Suami Cap Kadal

Suami Cap Kadal
SCK~14


__ADS_3

Sesampainya di depan ruang kantor Kaydra, Bima menghentikan langkah Amira dengan ragu.


"Nyonya harap bisa mengendalikan diri ya. ini ruang pak Kaydra." ucap Bima ragu-ragu.


"Non, kendalikan emosinya, ingat Nona sedang hamil." ucap Robi.


"Berisik amat sih kalian, aku tahu apa yang harus aku lakukan. kalian jangan kemana-mana, lihat apa yang bisa kulakukan pada suamiku kalian jadi saksinya." saut Amira dengan ketus.


Amira tanpa mengetuk pintu langsung masuk membuat mereka yang di dalam kaget dengan kehadiran Amira, Bima, dan Robi.


Amira sangat syok, tapi tak langsung marah dia menarik nafas panjang dan meremas rantang bawaannya dan mengangkatnya.


"Non, jangan dilempar." ucap Robi, takut Amira ingin melemparkan rantang yang di bawahnya namun ternyata tidak. Amira menghentakan rantang tersebut di meja dengan keras.


"Sayang, apa yang kamu lakukan disini" tanya Kaydra yang sudah merubah posisinya yang tadinya sedang berpangkuan dan saling berci*uman keduanya sekarang sudah berdiri.


Amira menghampiri Kaydra tanpa bicara mengendus aroma parfum yang sama yang Amira cium malam itu.


"Sudah berapa lama, ini terjadi? sudah berapa lama kalian bermain dibelakang ku? kenapa diam? Marah kemesraan kalian terganggu" tanya Amira pada Yeni yaitu sekertaris Kaydra, namun tak ada jawaban darinya.


Amira memeluk punggung Kaydra. "Jadi ini sarapan mas pagi ini, pura-pura sakit perut biar bisa cepat-cepat dapat santapan pagi." Tangan Amira menyusuri perut Kaydra dan akhirnya mencubitnya.


"Sayang. Ini gak seperti yang kamu pikirkan."


"Lanjutkan mas, lanjutkan apa yang mas suka, tapi jangan pernah menyesal jika bayi yang ada di kandunganku tak akan pernah lahir." ucap Amira mengancam di iringi air mata yang berlinang.

__ADS_1


Mendengar ucapan Amira semuanya syok terlebih Kaydra.


"Sayang, jangan mengancam ku seperti ini, dia gak salah jangan membuangnya aku yang seharusnya dihukum bukan dia."


"Iya non, tolong jangan gegabah, semua bisa di selesaikan baik-baik." imbuh Robi yang juga kuatir.


"Aku malu pada anakku, jika tahu papanya seorang penjelajah wanita, lebih baik dia gak usah lahir biar dia gak tahu penderitaan ibunya." tangis Amira semakin menjadi.


Bima dan Robi hanya bisa berdiri melihat pertengkaran sepasang suami istri.


"Bima usir wanita itu, dan pecat dia aku gak mau melihat ada wanita itu lagi disini."


"Baik nyonya." Bima pun menarik Yeni dan membawanya keluar, dan Robi ikut keluar tak ingin lebih lama menyaksikannya kedua majikannya bertengkar apa lagi melihat Amira yang menangis.


Kaydra memeluk Amira yang sedang menangis tersedu-sedu. Namun tak ada kata maaf yang keluar dari mulut Kaydra.


"Dengarkan aku Amira," suara tegas keluar dari mulut Kaydra dan membuat Amira terdiam. "Dengarkan aku, ini sudah kebiasaan ku, aku tak bisa menghilangkannya begitu saja."


"Apa gak cukup denganku saja, istri sahmu bukan wanita penggoda seperti mereka. Apa gunanya aku sebagai seorang istri jika tidak bisa memuaskan suaminya sendiri, apa yang kurang mas dariku, katakan aku akan terima jika itu memang benar. Dulu kamu janji akan setia dan tak akan bermain wanita di belakang ku tapi apa nyatanya semuanya bohong."


"Aku gak mau menyakitimu, aku sayang sama kamu."


"Mungkin pernikahan kita dari awal sudah salah, mungkin aku sudah salah menilai tentang mas, aku kira dengan aku menuruti semuanya, mas akan lebih sayang dan memberikan semuanya hanya untuk ku, tapi ternyata aku salah, aku menyerah mas, aku gak bisa menerima kebiasaan mas terlalu lama."


"Baik, jika mas gak bisa dengan aku saja, dan masih ingin mengikuti naluri kucing liar, lebih baik aku pergi aku gak kuat jika terus-menerus begini, dan jangan pernah menyesalinya." Amira pun mendorong tubuh Kaydra dan beranjak pergi. Amira berlari tak peduli lagi dia tengah hamil, sedangkan Robi dan Kaydra mengejarnya dan terus memangil namanya.

__ADS_1


Amira menghentikan taksi dan pergi entah kemana.


"Robi ayo cepat kejar Amira aku gak mau dia bertindak nekat." Robi dan Kaydra pun mengejar taksi yang ditumpangi Amira.


Di tengah perjalanan Robi dan Kaydra kehilangan jejak taksi yang di tumpangi Amira .


"Tuan, kita kehilangan jejak Nona Amira." ucap Robi yang juga merasa kuatir dengan Amira yang sedang emosi. Namun Kaydra terlihat tenang dan malah memainkan ponselnya.


"Kita ke hotel Mahkota saja." perintah Kaydra yang membuat Robi kaget bukannya cemas dengan istrinya malah janjian di hotel.


"Tapi Tuan, gimana dengan Nona Amira?"


"Itu urusanku, sekarang cepat kita ke hotel sebelum dia pergi." Robi pun mengikuti perintah bosnya pergi ke hotel.


Amira yang sedang sedih dan hatinya terluka, memilih tempat terakhir untuk menenangkan diri.


Tak henti-hentinya Amira menangis, mengingat keegoisan Kaydra yang sudah tertangkap basah namun tak mau meminta maaf bahkan tak mau membujuknya.


"Kamu jahat mas, aku sudah membuka hatiku untukmu, tapi malah kau sakiti. Aku benar-benar bodoh terbuai dengan rayuan manismu. Jika aku tahu ini akan terjadi tak sudi aku memiliki anak darimu mas." tangis Amira tersedu-sedu.


Setelah puas menangis Amira yang masih acak-acakan terdiam membisu.


Kaydra yang sudah sampai di hotel mahkota, langsung menghampiri kamar yang dituju. Sedangkan Robi gelisah memikirkan Amira yang entah pergi kemana, panggilannya tak ada satupun yang diangkat.


_TBC...

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak


__ADS_2