
Amira melakukan pemeriksaan di salah satu klik swasta ditemani Radit yang telah membawanya keluar dari taksi yang membawa Amira ke rumah sakit.
"Hati-hati bangunnya, pelan-pelan saja." Radit membantu Amira untuk duduk setelah melakukan pemeriksaan USG.
"Tuan Radit, tolong istrinya lebih di perhatikan, jangan terlalu di dibiarkan kecapean itu bisa berbahaya untuk ibu dan janinnya. Oya kondisi istri Tuan dalam keadaan cukup lelah dan butuh banyak istirahat, tolong lebih di perhatikan lagi aktivis istri tuan," jelas dokter. Radit pun hanya mengangguk sedangkan Amira hanya bisa gigit jari saat dokter mengira laki-laki yang ada di sampingnya adalah suaminya.
Setelah selesai periksaan Radit pun membawa Amira meninggalkan klinik.
"Mulai sekarang dan sampai kamu melahirkan, kamu akan aku bawa masuk kedalam keluarga ku, dan kamu harus ingat dan jangan sampai keceplosan. jika semua orang bertanya, kamu cukup bilang kalau kamu itu istriku dan anak yang ada didalam kandunganmu itu anakku, cukup mudah kan perjanjian kita." Jelas Radit sepanjang perjalanan.
"Kenapa aku harus melakukan itu? anak ini punya ayah dan itu bukan kamu, kenapa aku harus berpura-pura menjadi istrimu dan mengatakan kalau anak yang aku kandung adalah anakmu. Kau bodoh atau kelewat pintar." Ucap Amira yang kesal dengan perjanjian konyol yang sudah ia tanda tangani itu.
"Diam dan jangan banyak bertanya, skenario ini sudah aku susun sejak lama, dan ternyata kamulah yang terpilih menjadi pemerannya. Lebih baik ikuti drama yang sedang berjalan, agar bayimu tetap baik-baik saja."
Mereka pun akhirnya sampai di sebuah mansion dan dengan segera radit membukakan pintu mobil untuk Amira.
__ADS_1
Amira pun segera keluar, namun kondisi kepalanya yang masih pusing, membuatnya roboh diperlukan Radit.
"Kamu tidak papa?" tanya Radit, dan langsung membopong Amira untuk masuk ke dalam mansion.
Saat Radit masuk, semua orang terkejut dengan apa yang mereka lihat. Radit membawa seorang wanita yang tengah hamil dalam gendongannya.
Tanpa perdulikan yang lain, Radit langsung membawa Amira ke kamar agar bisa segera beristirahat.
Keluarga Radit yang penasaran masih menunggu Radit untuk memberikan penjelasan, yang sebenarnya tentang wanita yang di bawanya.
"Radit, katakan pada mama. Siapa wanita itu? dan kenapa kamu membawanya masuk ke dalam rumah ini?" tanya mama Radit yang sudah diselimuti rasa penasaran.
"Sudah aku katakan mam, kalau aku sudah menikah. Tapi mama masih tak percaya dan masih kekeh ingin menikahkan aku dengan wanita pilihan mama. Lalu Bagaimana nasib calon cucu Mama? apa mama akan membiarkan calon cucu pertama keluarga ini hidup menderita bersama ibunya?" jelas Radit membuat mamanya ternganga dan perasaannya menjadi campur aduk.
Radit mengeluarkan bukti pernikahan dirinya dengan Amira, dengan mengeluarkan buku surat nikah dan juga hasil USG yang baru saja Amira lakukan.
__ADS_1
Mama dan papa Radit segera memeriksanya dan semua hanya bisa menghela nafas saat bukti yang di berikan Radit cukup kuat.
"Jadi wanita itu menantu mama dan sekarang sedang mengandung anak laki-laki yang kini berusia lima bulan." mam Rika berusaha menjabarkan maksud Radit dan Radit pun mengangguk membenarkannya.
Mama Rika, menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca, "Pa, sebentar lagi kita akan punya cucu, sesuai keinginan kita pa." jelas mama Rika dengan penuh kebahagiaan yang tak dapat di bendung dan langsung memeluk suaminya.
"Papa juga senang, akhirnya kita bisa menimang cucu laki-laki, dan ini perlu di rayakan ma." ucap Heru ( papa kandung Radit)
Melihat orang tuanya bahagia, Radit pun hanya bisa tersenyum paksa karena telah berhasil menipu ke-dua orang tuanya itu.
"Radit, kamu kali ini sudah berhasil membuat kami bahagia, kalau begitu kami tidak akan memintamu untuk menikahi anak teman papa itu. Kamu hanya perlu memberikan kami cucu yang banyak maka semua keinginan kamu akan kami penuhi."
TBC...
jangan lupa tinggalkan jejak....
__ADS_1