Suami Cap Kadal

Suami Cap Kadal
SCK~31


__ADS_3

Setelah lelah mencari, Kaydra pun memutuskan untuk kembali. Tubuhnya sudah lelah, kini dia hanya bisa berharap pada orang-orang suruhannya segera memberi kabar.


Cklek...


Kay membuka pintu kamar perlahan dan mendapati istrinya tengah tertidur.


Kay segera menghampiri dan duduk di samping Amira. Ia menatap wajah istrinya yang terlihat sembab dan begitu lelah.


'Maaf aku tidak bisa menemukannya.' Kau pun membelai rambut Amira. Namun belaian pelan Kay dirasakan Amira, hingga membuatnya terbangun.


"Mas..." ucap Amira dan langsung duduk.


"Dimana anak kita?" tanya Amira dengan penuh harapan.


Kay langsung memeluk Amira dengan erat, "Maafkan aku sayang. Maafkan aku yang sudah gagal menjadi seorang ayah."


Amira segera melepaskan pelukannya, menatap Kay dengan penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Apa maksud mas gagal? Putra kita baik-baik saja kan. Dia ditemukan kan mas, Jawab mas." tanya Amira, namun Kay terdiam, membuat Amira menerka sesuatu yang membuatnya menangis histeris.


"Tidak mungkin. Tidak mungkin anakku meninggal. Tidak mungkin dia menginginkan aku. Mas bohong kan, mas hanya menakut-nakuti aku saja kan." teriak Amira seraya mengguncang tubuh Kay agar menjawab.


Kay langsung mendekap tubuh Amira dengan erat. "Kamu harus kuat sayang. Anak kita sudah tidak bersama kita lagi, kamu harus kuat." Amira pun meraung berteriak memanggil anaknya, Amira masih belum bisa menerima jika anaknya sudah meninggal.


Mendapatkan kabar duka tentang anaknya, Amira pun pingsan seketika, membuat Kay semakin panik.


Tanpa menungggu lagi. Kay segera memanggil dokter untuk memeriksa Amira, untuk memastikan kondisinya, kalau Amira hanya shock dan juga Kay tidak ingin terjadi sesuatu pada Amira dalam kondisi berduka tersebut.


"Siapkan pemakaman untuk besok," perintah Kay pada Robi.


"Aku tidak ingin Amira terus-menerus mengharap sesuatu yang belum pasti kembali. Kamu tau sendiri kan, kita sudah berjuang tapi tidak ada hasilnya dan kemungkinan anakku hidup sangat kecil."


"Jadi maksudnya tuan akan berbohong pada nyonya kalau Max sudah meninggal?"


"Iya. Keputusan ini aku lakukan agar Amira tidak terus-menerus memikirkannya dan terus menunggu. Aku ingin dia kembali semangat menjalani hidupnya. Masih ada kesempatan untuk mendapatkannya lagi, walaupun sangat sulit"

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu tuan, saya akan memerintahkan anak buah saya untuk mengurus semuanya." Robi pun mengikuti perintah Kay dan merasa itu adalah keputusan terbaik untuk Amira.


Setelah memberi perintah pada Robi , Kay pun kembali menghampiri Amira yang tengah terbaring.


"Maafkan aku Amira. Terpaksa aku harus melakukan ini. Aku merasa ini adalah keputusan yang terbaik. Tidak hanya kamu yang terpukul saat ini tapi aku juga. Sebagai suami dan juga ayah aku merasa telah gagal. Mungkin yang dikatakan wanita itu benar, jika aku hanya memberi beban penderitaan padamu. Cepat pulih sayang dan aku akan membebaskan kamu, " ucap Kay.


Karena terlalu lelah, Kay pun tertidur di samping Amira dengan posisi duduk. Kay menggegam erat tangan istrinya sepanjang malam.


Saat kay terbangun, dirinya tidak mendapati istrinya di ranjang, Ia pun bergegas mencari keberadaan Amira.


"Amira sayang, kamu dimana?" panggil Kay dengan cemas dan mencari di sekitar area kamar namun tidak mendapati, ia pun bergegas keluar kamar dan berharap mendapati istrinya.


"Amira sayang, kamu dimana?" panggil Kay lagi sambil menuruni anak tangga.


"Pelayan, apa kalian melihat nyonya kalian?" tanya Kay kepada para pelayan, dan semuanya menunjuk ke salah satu arah yang sama.


Kay segera mengikuti arah tangan yang menunjuk dan mendapati apa yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.

__ADS_1


"Amira!!!"


To Be Continued ☺️☺️☺️☺️


__ADS_2