
Saat sampai di halaman perusahaan baru, Amira nampak ragu untuk turun. Ia berfikir mungkin keputusannya untuk tetap datang walaupun sudah di larang adalah salah.
"Ayo keluar." Ajak Albert.
"Kamu duluan saja, nanti aku menyusul." Amira belum yakin dengan keputusannya itu.
"Jika kamu tidak turun sekarang dan pergi bersamaku, kamu tidak akan bisa masuk, paham."
Dengan terpaksa Amira mengikuti Albert untuk masuk ke dalam. Amira meraih lengan Albert dan berjalan beriringan, Albert yang awalnya cuek pun akhirnya tersenyum melihat Amira yang bisa menempatkan posisinya tanpa perlu di beritahu.
Amira melihat Kaydra bersama dengan seorang wanita cantik, dan keduanya terlihat begitu dekat, terlihat bagaimana wanita itu bergelayut di lengan Kaydra dan sesekali menyadarkan kepalanya di pundak suaminya itu.
Amira menghentikan langkahnya dan melepaskan tangannya dari lengan Albert.
"Ada apa?" tanya Albert yang menyadari perubahan sikap Amira.
"Aku menunggu di sini saja, kamu pergilah, dan jangan katakan pada mas Kaydra kalau aku ada di sini. Aku gak mau merusak suasana hari ini dengan kehadiranku yang tidak di inginkan." Amira pun mencari tempat dimana dirinya tidak akan terlihat oleh suami dan juga kedua mertuanya itu.
Albert pun meninggalkan Amira dan bergabung dengan keluarganya. Sesuai janjinya ia tak mengatakan apapun jika Amira juga datang.
Di kejauhan, Amira sedang mengusap perutnya yang mulai terlihat buncit, sambil mendengar percakapan orang-orang yang hadir tentang Kaydra dan juga wanita yang ada di sebelahnya itu.
Setelah rentetan acara telah selesai, Tiba-tiba Abraham dan Marta mengumumkan tentang perjodohan Kaydra dan juga Vita.
Dengan telinganya sendiri, Amira mendengar apa yang di umumkan oleh mertuanya tentang suaminya itu. Tak terasa air mata Amira langsung lolos begitu saja, tak percaya dengan semua yang baru saja ia dengan.
"Jadi ini alasan mas membawaku ke Belanda, untuk menyaksikan pernikahanmu yang kedua. Luar biasa sekali kejutan ini mas. Lakukan mas, apa yang menjadi keinginanmu dan aku juga akan melakukan sesuai keinginanku, dengan membawa pergi anakmu dari kehidupanmu." Gumam Amira di sela rasa sakit yang mendera hatinya.
Amira pun segera lari, pergi meninggalkan tempat tersebut dengan membawa hati yang terluka.
__ADS_1
Semua orang bertepuk tangan dan mengucapkan selamat, namun raut wajah Kaydra sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.
Kaydra segera menghampiri orang tuanya, untuk meminta penjelasan atas apa yang baru saja mereka umumkan.
"Apa yang kalian lakukan, kenapa kalian mengumumkan kebohongan publik, aku sudah sudah punya istri jadi mana mungkin aku menikah lagi dengan vita, dan dengan kalian seenaknya saja mengumumkan tanpa persetujuan dariku!" Kaydra marah kepada kedua orang tuanya di sela-sela acara penutup.
"Kamu lelaki Kaydra, dan kamu bisa memiliki istri lebih dari satu. Mama menginginkan cucu yang lahir dari rahim Vita bukan dari wanita rendahan seperti Amira." Saut Marta dengan tegas.
"Jangan harap aku bisa mengabulkan permintaan mama, lebih baik hentikan omong kosong mama sekarang juga, atau mama sendiri yang akan malu."
"Jaga ucapanmu Kaydra, kamu keturunan putra papa satu-satunya, dan hanya kamu yang bisa memberikan penerus keluarga kita, jadi jangan sembarangan memilih ini dari cucu yang akan di lahirkan nanti." Saut Abraham membela istrinya.
"Kaydra, tolong pikirkan lagi, jangan permalukan aku dengan seperti ini. Jika kamu sudah punya istri, aku rela jika harus menjadi istri kedua." Sela Vita di tengah perdebatan dengan orang tuannya.
"Apa kamu bilang, istri kedua? jangan pernah mimpi kamu." Kaydra pun menepis tangan Vita dan segera pergi dengan emosi.
Dengan emosi Kaydra melangkah pergi, namun langkahnya di hentikan Albert yang sedang bingung mencari keberadaan Amira yang menghilang.
"Apa kamu bilang? istriku datang kemari!" Kaydra kembali di kejutkan dengan perkataan Albert.
"Maafkan aku Kaydra, tadi Amira memohon untuk di bawa dan aku tidak tega meninggalkannya. Aku tidak tahu kalau kejadiannya akan begini di luar dugaanku." Jelas Albert.
"Dasar bo*doh." umpat Kaydra dan segera pergi untuk mengejar Amira yang mungkin belum terlalu jauh, Albert pun ikut mencari Amira. Iya merasa bersalah.
Amira berjalan menyusuri trotoar, membiarkan kaki melangkah tanpa arah. Keterbatasan bahasa membuatnyan tak bisa leluasa untuk berjalan, di tambah lagi ia tak tahu jalan pulang, membuat Amira berjalan tanpa tujuan.
Kaydra dengan cemasnya menyusuri jalanan untuk menemukan Amira. Keydra tak bisa menemukan keberadaan karena ponsel milik Amira tertinggal di mobil Albert.
Hujan kembali mengguyur kota, Amira yang tak tahu jalan pulang pun hanya bisa mencari kantor polisi untuk membantunya mengantarkan pulang.
__ADS_1
Sedikit petunjuk yang diberikan Amira, akhirnya polisi mengetahui alamat yang dimaksud Amira dan segera menghubungi keluarganya untuk menjemput dirinya.
Ternyata polisi menghubungi nomor Marta, dan saat itu juga Marta mengiyakan untuk segera menjemput Amira.
Hampir satu jam Amira menunggu, hingga akhirnya sebuah mobil mewah berhenti di halaman kantor polisi, Marta datang bersama bodyguardnya untuk menemui Amira.
"Mama, akhirnya mama datang menjemputmu." Sapa Amira dengan senang.
Marta tak menjawab, ia menarik Amira keluar untuk berbicara.
"Ambil ini!" Marta menyerahkan, dokumen penting milik Amira termasuk paspor dan visa juga tiket pesawat untuk kembali ke Indonesia.
"Tinggalkan Kaydra mulai sekarang, pergi jauh dari kehidupannya dan jangan pernah kembali menemuinya. Asal kamu tahu, Kaydra akan menikah dengan Vita, yang memiliki derajat yang setara dengan Kaydra. Didalam itu ada cek dengan nominal yang besar, bisa membiayai kamu dan anakmu. Sopir akan mengantarkan kamu ke bandara, jadwal penerbangan pukul satu dini hari." Marta langsung meninggalkan Amira tanpa mendengar sepatah katapun.
"Semua sudah berakhir." Amira segera menghapus air matanya dan masuk kedalam mobil yang sudah tiba untuk mengantarkannya menuju bandara.
Selama perjalanan, Amira tak henti-hentinya menangis, meratapi nasib darinya dan juga anaknya yang belum lahir. Amira pun tak tahu lagi harus bagaimana akan melanjutkan hidupnya, setelah sekian lama bergantung pada keydra.
"Selamat tinggal mas, semoga kamu bahagia bersama pilihan barumu. Aku dan anakmu akan pergi jauh dan melupakan semua kenangan bersamamu mulai sekarang." Amira melepaskan cincin pernikahannya dan memberikannya pada sopir.
"Pak, jika bapak kembali nanti, tolong berikan ini pada mas Kaydra." Ucap Amira pada sang supir yang merupakan orang Indonesia juga yang dibawa Marta.
"Baik Nona, akan saya sampaikan. Saya ikut perihatin dengan apa yang terjadi pada Nona, saya gak nyangka kalau Nyonya Marta bisa Setega itu. Jika Nona tak punya tempat tinggal, saya ada anak perempuan di sana, Nona bisa menemuinya untuk tinggal bersamanya. Dia pasti senang dengan kedatangan Nona."
"Terimakasih pak, atas tawarannya, saya bisa mencari tempat sendiri untuk bertahan hidup."
Akhirnya Amira pun sampai di bandara, meski harus menunggu beberapa jam lagi sebelum penerbangan.
_TBC
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak komentarnya. ☺️☺️
Oya kalau masih ada penulisan nama yang salah, tolong dikomentari diparagraf-nya ya biar bisa saya perbaiki.