
''Baiklah..baiklah! Ini hotel ini memang papamu yang membayarnya. Tapi itu sebelum pernikahan kita dibatalkan. Sekarang lihatlah! Kita tidak menikah, dan aku yang akan menikah dengan Silvana. Jadi hotel ini jelas milik kami sekarang,'' ucap Alan.
Yumna benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa ia pernah mencintai laki-laki yang sama sekali tidak tahu malu. Keluarganya sudah menganggap Alan seperti putranya sendiri, tapi lihatlah sekarang apa yang telah mereka lakukan.
''Ck...Benar-benar laki-laki yang menjijikkan! Selain sudah berani selingkuh, ternyata kau juga tidak tahu malu,''
''Kau!''
''Ada apa ini? Mengapa ribut-ribut?''
Tuan Harun dan Istrinya yang baru saja datang dari kamar hotel tempat mereka mempersiapkan diri. Baru saja mereka keluar, tapi sudah terdengar keributan di aula.
''Mama.... Lihatlah mantan calon menantumu itu. Dia datang membuat keributan di hari pernikahan kami,'' ucap Silvana sambil merengek di lengan Mamanya Alan.
''Ayumna?'' Dewi_ Mamanya Alan berdecih memandang rendah Yumna setelah melihat keributan yang dibuat oleh mantan calon menantunya itu.
''Apa kau masih belum terima di putusin oleh Alan, Yumna? Sampai-sampai kau mengacaukan pernikahan putraku,'' ucap Dewi.
''Haaah.... Apa saya tidak salah dengar Tante! Hotel ini papa saya yang menyewanya tentu saja saya yang harus memakainya. Sedangkan anda dan keluarga anda ...... ( Yumna menjeda ucapannya ia tersenyum melihat kekonyolan wajah yang keluarga Alan tampilkan )
''Apa yang kalian lakukan di sini ha?'' Ucap Yumn mencondongkan tubuhnya ke arah Dewi.
''Kau! Kau benar-benar wanita yang tidak tahu malu. Aaahk,''
Dewi akan melayangkan tamparannya ke arah Yumna. Namun dengan segera tangan Dewi di tangkap oleh Keenan. Tatapan Keenan seakan mengintimidasi seluruh ruangan membuat nyali Dewi ikut ciut seketika.
''Siapa kau? Berani-beraninya ikut campur dalam urusan keluarga kami!'' Ucap Dewi dengan penuh emosi.
''Mah... dia itu pria yang Yumna bayar untuk membantunya memgacaukan pernikahan kita. Sampai-sampai dia mengaku sebagai Tuan muda Keenan.'' Bisik Silvana.
''Tuan muda Keenan?'' Tuan Harun mengernyitkan dahinya. Meskipun ia belum pernah bertemu dengan Ceo DZ group, tapi ia juga sering mendengar desas-desus tentang Tuan muda itu.
''Ciih.... Yumna...Yumna. Saking tidak tahu malunya kau sampai menyewa seorang pria untuk mengaku sebagai Tuan Muda Keenan. Aku sungguh tidak mengira putri Tuan Sulaiman berani melakukan hal itu,'' Dewi semakin memojokkan Yumna.
__ADS_1
(''Bukannya dia yang tidak tahu malu, tapi malah menuduhku yang tak tahu malu? Dasar keluarga absurd!'' Batin Yumna.)
''Dari mana anda tahu kalau saya pria bayaran? Dan kenapa anda bisa seyakin itu?'' Ucap Keenan.
''Cih... Papaku....'' Belum selesai Silvana berucap Keenan langsung mengambil ponselnya dan terlihat menghubungi seseorang.
''Katakan pada Direktur cabang. Suruh dia memecat Tuan Hendra sekarang juga!'' Ucapnya Lalu telepon pun ia matikan dan memasukkannya kembali ponselnya ke sakunya.
Plok...plok..plok...
''Aku memberimu tepuk tangan yang meriah untuk menghormati akting kalian. Yumna kau sungguh sangat hebat,'' ucap Silvana.
Namun tak lama kemudian terlihat papanya Silvana datang dengan tergopoh-gopoh berlari ke arah mereka. Wajahnya terlihat pucat pasi seakan mendapat sebuah cambukan keras di badannya.
''Papa?''
Namun Hendra sama sekali tidak menghiraukan panggilan dari putrinya. Ia terus berjalan, lalu tiba-tiba bersujud di depan Keenan.
...Plak.......
''Maafkan sikap putri saya Tuan. Saya mohon batalkan pemecatan saya. Jika saya di pecat saya tidak akan mendapatkan pekerjaan dimanapun lagi,'' ucap Hendra.
Ya, memang benar jika sampai masuk daftar hitam perusahaan DZ, bisa dipastikan tidak akan ada perusahaan lain yang mau menerimanya. Karena sebagian besar dari mereka adalah rekan bisnis Keenan.
''Papa! Apa maksud papa? Mengapa papa memohon-mohon padanya. Dia itu pria pembohong pah, jangan percaya padanya!''
''Diamlah jika kau tidak ingin papa mengusirmu Vana! Apa yang sudah kau perbuat membuat papa kehilangan pekerjaan papa!''
''Apa? Jaa....di... ka....u'' Silvana tergagap setelah menyadari sesuatu.
Yumna hanya menaikkan alisnya bingung dengan keadaan yang terjadi. Padahal niatnya hanya ingin mengacaukan pernikahan mantannya namun mengapa bisa sampai memecat orang. Terlebih, Tuan Hendra sudah bekerja di tempat kerjanya itu sudah bertahun-tahun.
''Sebenarnya siapa pria yang sudah aku sewa ini? Mengapa kejadian ini seperti bukan rencana Anita?'' Batin Yumna yang kini mulai merasakan seakan semua ini bukanlah sebagian dari skenarionya.
__ADS_1
Yumna mundur perlahan-lahan. Ia ingin kabur dari kerumunan itu. Ia tidak ingin terlibat lagi dalam kekacauan itu. Namun tanpa di duga sebuah tangan dengan cepat mencekal lengannya dengan kuat.
''Kaau...!''
''Pertunjukan kita belum selesai. Mengapa kau ingin melarikan diri dulu?''
(''Sial! Bagaimana ini? Apa Anita salah membayar orang. Sekarang aku dalam masalah besar. Anita, awas kau nanti,'' batin Yumna yang mengutuk keras sahabatnya itu. )
...----------------...
''Haicyu......,''
''Siapa yang sudah mengutukku? Apakah Yumna? Gawat aku sudah mengiriminya pesan tapi dia sama sekali tidak membacanya. Jangan-jangan Yumna dalam masalah lagi,'' ucap Anita lalu ia pun berdiri menyambar tas dan jaketnya.
Anita memang menyewa orang untuk berpura-pura menjadi suami Yumna. Tapi karena hujan dan macet, pria bayarannya itu belum bisa datang.
...----------------...
Setelah kekacauan yang terjadi, dan juga pernikahan Alan dan Silvana yang batal, Yumna memilih pergi karena para tamu pun sudah pulang ke rumah masing-masing. Yumna berusaha menghindari Keenan dan pergi begitu saja meninggalkan Keenan.
''Kemana gadis itu?'' Keenan sudah mencari-cari keberadaan Yumna namun ia tak juga menemukannya.
''Permisi Tuan, apakah Tuan pernah melihat gadis ini?'' Tanya seorang pria yang baru saja datang sambil memperlihatkan foto yang ada di ponselnya.
(''Yumna?'')
''Seprtinya gadis itu sudah pulang. Lebih baik anda juga pulang karena pestanya juga sudah selesai,'' ucap Keenan.
''Ooo.... baiklah Tuan, terimakasih atas infonya,'' pria itu terlihat kebingungan lalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
''Pria bayarannya ternyata telat datangnya.'' Keenan tersenyum melihat kepergian pria itu.
''Kita berjumpa lagi Peri kecil,''
__ADS_1