Suami Cap Kadal

Suami Cap Kadal
SCK ~ 21


__ADS_3

Setelah penerbangan selanjutnya akhirnya Kaydra sampai di bandara Indonesia dan sudah di tunggu Robi yang sudah menunggu kedatangannya.


Kaydra yang sudah tidak sabar langsung menanyakan tentang Amira.


"Apa Amira sudah di rumah?" tanya Kaydra langsung saat bertemu dengan Robi.


"Maafkan saya tuan, Saya tidak bisa menemukan Nona Amira. Saya sudah berkeliling mencarinya di area bandara ini namun tidak bisa menemukannya." Robi pun merasa gagal dengan tanggung jawabnya untuk menahan Amira agar tidak pergi.


Mendengar jawaban Robi, Kaydra langsung naik pitam dan memaki-maki Robi yang tidak bisa melakukan tugasnya.


"Cepat kerahkan semua anak buah yang ada untuk menemukan istriku, jangan ada yang kembali jika belum menemukannya."


Kaydra benar-benar menyesal, membiarkan istrinya lepas dari pengawasannya. Tak terbesit dalam pikiran Kaydra jika istrinya itu bisa berbuat nekat dengan pergi meninggalkan dirinya begitu saja.


Kaydra dan Robi pun segera mencari keberadaan Amira. Rasa lelah setelah perjalanan panjang dari Belanda ke Indonesia, Kaydra langsung menunju ke kediaman Broto dan berharap Amira ada di sana.


Namun pencarian Kaydra berakhir nihil, di tempat Broto, dan di tempat kedua mertuanya pun tak menemukan keberadaan Amira.


"Dimana kamu Amira, kenapa kamu pergi begitu saja, semuanya hanya salah paham. Pulang sayang, kita bicara baik-baik demi anak kita." batin Kaydra.


Selama berhari-hari Kaydra dan Robi mencari keberadaan Amira namun tetap tidak bisa menemukan Amira. Bahkan Kaydra hampir putus asa, tak tahu lagi harus mencari kemana lagi, sanak saudara dan semua orang yang pernah mengenal Amira tak ada satupun yang mengetahui kebenaran Amira sampai saat ini.


****

__ADS_1


*


*


*


Amira pun mulai bekerja menjadi pelayan cafe, Amira pun langsung bisa beradaptasi dengan pekerjaan barunya, walaupun perutnya sudah terlihat mulai buncit, namun tak menghalangi Amira untuk giat bekerja.


Tak terasa waktu cepat berlalu, Amira sudah bekerja menjadi pelayan hampir satu bulan dan selama itu pula Amira berusaha melupakan Kaydra dari hidupnya.


"Gimana Mir, apa kamu betah bekerja di sini?" tanya Eren di sela istirahat Amira.


"Betah. Terimakasih ya Eren, jika kamu tak bantu, aku tak tahu bagaimana lagi aku menjalani hidupku." Amira pun memeluk Eren, sebagai pelukan persahabatan.


"Oya, Mir. Besok kamu harus kerja lembur, soalnya cafe ini sudah di boking untuk meeting salah satu perusahaan besar. Setelah selesai nanti aku beri kamu bonus buat tambahan biaya bersalin keponakanku." Eren pun mengusap perut Amira dengan gemas, karena begitu senangnya akan mendapatkan ponakan.


Setelah Eren pergi, Amira pun tiba-tiba memikirkan kabar suaminya yang sudah hampir satu bulan ia tinggalkan tanpa kabar, namun Amira segera menepis pikirannya dan mebuang jauh-jauh kerinduannya.


Amira pun kembali bekerja dan segera melayani tamu yang baru saja datang.


"Mbak, moccacino satu." Pesanan tamu yang baru saja datang.


" Baik mas, mohon di tunggu sebentar." jawab Amira sambil mencatat pesanan tamu yang sedang duduk di kursi nomor lima itu.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Amira mengantarkan moccacino pesanan pria tersebut dan meletakkannya di atas meja di depan pria tersebut.


"Selamat menikmati." ucap Amira dan segera pergi.


Namun tak lama, salah satu rekan kerjanya memanggil Amira.


"Mir, ini ada pesanan untukmu." ucapnya dan memberikan kertas yang bertuliskan pesanan dari meja nomor lima. Bukannya makanan atau minuman yang di pesan lagi, namu ini malah meminta Amira untuk duduk menemaninya dan akan membayar satu juta per satu jam menemaninya.


Amira segera menghancurkan kertas tersebut dan langsung menghampiri pria tersebut. Dengan keras Amira menggebrak meja nomor lima hingga moccacino yang ada di atas meja terguncang dan membuat airnya tumpah.


"Tuan, apa maksud tuan dengan ini." Amira memberikan kertas yang cudah menjadi potongan kecil-kecil itu.


Pria itu hanya tersenyum saat melihat ekspresi marah Amira.


"Apa kamu tidak mau? aku hanya meminta kamu menemaniku selama satu jam dengan duduk manis saja di sini." jelas Radit.


"Maaf Tuan, ini bukan pekerjaan saya, lebih baik cari wanita sana dulu baru kembali kemari. " ucapnya lantang dan segera kembali, namun tangan Amira di tahan Radit hingga tak bisa membuat bergerak.


"Lepaskan Tuan, atau saya akan berteriak."


_TBC...


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK

__ADS_1


__ADS_2