
"Membuang kamu sekarang sama saja buang banyak uangku yang aku keluarkan untuk membelimu" ucap Kaydra tanpa rasa bersalah pada istrinya itu.
"Siapa juga yang menyuruh membeli tubuhku, kalau aku tahu kejadian sebenarnya, mungkin sudah aku bunuh tuan duluan sebelum pernikahan." saut Amira
"Benarkah, lakukan saja sekarang aku takkan melawan."
"Gak mau, nasi sudah jadi bubur, kalau aku membunuh tuan sekarang, aku jadi janda dong, amit-amit aku gak mau, aku masih muda."
"Makanya, kalau gak mau jadi janda kembang, kamu harus jadi istri penurut, aku ini gak cuma ngurusin kamu, masih banyak masalah yang harus aku selesaikan, ditambah lagi, ada hal lain yang membuat aku tambah pusing." ucap Kaydra sambil kembali mengompres Amira, kemarahannya memudar seketika saat melihat wanita didepannya sedang tak berdaya.
"Aku akan sering pergi, banyak yang harus aku selesaikan, jadi aku mohon jangan buat ulah lagi, kamu tahu sendiri kalau aku sudah marah" imbuh Kaydra.
"Maafin aku tuan , aku gak bisa jadi istri yang baik, aku gak tahu kalau tuan banyak masalah dan lelah." Air mata Amira keluar dari sudut matanya.
"Aku juga minta maaf kalau terlalu kasar, aku gak bisa mengedalikan emosi kalau ada yang bikin marah." ucap Kaydra dan Amira hanya mengangguk tanda sudah memaafkannya.
"Aku berharap kamu bisa cepat hamil, sebelum mama dan papa membuat masalah dengan keluarga kita."
"Maksud tuan?" tanya Amira yang tak paham.
"Ah...gak usah dipikirkan dulu, yang penting kamu cepat sembuh, biar aku gak kuatir saat aku pergi."
Tak lama kemudian pintu kamar pun diketuk dan Robi pun segera masuk.
"Maaf pak, saya sedikit lama, soalnya beberapa apotik, obat yang dicari banyak yang kosong jadi saya harus berkeliling mencarinya."
"Alasan Robi saja, paling dia itu puas kalau melihat aku gak sembuh-sembuh." sahut Amira.
"Maaf non, saya sama sekali gak ada niatan seperti itu, saya juga kuatir dengan keadaan non Amira."
"Sudah-sudah, gak usah nambah masalah. Robi lusa kamu gak usah ikut aku pergi, aku minta kamu jagain istriku jangan sampai dia keluar rumah, dan jika dia tetap membantah, ikat kakinya di depan gerbang."
"Emangnya aku hewan apa, pakai diikat segala." saut Amira.
"Siap laksanakan tuan, kalau begitu saya permisi dulu." Robi pun meninggalkan kedua majikannya.
"Kalau gak mau diikat makanya nurut sama suami."
"Tapi kan."
Pasangan yang sama-sama keras, membuat keduanya tak mau mengalah.
Sebuah panggilan masuk di ponsel Kaydra dan sepertinya penting, karena Kaydra langsung pergi tak ingin Amira mendengarnya.
Setelah selesai Amira pun bersiap-siap untuk pergi.
__ADS_1
"Aku pergi dulu sayang, ada masalah penting yang harus di selesaikan."
"Malam tuan pulang kan?"
"iya memangnya kenapa?" tanya Kaydra sambil mengganti pakaian.
"Aku mau martabak manis, tuan bisa belikan kan?"
"Nanti kalau ingat, atau kamu bisa minta Robi membelikannya nanti. Kamu istirahat saja dan jika butuh apa-apa panggil bibi, jangan turun dari ranjang kalau demamnya belum turun" Kaydra pun mengecup kening Amira dan buru-buru pergi.
Amira terlihat sedih, melihat kepergian suaminya, walupun Kaydra galak tapi Amira sudah merasa sedikit nyaman dengannya dan selalu rindu omelannya.
Tak lama, setelah Kaydra pergi Amira pun memanggil Robi yang entah dimana.
"Robi..."panggil Amira dengan teriak dari kamar. pelayan yang mendengar langsung mencari Robi untuk menemui Amira.
Dengan tergesa-gesa, Robi pun menghampirinya Amira.
"Ada apa non?" tanya Robi.
"Mas Kaydra bilang gak kalau mau pergi kemana?"
"Tidak non, Tuan Kaydra cuma berpesan untuk menjaga Nona." jawab Robi
"jawaban gak penting." saut Amira ketus.
"Apa Tuan Kaydra punya banyak masalah di perusahaan?" tanya Amira penasaran
"Sepertinya iya non, tapi tenang saja Tuan Kaydra orangnya sangat cerdas, pasti bisa segera menyelesaikan masalah kantor. Nona gak perlu kuatir, Tuan Kaydra itu walaupun orangnya suka marah, tapi hati nya baik dan dia itu tipe pria setia, karena saya sudah lama mengenal Tuan Kaydra." jelas Robi yang berfikir bahwa Amira curiga.
"Ya, aku percaya padamu, mudah-mudahan apa yang kamu katakan itu benar, aku merasa sedikit lega." Jawab Amira sambil menghembuskan nafas kasar.
"Baiklah, kamu boleh keluar, dan jangan jauh-jauh dari pintu kamar jika aku meneriaki mu kamu harus segera datang.".
"Baik non, kalau begitu saya permisi dulu." Robi pun pergi meninggalkan Amira yang masih berbaring di ranjang.
"Galak tapi setia, apa kata-kata itu pantas untuk suami yang lebih mementingkan pekerjaan daripada istrinya yang sakit." ucap Amira pada dirinya sendiri.
Hari mulai siang dan Amira mulai membaik, setelah minum obat, dengan wajah masih pucat Amira menuruni anak tangga dan berjalan menuju sofa tamu.
"Non, kenapa turun, Nona kan masih sakit." tanya pelayan.
"Gak papa bi, aku capek rebahan terus, oya bi mana Robi? tolong panggil Robi suruh kemari! aku lagi males teriak-teriak." perintah Amira yang sudah tak canggung memerintah para pelayan.
"Robi, sedang ngobrol dengan satpam, saya panggil dulu ya non" pelayan itupun bergegas menghampiri Robi dan kembali bersama Robi.
__ADS_1
"Ada apa Nona panggil saya?" tanya Robi.
"Tuan Kaydra ada nelpon gak?"
"Tidak ada non, memangnya kenapa non?"
"Gak papa, mana ponselmu?" pinta Amira membuat Robi bingung dan menyerahkan ponsel miliknya tanpa berani bertanya.
Ternyata Amira menghubungi suaminya,
"Halo Robi ada masalah apa di rumah?" tanya Kaydra pertama kali setelah mengangkat panggilan dari nomor Robi .
"Gak ada apa-apa Tuan?" jawab Amira membuat Kaydra terkejut.
"Kenapa memakai ponsel Robi sayang?"
"Ponsel aku habis pulsanya, Tuan aku hanya ingin mengingatkan agar Tuan tidak lupa untuk memberikan pesananku dan aku juga minta tolong isikan pulsa, ponselku tidak bisa di pakai buat apa-apa."
"Eeemmm baiklah, sayang apa demamnya sudah turun?"
"Sudah Tuan, cepetan isikan dong."
"Kan bisa nyuruh Robi buat belikan."
"Robi lagi sibuk, pacaran?"
"Dengan siapa dia pacaran, apa dia gak tahu aturan di rumah?"
"Sampai rumah nanti marahi tu Robi."
"Ya udah nanti mas isikan, kalau gitu mas matikan dulu, soalnya mas masih banyak kerjaan."
"Baiklah." Amira pun mematikan panggilnya.
Dengan tersenyum Amira mengembalikan ponsel Robi.
"Non, kenapa Nona bohong dengan Tuan Kaydra, saya gak ada pacaran Nona, tadi saya cuma ngobrol dengan satpam saja non." protes Robi yang merasa di adu domba.
"Aku cuma becanda?" Saut Amira.
"Tapi Nona, itu bisa jadi masalah besar buat saya." Ucap Robi sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Biarin, itung-itung buat balas kamu yang pernah bentak aku, ingat ya semua yang pernah kamu lakukan padaku akan aku balas satu persatu" ancam Amira dan kemudian diiringi tawa lepas.
Amira hanya bisa menggaruk kepala karena tak bisa melawan majikan perempuan yang cerewet.
__ADS_1
_TBC.....
✔️ jangan lupa tinggalkan jejak