
Setelah berkeliling menyusuri jalan, berharap bisa segera menemukan istrinya yang mungkin sedang tersesat karena tak tahu jalan pulang. Namun hingga malam menjelang Kaydra masih belum bisa menemukan amira, begitu juga dengan Albert yang tak menemukan Amira juga.
Kaydra dan Albert pun memutuskan untuk kembali dan berharap Amira sudah ada di rumah.
Sesampainya di rumah, Kaydra bergerak masuk dan berharap Amira datang menyambut. Namun semua harapannya hancur setelah mendapati rumah yang terlihat sepi dan tak ada tanda-tanda Amira ada di rumah.
Tak lama mobil yang mengantarkan Amira ke bandara pun sampai. Kaydra yang penasaran pun langsung keluar dan berharap ada Amira di dalamnya.
"Tuan Kaydra, kebetulan tuan ada. Saya mau menyerahkan ini pada tuan." Pak supir itu mengeluarkan sebuah cincin dari dalam sakunya.
Kaydra menerima dan memperhatikan dengan seksama, "Bukankah ini cincin istriku. Dimana Amira, dimana istriku Amira, kenapa cincin ini ada di di tanganmu." sopir tersebut di cecar pertanyaan oleh Kaydra, bahkan sampai menarik kerah bajunya sebagai bentuk ancaman agar sang sopir berkata jujur.
"Maafkan saya tuan. Saya sudah mengantarkan Nona Amira ke bandara. Nona Amira akan kembali ke Indonesia tuan." Jelas Pak sopir. Membuat Kaydra murka.
"Siapa yang menyuruhmu mengantarkan istriku ke bandara tanpa seizin ku dan kenapa kamu tidak memberitahuku tentang istriku!" bentak Kaydra yang sudah tersulut emosi, karena tak ada yang memberitahu dirinya.
"Cepat antarkan aku ke bandara sebelum terlambat." Kaydra pun segera menyusul ke bandara bersama Albert dan berharap masih bisa menemukan istrinya itu sebelum benar-benar kehilangannya.
*****
Amira duduk terpaku di ruang tunggu, untuk menunggu waktu penerbangan.
Air mata sudah tak lagi menetes, mengingat bagaimana mertuanya mengumumkan perjodohan putranya dengan wanita lain dan jelas-jelas ibu mertuanya juga tahu jika dirinya adalah menantu dan sedang mengandung anak dari putranya.
Amira hanya bisa menghela nafas, tak ingin mengatakan apa-apa lagi, mungkin ini takdir yang harus di jalani Amira.
Tak lama Kaydra pun akhirnya sampai ke bandara, namun sayang semuanya sudah terlambat, Pesawat yang di tumpangi Amira sudah take off meninggalkan bandara.
__ADS_1
"Kita terlambat Kaydra, Amira sudah pergi." Jelas Albert.
"Cepat cari tahu, penerbangan selanjutnya. Aku kan menyusul istriku." Perintah Kaydra.
"Tapi bagaimana dengan mama dan papa?"
"Aku tidak perduli dengan mereka, karena mereka sudah berani ikut campur dalam keluargaku."
"Jangan pergi Kaydra, urusanmu di sini belum selesai. Lepaskan dia. Wanita itu tidak pantas berada di dekatmu. ceraikan dia dan menikahlah dengan Vita." Ucap Marta bisa-bisa. Ternyata saat mendengar Kaydra menyusul Amira ke Bandara, Marta pun segera mengikuti putranya itu.
"Tidak bisa ma. Mama bisa lihat sendiri kalau Amira sedang hamil anakku dan hanya dia satu-satunya harapanku yang tersisa untuk melahirkan keturunanku." Saut Kaydra.
"Kamu masih bisa memiliki anak, dan memberikan aku cucu dari Vita yang jauh lebih baik dari dari Amira."
"Tidak ma, aku tidak bisa memiliki anak lagi."
"Maksudmu?"
"Jadwal penerbangan selanjutnya besok pa-gi_" Ucap Albert tiba-tiba sebelum berhenti, saat menyadari ada Marta juga.
"Mama ada disini?" tanya Albert sambil menggaruk kepalanya.
"Urus keberangkatan ku besok." Kaydra pun memilih pergi, tak menghiraukan lagi keberadaan Marta.
*****
Setelah perjalanan panjang, akhirnya Amira pun sampai bandara Indonesia.
__ADS_1
Saat menginjakkan kaki di Bandara, Amira hanya bisa memandang sekitar, tak tahu harus kemana lagi ia berteduh. Mama dan papanya tak lagi bersama sedangkan pamannya sudah tega menjual dirinya dan tak mungkin ia kembali ke mansion Kaydra.
Tanpa tujuan, Amira pun segera mencari taksi untuk membawanya pergi meninggalkan Bandara, di saat bersamaan Robi datang menjemput Amira sesuai perintah Kaydra. Taksi yang di tumpangi Amira pergi dan Robi baru masuk dalam Bandara untuk mencari keberadaan Amira.
Amira pun memutuskan untuk pergi ke salah cafe, dimana cafe tersebut adalah milik dari teman sekolahnya dulu.
Sesampainya di sana, cafe nampak ramai pengunjung. Setelah membayar ongkos taksi, Amira segera masuk kedalam cafe dan mencari keberadaan temannya itu.
"Amira ..." panggil Eren yang melihat kedatangan Amira.
"Eren... "Sapa Amira dan keduanya langsung berpelukan melepas rindu.
"Apa kabarmu Amira? lama sekali tak bertemu, aku kangen kita kumpul bersama."
"Maaf, aku gak pernah ada waktu untuk datang berkunjung, Sebenarnya aku pengen banget menemuimu."
"Yah, aku maklumi, kamu kan sekarang sudah menikah, jadi fokus ma keluarga. ngomong-ngomong mana suamimu, kok gak di ajak?" tanya Eren.
"Eeemmm, aku sudah tidak bersama dengannya." jelas Amira.
"Kamu cerai?"
"Tidak, kami pisah ranjang, dan sekarang aku butuh pekerjaan melanjutkan hidup dan juga untuk biaya persalinan nanti." Jelas Amira sambil mengusap perutnya.
"Jadi sekarang kamu sedang hamil, dan suamimu ngajak pisah ranjang.Uuhhh, kasian sekali nasibmu Amira. Kebetulan di sini kekurangan karyawan, kalau kamu mau kamu bisa bekerja di sini. Tapi bagaimana dengan kehamilanmu?"
"Terimakasih Eren, kamu sahabat yang selalu ada. Jangan kuatirkan kehamilanku, aku yakin anakku bisa mengerti jika ibunya sedang berjuang untuk biaya kelahirannya." Amira pun terharu dan juga bersyukur, masih bisa menemukan sahabat baik yang mau menolong dirinya
__ADS_1
_TBC...
JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR KALIAN.☺️☺️☺️