Suami Cap Kadal

Suami Cap Kadal
SCK~29


__ADS_3

"Tuan, sepertinya nyonya Marta terlihat atas penculikan Putra Tuan. Pelaku penculikan hanya mengatakan yang menyuruhnya adalah orang terdekat tuan." Jelas Robi yang telah berhasil menangkap pelaku penculikan.


Mendengar nama mamanya di sebut, membuat Kaydra murka. Kaydra benar-benar tak menyangka jika mamanya sebegitu nekat untuk memisahkannya dengan Amira, hingga cucu satu-satunya yang baru saja lahir ikut menjadi alat untuk memisahkan.


Kemarahan Kaydra benar-benar tak terkendali, kepalan tangannya yang begitu kuat, membuat kukunya menancap di telapak tangan, hingga melukainya.


"Antarkan aku menemuinya! dia harus bertanggung jawab dan mengembalikan putramu sekarang juga."


"Baik tuan." Robi bergegas menyiapkan mobil untuk mengantarkan Kaydra yang sedang dalam keadaan sangat marah. Tanpa banyak bertanya Robi pun langsung tancap gas menuju apartemen Marta, di ikuti beberapa pengawal di belakangnya.


* * *


Bayi itu terus menangis tiada henti, karena kelaparan. Sufor yang diberikan tak bisa di terima bayi itu. Babysitternya yang merawatnya sampai tak sanggup untuk menghentikan tangisnya.


"Tuan, sepertinya den Eric butuh donor Asi."


"Aku tau mbak, tapi bagaimana aku bisa mendapatkannya yang sesuai dengannya?" jelas Radit, sambil memegang dagunya bingung.


Setelah berfikir sejenak, Radit 'pun mendapat ide agar bisa mendapatkan donor Asi yang di inginkan Eric.


"Mbak, aku akan membayarmu dua kali lipat, jika kamu berhasil mendapatkan donor Asi dari seorang wanita yang aku kenal. Aku akan memberikan alamatnya dan katakan jika butuh donor Asi dan akan membayar berapapun harganya." Ucap Radit dengan lega, setelah ide itu muncul di saat-saat genting seperti ini.


Radit mengambil note yang ada di laci nakas dan menulis sebuah alamat Setelah itu menyerahkannya kepada babysitternya Eric.

__ADS_1


"Ini rumah siapa tuan? alamatnya cukup jauh dari sini. Apa tuan yakin saya bisa mendapatkannya?" tanya Ana tak yakin.


"Bagaimana bisa tahu kalau kamu belum mencobanya. Berikan baby Eric padaku, biar aku yang menenangkannya dan kamu segera pergi sana dan aku harap kamu kembali tidak dengan tangan kosong!" perintah Radit.


Ana pun bergegas menyerahkan Baby Eric kepada Radit dan bergegas berangkat menuju alamat yang tertera di note tersebut.


"Maaf, aku harus memisahkan kalian, ada dua alasan yang membuatku melakukan ini semua. Jika kamu merasakan ikatan itu kamu pasti akan datang kemari untuk menemuinya tanpa paksaan." gumam Radit sambil terus menenangkan Baby Eric yang sudah tidak terlalu menangis lagi.


* * *


Setelah perjalanan yang lumayan jauh, Akhirnya Ana sampai di sebuah mansion Kaydra yang di kelilingi pagar tinggi dan pintu gerbang yang Kokok.


"Nyari siapa mbak?" tanya satpam jaga.


"Iya betul, tapi maaf nyonya sedang tidak bisa di ganggu. Jika ada yang di titipkan atau sampaikan katakan saja, biar saya yang menyampaikannya pada nyonya.


"Tapi ini penting, saya harus menemui Nyonya Amira. masalah ini tidak bisa di bicarakan melalui perantara," bujuk Ana agar di izinkan masuk dan bertemu dengan wanita yang dimaksud Radit.


"Jangan-jangan ini kabar mengenai putra nyonya yang hilang." gumam satpam, lalu bergegas membukakan pintu, agar bisa bertemu dengan Amira.


Pelayan pun segera memanggil Amira yang sehari-hari hanya melamun sambil memegang baju-baju putranya yang sempat di belinya.


"Nyonya, ada orang yang mencari Nyonya katanya ada hal penting yang ingin di sampaikan." ucap sang pelayan.

__ADS_1


"Putraku..., A-apa dia ingin memberitahu dimana keberadaan putraku?" tanya Amira dengan penuh harapan.


"Tidak tau nyonya, anda bisa turun dan menanganinya langsung."


Amira pun bergegas dan setengah berlari agar bisa menemui wanita yang di maksud sesegera mungkin.


"Dimana putraku? apa kamu mengetahuinya?" cecar Amira tak sabar. Ana terperangah tak paham dengan maksud wanita yang ia cari.


"A-apa anda Nyonya Amira?" tanya Ana dan Amira mengangguk penuh harapan.


Ana langsung bersimpuh di depan Amira, "Nyonya tolong kasihani, anak majikan saya nyonya, dia membutuhkan donor Asi untuk bertahan. Sejak lahir dia kehilangan ibunya, dan dia tidak mau menerima sufor yang ada." jelas Ana dan terus mengiba, mengharap belas kasihan Amira.


"Apa maksudmu? Kamu butuh ASI. Maaf aku tidak bisa memberikannya, Asi yang aku punya hanya untuk putraku bukan untuk bayi lain. Lebih baik kamu pergi dari sini sekarang juga, dan katakan pada majikanmu untuk mencari donor Asi pada orang lain."


"Nyonya, kasihani anak majikan Saya nyonya, dia benar-benar membutuhkannya. Apakah Nyonya tidak punya rasa kasihan. Bayi itu terus menangis nyonya, dalam beberapa hari badannya turun drastis. Sekarang hanya nyonya satu-satunya harapan, tolong Susilah nyonya memberikan sedikit saja Asi yang Nyonya miliki, agar anak majikan saya bisa bertahan." Ana terus memohon-mohon agar mendapatkan ASI tersebut.


Ana yang terus-menerus memohon, Akhirnya mampu meluluhkan hati Amira.


"Baiklah, Aku akan memberikannya dan jika dia membutuhkannya lagi, kamu bisa datang lagi kemari. Ingat hanya kamu yang boleh mengambilnya, tidak bisa di wakilkan siapapun itu."


Amira pun memerintahkan pelayan untuk mengambil Asi yang sudah ia simpan di freezer agar di serahkan kepada Ana.


Setelah dapat Ana pun bergegas pergi meninggalkan rumah Amira dengan perasaan lega, karena ia berhasil membantu baby Eric, tanpa ia ketahui jika wanita yang ia minta ASI-nya sedang dalam keadaan menderita tekanan batin, menanti putranya kembali.

__ADS_1


TO Be Continued ☺️☺️☺️


__ADS_2