
Amira masih merebahkan kepalanya dipinggiran ranjang, mengingat semua kenangan bersama Kaydra, jujur saja Amira masih mencintainya dan tak ingin berpisah demi anak dalam kandungannya namun saat mengingat perlakuan Kaydra padanya ingin sekali membunuhnya. Air mata Amira sudah tak bisa menetes lagi, dan kini pikiran Amira menjadi kacau dengan wajah kusut dan makeup yang sudah berantakan.
Tanpa Amira sadari, Kaydra sudah muncul di hadapannya entah bagaimana dia mengetahui keberadaan Amira dan bagaimana caranya dia masuk sampai tak di sadari Amira .
Kaydra mengulurkan tangannya dan memberikan sapu tangan di hadapan Amira membuat dirinya sadar akan kehadiran Kaydra.
Amira yang kaget, menatapnya dan langsung berdiri serta mundur menjauh dari Kaydra.
" Dari mana mas tahu aku disini? Jangan dekati aku mas, aku gak ingin melihat mas disini, Cepat keluar atau aku akan panggil scurity." ucap Amira dengan gemetar namun tegas.
Erwin dengan sikapnya yang tak pernah memohon pada wanita, "Sayang, kemanapun kamu pergi aku akan selalu menemukanmu. Sudahlah marahnya, itu gak baik buat anak kita."Kaydra yang melangkah mendekati Amira
Kini Amira terpojok di dinding dan Kaydra semakin mendekat. Tanpa berfikir panjang Amira mengambil pisau buah yang ada di atas nakas sampingnya dan langsung menodongkan pisau itu pada Kaydra.
"Jangan mendekat atau aku akan membunuhmu" ancam Amira yang mulai kehilangan akal sehatnya. Namun sayang kaydra tak menanggapi ancaman Amira dan terus mendekat singgah pisau yang Amira genggam berada di samping leher Kaydra.
"Aku ingin tahu seberapa nekat istriku ingin membunuhku." Kaydra menggenggam pergelangan tangan Amira . "Lakukan sayang, lakukan sesuka hatimu, aku takkan melawan."
"Mas, jangan buat aku nekat, lebih baik Mas pergi dari sini biarkan aku sendiri." dengan gemetar Amira masih berusaha menahan pisau yang ada di tangannya.
Melihat Amira yang mulai mengendorkan tekanan pisau di leher Kaydra, tanpa membuang waktu Kaydra dengan sigap memutar tangan Amira yang membuat Amira tak sengaja menggoreskan mata pisau di samping leher Kaydra dan memutar tangan Amira kebelakang tubuhnya.
Kini Kaydra berada di belakang Amira dengan mencengkeram pergelangan tangan Amira di belakang, dan tangan satunya menahan tubuh Amira.
__ADS_1
"Lepaskan aku Mas, sakit" pinta Amira sambil menahan rasa sakit akibat cengkraman Kaydra yang terlalu kuat.
"Lepaskan dulu pisaunya baru aku akan melepaskan mu." dengan terpaksa Amira pun melepaskan pisau yang ada ditangannya dan Kaydra pun segera menjauhkan pisau itu dengan kakinya, pisau itupun masuk bawah kolong ranjang.
"Sayang, kenapa kamu seperti ini sekarang, biasanya kamu selalu menurut dan jadi istri yang baik, apa karena kamu sudah punya senjata yaitu anakku untuk mengancam ku." Kaydra membisikkan kata-kata itu di telinga Amira.
"Lepaskan aku mas, aku gak mau dekat-dekat lagi, mas jahat, mas egois tak pernah memikirkan aku, mas terlalu sibuk dengan dunia mas dengan wanita-wanita rendahan seperti mereka." Amira terus meronta mencoba melepaskan diri dari Kaydra.
"Dengarkan aku sayang, sampai kapanpun kamu takkan bisa lepas dariku, bahkan kamu takkan bisa menceraikan aku, atau pun membunuhku. Jadi kembalilah jadi istri yang baik dan jaga kehamilanmu sayang."
Kaydra mengusap perut Amira dengan lembut dan terus meng*ecup leher Amira "Tetaplah jadi wanitaku yang manis dan penurut hanya kamu lah wanita yang aku percaya untuk melahirkan anak-anakku."
Rayuan Kaydra kembali menebar membuat Amira tak berdaya tak dapat melawan ataupun menjauh.
"Robi, sekarang pulanglah dan jemput aku besok" perintah Kaydra.
"Tapi Tuan bagaimana dengan Nona Amira?" tanya Robi
"Tenang saja, istriku sudah bersamaku." ucapan Kaydra menjelaskan, membuat lega Robi.
"Baiklah Tuan." Robi pun langsung mematikan panggilan dari Kaydra.
Setelah membuang ponselnya di ranjang. Kaydra membalikan tubuh Amira dan kini mereka saling berhadapan. Kaydra langsung berlutut dan meletakkan kepalanya di perut Amira. Jangan sakiti anakku, aku gak ingin kehilangannya." Amira hanya bisa berdiri mematung melihat sikap Kaydra yang tak ingin anaknya tersakiti sepertinya begitu menyayangi janin yang ada di kandungan Amira..
__ADS_1
"Jika mas tetap ingin anak ini lahir, apa mas bisa berjanji satu hal padaku." Amira pun meminta satu hal pada Kaydra sebagai pembuktian.
Kaydra mendongakkan kepalanya menatap Amira." Katakan janji apa yang harus aku penuhi, jika aku bisa akan mas lakukan."
"Berhentilah, mengikuti naluri kucing liar mas, aku siap melayani kebutuhan mas kapanpun, Karena itu sudah tanggung jawab ku sebagai seorang istri, aku gak ingin tubuh mas dinikmati wanita lain selain diriku. Hanya itu permintaanku apa mas mau menyanggupinya."
Kaydra pun kembali berdiri, menangkup kedua pipi Amira dan mencari ketulusan dari sorot mata Amira ." Aku kan berusaha menuruti permintaanmu, tapi jangan buat aku kecewa." Kaydra pun mendaratkan kecu*pan di kening Amira .
Amira pun langsung memeluk Kaydra, hatinya luluh seketika setiap mendapatkan bujukan dari sang suami.
"Satu kesempatan terakhir mas, sebelum semuanya selesai." gumam Amira dalam pelukan Kaydra.
"Mas....mas terluka." Amira baru menyadari bahwa leher Kaydra terluka kerenanya.
"Gak papa sayang, ini sudah biasa."
"Maafkan aku mas, sudah membuatmu terluka, aku benar-benar gak sengaja, maafkan aku." Amira membimbing Kaydra duduk dipinggir ranjang, Amira nampak cemas dengan luka yang dialami Kaydra dengan segera Amira mengobati Kaydra agar tak mengeluarkan darah lagi.
Amira melepas kancing kemeja Kaydra satu persatu karena kemejanya terdapat noda darah, tubuh Kaydra pun akhirnya terpampang di hadapan Amira , bentuk tubuh yang disukai wanita termasuk Amira.
Amira pun meraba da*da bidang Kaydra dengan lembut, "Mas aku gak rela da*da bidang ini menjadi sandaran kepala wanita lain, aku ingin memilikinya seutuhnya hanya untukku" Amira masih mengusap dada bidang suaminya sambil menyandarkan kepalanya.
_TBC...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak, ☺️☺️☺️☺️🙏🙏