Suami Cap Kadal

Suami Cap Kadal
SCK 33


__ADS_3

Perlahan tapi pasti, Amira mulai kembali hidup dengan normal, ia pun masih sering mendonorkan ASI-nya.Kay memberikan kebebasan untuk Amira malakukan apapun dan tak mengurungnya seperti dulu. Itu Kay lakukan agar Amira bisa melupakan anaknya.


Hingga suatu hari terlintas dalam pikiran Amira, jika ia ingin melihat bayi yang minum ASI yang ia berikan, rasa penasaran itu pun semakin kuat seperti sebuah ikatan kerinduan.


Pagi itu seperti biasa Ana datang untuk mengambil Asi.


"Nyonya, apa stok ASI-nya ada?" tanya Ana.


"Ada. Sudah aku siapkan. Oya mbak sebelum aku memberikan ASI. Aku ingin meminta satu syarat yang harus mbak penuhi, Jika tidak maka aku akan menghentikan pemberian ASI ku pada bayi yang kamu asuh." Ancam Amira.


"Syarat? syarat apa yang nyonya minta?" tanya Ana bingung jika nanti dia tidak bisa melakukannya, otomatis bosnya akan marah padanya.


"Bisakah aku bertemu dengan bayi yang selalu minum Asiku. Sekali saja , setelah itu kau bisa mengambil Asi setiap saat." rengek Amira.


"Tapi nyonya, saya harus izin dengan majikan saya dulu sebelum mengizinkan Nona datang ke rumah." Jawab Ana nampak ragu.


"Oh, silahkan. Aku harap Bos mu bisa mengizinkan aku untuk sekali saja." Amira pun memberi kesempatan untuk Ana menghubungi majikannya.


Saat Ana bertanya, ternyata majikannya itu mengizinkan, membuat Amira tersenyum lebar. Akhirnya ia bisa melihat bayi yang akhir-akhir ini tiba-tiba mengusik pikirannya.


****

__ADS_1


Amira pun pergi ikut bersama dengan Ana, dan lupa untuk minta izin dulu kepada Suaminya yang berada di kantor.


Mereka pun berhenti di salah satu rumah yang masih Amira ingat, "Bukankah ini rumahnya-"gumam Amira sebelum di tegur Ana.


"Ayo nyonya masuk." Ajak Ana dan segera saja Amira mengikuti walaupun sedikit ragu untuk masuk.


Suara tangis seorang bayi tiba-tiba terdengar, menyambut kedatangan Amira di rumah tersebut. Membuat hati Amira yang mulai sembuh dari luka tiba-tiba kembali lagi terbuka setelah mendengar suara tangisan bayi yang ia rindukan sejak ia melahirkan.


Amira segera mengikuti sumber suara tersebut bersama Ana, hingga akhirnya Amira melihat bayi mungil yang tengah menangis karena lapar yang tengah berdiri di ranjang bayi dan bersama seorang wanita yang tak lain juga pelayan di rumah tersebut.


Amira menghampiri dan menatap bayi laki-laki yang tampan itu. Rasa rindu panda putranya pun kembali timbul.


"Bolehkah aku menggendongnya?" tanya Amira dan berharap bisa memeluknya.


Perlahan Amira pun menyambut bayi yang tengah menangis itu, dan saat itu juga Eric berhenti menangis dan menatap wajah Amira. Tangannya yang mungil menyentuh wajah Amira saat Amira hendak menciumnya.


"Cup... cup... sayang, kenapa kamu menangis?" tanya Amira pada bayi Eric.


" Siapa namanya mbak?" tanya Amira.


"Eric nyonya. Wah sepertinya dia nyaman berada di dalam dekapan nyonya. Saya permisi dulu ya Nyonya, mau menyimpan ASI ini duluan. Nyonya bisa bermain dengan den Eric.

__ADS_1


Amira pun menatap bayi Eric dan tak terasa air matanya menetes di pipi bayi tersebut.


"Andai dia masih hidup, mungkin dia saat ini sudah seusia mu nak." Gumam Amira.


Tanpa terasa sudah hampir satu jam lebih Amira bermain dengan baby Eric dan juga ditemani dengan Ana dan tanpa sadar pemilik rumah tersebut sudah kembali.


Ya, akhirnya Radit kembali setelah selesai bekerja dan dia menyadari kehadiran Amira dari pelayan yang lain.


Tap... tap... langkah kaki Radit menaiki anak tangga menuju kamar Eric.


"Aahhh... sepertinya Tuan Radit datang nyonya." Tegur Ana. Mendengar nama Radit. Jantung Amira seakan berhenti berdetak dan saat ia menatap ke arah pintu melihat sosok pria yang ia kenal sebelumnya.


"Ka-mu!" ucap Amira terbata, karena terkejut dengan kehadiran Radit.


"Amira! Kamu-"


Amira segera menyerahkan baby Erik pada Ana dan segera mengambil tasnya untuk segera pergi.


Namun tangan Amira di cekal Radit untuk menghentikannya. "Mau kemana kamu Amira?" tanya Radit dan memberi kode pada Ana untuk keluar.


"Lepaskan aku. Aku ingin pulang." Amira meronta berharap segera menjauh dari Radit

__ADS_1


"Jangan pergi dulu. Aku ingin bicara."


To be continued ☺️☺️☺️☺️


__ADS_2