Suami Cap Kadal

Suami Cap Kadal
SCK~18


__ADS_3

Inilah kali pertama Amira menginjakkan kaki di negara kincir angin. Selama di perjalanan Amira memandangi kendaraan dan orang-orang Belanda yang lalu lalang. Tak lama kedatangannya di sambut hujan lebat yang mengguyur ibu kota.


Amira menyandarkan kepalanya di bahu Kaydra Mencari kenyamanan untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.


Sedangkan Kaydra sibuk berbincang dengan Albert yang sudah lama tak berjumpa.


Setelah hampir satu jam menempuh perjalanan dari bandara, mereka pun akhirnya sampai di kediaman Abraham.


Kedatangan Kaydra dan Amira di sambut langsung oleh Abraham dan juga Marta. Tapi kali ini perasaan Amira berbeda dengan saat pertama kali bertemu dengan kedua mertuanya.


Kaydra yang melihat wajah Amira yang sudah lelah, langsung membawanya ke kamar yang sudah di sediakan dan membiarkan Amira untuk istirahat sebelum berkumpul keluarga.


"Mas istirahatnya nanti saja ya, gak enak sama mama dan papa mertua, Amira takut mereka berfikir yang lain tentang Aku." tolak Amira saat di minta Kaydra untuk istirahat.


"Jangan pikirkan mereka, Aku membawamu ke sini karena Aku tidak mau pergi sendiri, yang Kamu pikirkan saat ini Aku dan calon anak Kita, mengerti." Kaydra mengusap pucuk kepala Amira. Kaydra pun kembali menemui keluarganya yang sudah menunggunya untuk makan malam.


Tatapan tajam, dapat di lihat dari sorot mata Marta, ia seperti tak menyukai kehadiran Amira bersama Kaydra.


Kaydra yang menuruni anak tangga mengacuhkan pandangan mamanya. Dengan santainya ia berjalan menghampiri Abraham yang sudah menunggunya di meja makan.


"Kenapa kamu membawanya kemari?" tanya Marta pada Kaydra saat hendak duduk di kursi.


"Begini'kah cara Mama, menyambut kedatangan putranya?" tanya balik Kaydra yang juga merasa tak suka.


"Kamu tahu dari awal mama tak menyetujui pernikahan kamu dengan Amira, apa lagi mendapatkan cucu dari wanita rendahan seperti dia tak sebanding dengan derajat kita. Aku sudah menentukan calon untukmu yang sama-sama keluarga konglomerat sama seperti kita."


"Maksud Mama itu Vika, anak teman Mama itu, melihatnya saja aku sudah tak sudi apa lagi menikah dengannya."saut Kaydra merendahkan.


"Jaga ucapanmu Kaydra, Vika itu gadis baik-baik, pendidikannya pun tinggi berbeda jauh dengan istrimu yang hanya lulusan SMA."

__ADS_1


"Pendidikan dan seratus sosial tak menjamin seseorang memiliki akhlak yang baik." Kaydra kembali meletakkan sendok dan garpu di piring dan beranjak ingin pergi dari makan malam tersebut.


"Berhenti Kaydra, Papa tidak pernah mengajarkan mu meninggalkan makan malam yang belum selesai." tahan Abraham.


"Kalau bukan karena Papa yang memaksa Aku untuk datang kemari, gak mungkin aku mau kemari, tapi dengan terpaksa aku kemari. Lihatlah apa yang aku dapatkan disini masih sama seperti yang dulu. Kalau bukan karena Papa, aku gak akan mau menginjakkan kaki di rumah ini lagi, ditambah melihat sikap Mama yang terlalu suka mengaturku." Kaydra pun memilih pergi meninggalkan keluarga dan kembali ke kamar. Saat ini melihat istrinya lah yang bisa meredam emosinya.


Saat ia masuk, di dapatinya Amira sedang berdiri di balik jendela melihat hujan turun yang begitu derasnya.


Kaydra mengambil selimut dan langsung menyelimuti tubuh Amira dan memeluknya.


"Apa yang kamu lakukan, Aku kan menyuruhmu istirahat bukan menghitung buliran air hujan?" ucap Kaydra dalam pelukan.


"Aku gak bisa tidur mas, lagian sayang rasanya jika melewatkan waktu hanya untuk tidur, aku ingin mengenang apa yang aku lihat di negara orang ini. Oya mas, apa kita nanti bisa lihat kincir angin raksasa dan melihat bunga tulip?" tanya Amira.


"Tentu saja, kita akan ke sana, selama istri dan calon anak ku bahagia, akan aku penuhi." jawab Kaydra.


"Gak ada yang menarik di obrolkan, aku lebih suka memandangi wajah istriku ini." Kaydra merayu istrinya untuk mengalihkan pembicaraan.


Saat Amira terlelap dalam tidur, Kaydra justru malah terbangun, pikirannya kacau, semua terjadi karena ulahnya sendiri, tak berfikir jika suatu hari ia akan benar-benar jatuh cinta. Terlalu banyak sudah wanita yang ia jelajahi, ia tak bisa jika harus melepaskan wanita yang sudah membuatnya benar-benar luluh.


"Apa yang harus aku lakukan, jika sampai Amira tahu tujuan awalku menikahinya di tambah lagi Mama yang bisa saja mengungkapkan semuanya tanpa sepengetahuanku. Tapi tak mungkin aku bisa ada di sampingnya setiap saat. Jika di rumah masih ada Robi yang menjaganya, lalu di sini siapa yang akan menjaga Amira dari serangan Mama, gak mungkin aku meminta Albert menjaganya." Kaydra terus berfikir keras agar ia bisa tenang selama di sini.


****


Keesokan harinya tiba, semua sudah bersiap untuk menghadiri acara peresmian perusahaan baru. Kaydra dan Amira pun dah bersiap.


"Amira lebih baik kamu di rumah saja gak usah ikut, kamu sekarang tengah hamil, jadi jangan terlalu capek." larang Marta, wajah Amira seketika redup.


"Tapi kan..." Amira ingin menjawab

__ADS_1


"Jangan melawan, aku ini mama mertuamu jadi kamu harus menurut." saut Marta yang menghentikan ucapan Amira.


"Ma, diakan istriku, jadi sewajarnya kalau dia mendampingiku. Mama gak punya hak untuk melarang Amira ikut."


"Mama ada hak, karena di dalam perut Amira ada cucu Mama! jadi jangan melawan." Kaydra ingin melawan namun di tahan Amira.


"Gak papa mas, aku di rumah saja, apa yang dikatakan Mama ada benarnya juga" cegah Amira, Kaydra pun menghembuskan nafas kesal.


"Baiklah kalau begitu kamu hati-hati di rumah, aku akan segera kembali setelah acaranya selesai."


Mereka pun akhirnya pergi meninggalkan Amira seorang diri. Hatinya sangat sedih tak bisa menemani sang suami. Namun saat melihat Albert yang berangkat paling belakang dan mengendarai mobil sendiri, Amira pun mengambil kesempatan untuk melihat secara langsung, ia tak menyia-nyiakan kesempatan yang tak mungkin terulang.


Saat Albert hendak masuk mobil tiba-tiba saja Amira pun ikut masuk dalam mobil dan duduk di sebelah Albert.


"Apa yang kamu lakukan? kenapa kamu masuk dalam mobilku?" tanya Albert saat sama-sama duduk bersebelahan.


"Izinkan aku ikut denganmu, aku gak mau menghilangkan kesempatan yang gak mungkin terjadi lagi, aku ingin melihat perusahaan baru milik Papa yang sedang diresmikan." alasan Amira untuk ikut.


"Tapi bagaimana kalau sampai Mama atau Kaydra tahu, dia pasti akan marah terutama padaku yang sudah membawamu kesana." Tolak Albert dan meminta Amira untuk turun.


"Ayolah Albert, kali ini saja bantu aku, please aku mohon, hanya kamu satu-satunya yang bisa membawaku. Apa kamu gak kasihan melihat wanita hamil di larang untuk kedua kalinya. " bujuk Amira pada Albert.


"Baiklah, cukup sekali saja aku menolongku, tapi jika terjadi sesuatu, jangan libatkan aku mengerti." Albert pun akhirnya membawa Amira datang ke peresmian perusahaan Abraham, hatinya begitu bahagia setidaknya ia bisa melihat suaminya walaupun tak bisa mendekatinya.


Amira dan Albert segera melaju menuju tempat acara. Tak ada kata yang terucap selama perjalanan sampai mereka pun tiba di tempat tersebut.


TBC...


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK ☺️☺️☺️

__ADS_1


__ADS_2