
Setelah sampai diruangan mamanya fajar. Terlihat beliau sudah tidur. "Mungkin pengaruh obat." Kata asisten yang menjaga mamanya. Nyonya Eni menderita Kangker hati stadium 4 atau stadium akhir.
Pada tahap ini, kanker sudah mulai menyebar (metastatik) ke kelenjar getah bening terdekat atau kelenjar getah bening dan organ yang jauh. Ketika kanker telah menyebar ke paru-paru, tulang, atau organ lain yang jauh, tingkat kelangsungan hidup 5 tahun berkurang jauh yaitu 2 persen.
Fajar Aldiansyah usia 19 tahun, masuk di universitas jurusan bisnis dan manajemen.
Putra kedua Tuan Rudi Aldiansyah dan nyonya Eni Miranda. Pemilik DZ group, perusahaan yang berjalan dibidang busana . Tapi sayang Tuan Rudi ayah Fajar meninggal karna kecelakaan yang sudah direncanakan oleh saingan bisnisnya dua tahun yang lalu. Saat ini perusahaan di pegang oleh kakak Fajar yaitu Keenan Alvaro.
Sedangkan Fajar mendapatkan tugas untuk merawat mamanya dan menyelesaikan kuliahnya.
Di usia yang terbilang muda mereka berdua harus kehilangan sandaran hidup, pemimpin keluarga dan super hero mereka. Kakak beradik itu pun harus memikul tanggung jawab yang besar, pada mamanya yang sedang sakit dan kepada para karyawan yang ada dalam nauangan DZ group.
Saat Fajar dan Yumna baru saja duduk, ternyata nyonya Eni sudah bangun. Dia sangat senang melihat putra keduanya datang menjenguknya.
Fajar sangat sibuk, dan jarang pulang kerumah. Bahkan akhir pekan pun dia banyak kegiatan.
Apa lagi dilihatnya, putranya tidak datang sendiri, tapi bersama seorang gadis.
"Apa gadis itu pacar putraku." Guman nyonya Eni.
"Fajar." Panggil nyonya Eni.
"Mama.....'' Bagaimana keadaan mama?. "Apa ada yang sakit." Kata Fajar sambil memeluk Mamanya.
"Tidak nak." Mama baik-baik saja. Kemaren hanya kan ada Dokter yang selalu mengawasi mama. Kamu tidak perlu terlalu mengkhawatirkan mama. Ngomong-ngomong apa kakakmu tidak ikut?" ucap nyonya Eni yang mencoba menenangkan putranya yang sedang khawatir.
"Kakak masih sibuk dengan pekerjaannya, mah. Katanya setelah semuanya beres, kakak akan langsung datang ke mari.''
''Mama...... mama harus kuat, mama harus bisa bertahan. Fajar yakin mama pasti akan sembuh!" Fajar merasa sangat sedih, karna dia tidak bisa selalu menemani Mamanya.
__ADS_1
"Iya.... Mama kuat kok, mama juga yakin mama pasti akan sembuh.'' Nyonya Eni melirik ke arah Yumna.
''Nak, ngomong-ngomong siapa gadis cantik ini,'' Tanya nyonya Eni.
"Ya Allah! Fajar sampai lupa. Oh iya mah! ini kaka......?
"Yumna tante." Ucap Yumna yang langsung menyela ucapan Fajar. karna Fajar sendiri belum tau namanya.
Yumna pun menghampiri nyonya Eni dan memberi salam serta doa supaya nyonya Eni lekas sembuh.
"Apa nak Yumna ini, kekasihmu nak?'' Tanya nyonya Eni tiba-tiba dan langsung membuat Yumna yang sedang minum pun langsung tersedak .
Uhuk....uhuk...uhuk...
"Eh bukan Ma! ini kak Yumna tadi------'' Lalu Fajar pun menceritakan segalanya dari awal pertemuan hingga sekarang.
Nyonya Eni pun mengangguk mengerti. Meski sedikit kecewa, ia sangat berharap gadis itu kekasih anaknya dan akan segera menikahkannya. Agar setidaknya ada yang mengurus putranya kelak saat dirinya sudah tiada.
"Oh begitu ya nak, kalau begitu Tante meminta maaf gara-gara Putra Tante, kamu jadi mengalami kecelakaan.'' Ucap Nyonya Eni dengan tulus.
"Tidak apa-apa kok Tante, mungkin saya yang kurang beruntung hari ini," ucap Yumna sambil tersenyum.
Oh senyum itu sangat manis. Fajar sangat terpesona dan tak bisa mengedipkan matanya melihat gadis itu tersenyum.
Namun dibalik senyuman itu, terdapat begitu banyak goresan luka. Dan Fajar sepertinya sangat mengetahui itu saat melihat mata Yumna yang berkaca-kaca.
Karna hari semakin larut, Fajar pun berpamitan pada mamanya, untuk mengantarkan Yumna pulang. Pada awalnya Yumna menolak, dan bersikukuh untuk pulang sendiri. Namun karena paksaan dari Fajar dan Nyonya Eni akhirnya Yumna pun menyetujuinya.
Katanya "Tidak baik anak gadis pulang larut malam sendiri".
__ADS_1
Jalanan sudah mulai sepi karena memang hari sudah sangat larut. Terlihat rumah Yumna masih gelap. Motor yang di kendarai oleh Fajar kini sudah sampai di depan halaman rumah Yumna.
''Terimakasih.''
Yumna turun dari motor Fajar dan menyerahkan helmnya.
''Apa kakak yakin ini rumah kakak?'' Ucap Fajar.
''Menurutmu!'' Ucap Yumna yang langsung berjalan meninggalkan Fajar karena mulai kesal, Fajar yang tidak percaya padanya.
''Kok pergi begitu saja kak?'' Teriak Fajar. Namun Yumna hanya melambaikan tangannya.
''Kak, lusa mobilnya akan Fajar antarkan ke sini!'' Fajar berlari menyusul langkah kaki Yumna.
''Pergilah!'' Yumna hendak menutup pintu namun Fajar dengan sigap menahannya.
''Berikan dulu no ponsel kaka!''
''Untuk apa aku memberimu no ponselku?''
''Jika kakak tidak memberikannya, bagaimana caranya aku menghubungi kakak jika nanti mobilnya sudah di perbaiki?''
Yumna pun tepaksa memberikan no ponselnya.
''Sudahkan?''
Fajar mengangguk senang. Entah apa yang ada dipikiran pemuda itu. Ia terlihat tersenyum setelah mendapatkan no ponsel Yumna.
''Sekarang pergilah! Ini sudah sangat malam. Aku ingin cepat-cepat istrirahat!'' Yumna mendorong tubuh Fajar supaya tidak menghalangi pintu yang akan ia tutup.
__ADS_1
Fajar yang melihat Yumna sudah memasuki rumahnya. Ia pun melajukan motornya kembali Kerumah sakit untuk menemani Mamanya.