydra ada simpanan atau main perempuan di luar sana, aku juga tidak peduli apa yang dia lakukan seharian di luar, yang aku inginkan saat dia kembali jangan membawa masalahnya dalam keluarga ini, aku ingin kebahagiaan di dalam rumah ini, karena aku disini hanya seekor burung di dalam sangkar. kapan pun dia bosan pasti akan melepaskan atau membunuhku. selama itu belum terjadi aku masih piaraan mas Kaydra dan aku berharap di sayangi selayaknya kesayangannya" Amira pun langsung memeluk Robi menumpahkan tangisnya.
"Aku mohon, sampaikan ini pada mas Kaydra agar dia tahu isi hati ku, karena hanya kamu yang dekat dengannya." Amira mempererat pelukannya, mencurahkan perasaannya yang tak bisa dia ungkapkan, namun setelah bersama dengan Robi ia selalu bisa bercerita apapun yang ada dalam hatinya.
"Baiklah non, saya akan coba berbicara dengan Tuan Kaydra dan berharap Tuan bisa mengerti, sekarang lebih baik Nona jangan menangis lagi." Robi pun menghapus Air mata Amira dan menenangkannya. Robi pun meninggalkan Amira , Robi tak bisa melihat Amira terlalu lama menangis, karena itu membuat hatinya itu menangis.
"Aku hanya bisa menjagamu, tapi aku tak bisa menjaga hatimu Amira, biarkan disini aku saja yang terluka namun bisa melihat kamu bahagia, itu lebih dari cukup untukku." gumam Robi yang masih berdiri di balik pintu, menyandarkan tubuhnya di daun pintu. Amira tak tahu bahwa Robi adalah seseorang yang ada di masa lalunya.
_TBC
✔️ JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK
__ADS_1