
Ke esokan paginya...
Pagi-pagi sekali Yumna sudah selesai memasak nasi goreng telur dadar. Rencananya hari ini ia akan segera mulai bekerja kembali di butiknya.
Setelah selesai bersiap-siap, ia pun turun kembali ke lantai bawah untuk sarapan. Di sana ternyata Keenan sudah duduk manis di kursi meja makan. Yumna teringat tentang apa yang ia pikirkan semalaman ini.
''Ekhemm... Pagi,'' sapa Yumna.
Keenan menoleh saat mendengar sapaan dari Yumna. Lalu menjawab ''Pagi Nana,''
Yumna menarik salah satu kursinya kemudian ikut duduk.
''Aku ingin menanyakan sesuatu hal padamu," ucap Yumna. Sambil melahap nasi gorengnya.
"Ada apa? Sepertinya ada yang mengganggu pikiran mu. Jika ada yang ingin kau tanyakan apapun itu, aku akan menjawabnya dengan jujur," ucap Keenan sambil mengunyah makanannya.
Keenan tersenyum melahap makanannya. ''Hemm... Seperti biasa, masakanmu masih tetap yang paling enak,''
Yumna mengaggukan kepalanya. "Keen, emm.. ngomong-ngomong sampai kapan kamu akan tinggal di sini?" tanya Yumna yang sukses menghentikan kunyahan Keenan hingga ia tersedak.
Uhuk...uhuk... uhuk...
''Selamanya," jawab spontan Keenan setelah ia meneguk air minumnya. Mendengar jawaban Keenan membuat Yumna terkejut sampai berdiri.
"Apa!''
"Kenapa? Apa tidak boleh?'' Jawab Keenan tanpa merasa ada yang salah dengan ucapannya itu.
"Keen, kamu punya rumah sendiri kan? Lagi pula, aku gak mau jadi gunjingan tetangga. Kita sudah tidak ada hubungan apapun!'' Ucap Yumna dengan kesal.
"Maka dari itu bukankah lebih baik kalau kita menikah? Agar tidak menjadi omongan tetangga," jawab Keenan dengan enteng .
"Kau!'' Yumna mengusap kepalanya dengan kasar. Perlahan membuang nafasnya.
''Bukankah aku sudah menjelaskan semuanya padamu kemaren? Untuk saat ini, aku belum bisa memberikan hatiku lagi padamu Ken. Aku tidak mau terluka lagi," ucap Yumna yang sukses membuat Keenan menghentikan makannya.
__ADS_1
"Maaf kan aku. Gara-gara aku, kau jadi banyak menderita,''
"Bukan begitu maksud ku Keen,''
"Kau benar Na,'' ( Keenan berdiri dari tempat duduknya.) ''Nanti aku akan pulang ke rumah mama, tapi ada hal yang harus kau ingat! Sampai kapanpun aku akan berusaha mendapatkan hati dan kepercayaan mu kembali,'' setelah itu Keenan pun pergi mengemasi barang-barangnya dan meninggalkan rumah Yumna.
...----------------...
Dua bulan sudah berlalu sejak kedatangan Yumna kembali. Sedangkan Keenan, setelah pembicaraan waktu itu, dia masih sering mengunjungi Yumna di rumah maupun di butik.
Hari ini Yumna datang ke salah satu cabang butiknya di temani oleh Anita dan Arumi. Ya, Anita kembali ke kotanya untuk mengurus toko rotinya, karena sang suami juga dipindah tugaskan dari kantornya.
Yumna meminta Anita dan Arumi untuk mencoba disain dreesnya yang baru saja ia selesaikan.
"Bagaimana? Apakah kalian suka?" tanya Yumna dengan antusias.
"Waaah.... Daebak Nana, keren...keren. Kali ini aku benar-benar dibuat kagum olehmu Na. Drees ini benar-benar sangat cantik dan pas dibadan aku,'' ucap Arumi yang terus memutarkan badannya di depan cermin. Anita juga sangat setuju dengan apa yang di ucapkan oleh Arumi.
"Benarkah?'' Yumna senang karena sahabatnya menyukai rancangannya.
Tak berselang lama Marisa terlihat sangat terburu-buru ketoilet. Namun sebelumnya, ia sudah meminta tolong pada karyawan lain, namun karena ini jam makan siang dan semua orang sedang sibuk, akhirnya Yumna lah yang menggantikanya sebagai kasir.
Tak berselang lama datang sepasang pelanggan yang menghampiri meja kasir. Dan betapa terkejutnya mereka saat melihat Yumna yang menjadi kasirnya.
"Wah Yumna Mikaila Pradibyo. Apakah ini kau?'' ucap orang itu yang tak lain adalah Alan dan Silvana.
"Emm..." Yumna hanya berdehem sebagai jawabannya namun tetapan datar.
Hingga kemudian muncul lagi kedua orang tua Alan. Mereka menyusul setelah mendengar nama Yumna disebut-sebut.
"Wah ternyata mantan calon menantuku sekarang bekerja sebagai kasir! Malang sekali nasibmu nak," ejek Dewi yang mulai memandang rendah Yumna.
"Iya tante, saya memang sedang bekerja di sini," jawab Yumna dengan tenang karena ia berpikir biarlah apa yang dipikirkan mereka tentang dirinya, lagipula ia sangat malas meladeni mereka." Guman Yumna.
"Wah sayang, untung saja kamu gak jadi nikah dengan dia ya, kalau tidak aku gak bisa ngebayangin bagaimana hidup kamu nanti," ucap Silvana.
__ADS_1
"Tentu sayang, kami beruntung Alan tidak jadi menikahinya dan sekarang sudah menikahimu," Dewi merasa bangga dengan pilihan Alan dan menatap sinis Yumna.
Karena mendengar keributan, Anita dan Arumi pun menghampiri Yumna. Mereka sangat kesal saat melihat sahabatnya direndahkan.
"Cih! Kalian ini memang keluarga yang sempurna ya. Bisanya ngrendahin orang, namun tidak bisa melihat wajah sendiri," ucap Anita yang sudah emosi.
"Sudah... sudah. Lebih baik kita ke dalam saja,'' ajak Yumna yang tak ingin ada keributan. Apalagi jika sampai melibatkan kedua sahabatnya.
Namun....
''Ck...'' Sudah jatuh miskin masih sombong. Hanya kasir saja belagu,'' cemoh Dewi.
Namun tak berselang lama, Marisa yang bertugas sebagai kasir pun datang menghampiri mereka dan meminta maaf.
"Maafkan saya ya bos, saya sudah merepotkan bos " ucap Marisa yang merasa tidak enak karena telah merepotkan Yumna.
"Kau ini bicara apa sih Sa? Lagi pula bukankah ini pekerjaan kita bersama. Aku dan sahabatku ke dalam dulu ya Sa, tolong kamu kayani Tuan Alan dan Nona Silvana ini,'' ucap Yumna sambil menarik tangan Anita dan Arumi.
Keluarga Alan terkejut mendengar kasir itu menyebut Yumna dengan sebutan Bos. Karena merasa sangat penasaran, mereka pun bertanya pada Marisa. ''Permisi, saya mau tanya. Sebenarnya Gadis itu bekerja sebagai apa di sini?'' Ucap Dewi.
Marisa pun kemudian menjelaskan bahwa Yumna adalah pemilik butik ini. Mendengar pernyataan Marisa, sukses membuat keluarga Alan terkejut.
"Apa!'' Jadi dia pemilik butik dan restoran ini?" ucap Silvana yang masih merasa tidak percaya.
"Iya. Bukanya gadis itu sudah jatuh miskin ya? Bagaimana mungkin dalam waktu dua tahun bisa sesukses ini? " Timpal Dewi.
Setelah itu mereka pun melanjutkan makan-makan mereka masih dengan pemikiran dan rasa tidak percaya dengan apa yang mereka lihat dan dengar.
Tak berselang lama, datang seorang pemuda yang tampan yang berjalan dengan terburu-buru karena akan menemui sang kekasih.
Siapa lagi kalau bukan Keenan. Sampai-sampai ia tak sengaja menabrak seorang pelayan dan jadi tontonan para pengunjung karena jasnya basah.
"Maaf...maaf. Saya sedang terburu- buru.'' Fajar mengelap jasnya yang basah.
"Ah iya Tuan. Saya yang seharusnya meminta maaf karena telah membuat pakaian anda basah. Mari Tuan, silahkan masuk. Tadi nona Yumna sudah berpesan agar saat Tuan datang langsung saja masuk ke ruangan Nona." ucap pelayan yang tak sengaja ditabrak oleh Keenan.
__ADS_1
Lalu Keenan pun buru-buru masuk untuk menemui pujaan hatinya. Dan kejadian itu pun tak luput dari pandangan keluarga Alan.