
Pagi-pagi sekali Yumna sudah berada di butiknya untuk menyiapkan bebrapa contoh baju. Karena hari ini Dosen Yumna akan datang berkunjung dan membuat pesanan gaun pengantin untuk dipakai di hari pernikahannya. Yumna sibuk mendisain sketsa bajunya. Sedangkan Tere dan Marisa sibuk menyiapkan bahan-bahannya.
Tak lama kemudian bel pintu berdenting. Terlihat wanita paruh baya dan juga seorang gadis muda datang ke butik Yumna.
''Mah, apa mama yakin kita akan memesan gaunku di tempat ini?'' Ucap gadis itu.
''Iyaaa.... ''Lihatlah dulu contoh-contohnya. Mama lihat kemaren butik ini sedang mengadakan diskon besar-besaran karena baru di buka. Bukankah itu bagus untuk kita? Kita bisa menghemat sebagian mahar dari calon suamimu itu,''
''Tapi mah....''
''Sudah! Jangan berisik lagi. Ayo cepat masuk!''
Marisa mempersilahkan tamu itu untuk masuk dan melihat-lihat dulu. Namun tak berapa lama kemudian......
''Kak Yumna!''
''Apa sih Sa? Datang-datang sudah bikin orang terkejut,'' ucap Yumna. Namun matanya masih fokus dengan pensil yang ia genggam sembari melukis tiap detail pola-pola yang akan ia jadikan gaun pengantinnya itu.
''Di luar ada pengunjung kak, tapi.....'' Marisa sedikit enggan melanjutkan kata-katanya.
Yumna mengerutkan keningnya mendengar ucapan Marisa yang tak kunjung di selesaikannya lalu ia pun menaruh pensilnya.
''Tapi apa Sa?''
''Tapi....''
''Katakan atau gajimu bulan ini aku potong!''
''Ampun dong bos. Janganlah dipotong,''
''Makannya cepat selesaikan bicaramu. Dari tadi sudah ditungguin malah tapi tapi mulu,'' ucap Yumna.
''Iya deh bos. Aku lanjutin deh. Di luar ada pengunjung, tapi dia minta diskon besar-besaran. Padahal kan diskonnya hanya potongan harga 50% jika mereka membelinya diatas harga dua baju. Tapi katanya kalau kita tidak memberikan mereka diskon, mereka akan merekam dan menyebarkan vidio jelek tentang toko kita ini kak,'' ucap Marisa.
''Apa! Mengapa mereka berbicara seperti itu?''
__ADS_1
''Mungkin dikiranya kita ini mudah di gertak kali kak,'' Timpal Tere.
Yumna pun melepaskan kaca matanya dan menaruh sketsanya di atas meja. Ia pun segera bergegas mendatangi pengunjung itu.
''Kalian siap-siap lapor security jika sampai mereka membuat keributan. Aku akan mencoba berbicara dulu dengan mereka,'' ucap Yumna.
''Baik kak,'' Tere pun segera melapor le security sedangkan Marisa di minta untuk menemani Yumna.
Namun, betapa terkejutnya Yumna saat melihat siapa gerangan pengunjung itu. ''Silvana?''
Silvana menyipitkan kedua matanya melihat Yumna datang menghampirinya. Ia pun menyenggol mertuanya itu agar melihat ke arah Yumna.
''Yumna?'' Dewi sedikit terkejut melihat kedatangan Yumna dan pelayan yang melayaninya tadi. Namun ia segera menetralkan keterkejutannya itu. Dewi mengira kalau Yumna mungkin bekerja di sini juga sebagai pegawai toko ini.
''Duduklah!''
Yumna menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan mantan calon mertuanya itu. Namun ia tetap duduk juga.
''Halo Bos?'' Di balik tembok ternyata ada seorang pria yang sedari tadi mengawasi setiap gerak-gerik Yumna.
''Seprtinya Nona Nyonya Yumna dalam masalah.'' Pria itu terlihat memberi laporan kepada seseorang yang di duga sebagai bos yang menyuruhnya.
''Sekarang katakan padaku mengapa anda membuat keributan di sini?'' ucap Yumna sambil meminum tehnya.
''Panggil saja managermu, aku ingin membuat keluan tentang tokonya ini. Memberikan pelayanan yang buruk kepada calon pelanggannya.''
Silvana tersenyum melihat Mertuanya itu merendahkan Yumna.
''Jika kalian tidak segera memanggilnya, aku akan meminta putraku untuk mem_blacklist toko kalian ini. Bukankah kamu tahu betul kalau Alan adalah manager besar di cabang DZ group. Bahkan jika aku mau, aku bisa saja menghentikan semua email kamu dan membuat kamu kehilangan pekerjaan apapun.'' Dewi berkata dengan bangganya.
Namun Yumna sama sekali tidak merasa takut. Ia kembali meneguk sisa teh yang ada di cangkirnya lalu meletakkannya kembali di meja. ''Terimakasih atas peringatan Anda.''
Mendengar jawaban Yumna, Silvana tersenyum sinis lalu berkata ''Sepertinya aku harus memasang tanda di depan toko ini agar tidak menerima karyawan sepertimu,'' ucap Silvana.
''Oh ya? Apakah aku juga harus mengucapkan terimakasih kepadamu juga?'' Balas Yumna
__ADS_1
''Ayumna,'' Singkirkan trik bodohmu itu dan jangan berpura-pura santai di depanku. Aku tahu kau masih mencintai putraku bukan? Makannya kamu bersikap seperti itu supaya menarik perhatianku dan aku mau menerimamu kembali bukan?''
''Yumna, Tante tahu kamu belum bisa melupakannya, tapi aku bisa menasehatimu baik-baik. Jangan buang-buang waktumu karena aku tidak akan sudi menerima menantu miskin sepertimu. Tidak peduli apapun yang kau lakukan, aku pastikan kau tidak akan mendapatkan Alan kembali,'' ucap Dewi.
Yumna hanya mengangguk-anggukan kepalanya dan menuangkan tehnya kembali.
''Jika kau pintar, ambil uang ini lalu pergilah jauh-jauh dari kehidupan kami termasuk pergi jauh dari kehidupan Alan. Jangan pernah lagi muncul di hadapan kami ,'' ucap Dewi sambil memberikan sebuah amplop yang berisi uang.
''Waouh, c'est super,'' Yumna bertepuk tangan mendengar ucapan mantan calon mertuanya itu.
''Adegan ini rasanya seperti familiar dengan judul ''Menantu miskin yang di tolak oleh calon mertuanya'' Berpisah dengan Alan sepertinya juga sebuah kesepakatan yang bagus.'' Yumna berkata sambil menghitung uang yang diberikan oleh Dewi.
''Aku tahu gadis miskin sepertimu pasti tidak akan bisa menolaknya. Terlebih jika dilihat keadaan mu sekarang ini. Yaaah... hitung-hitung uang ini untuk membalas budi atas pertolongan papamu dulu,'' ucap Dewi.
Yumna masih menampilkan senyumannya ''Tapi uang ini terlalu sedikit. Dulu papaku bahkan sampai menjual sebagian sahamnya hanya untuk menolong anjing yang tidak tahu diri seperti kalian itu. Tapi anda hanya memberi saya uang tiga juta?'' Yumna meletakkan kembali uang itu di hadapan Dewi.
''Silvana....''
Mendengar namanya di sebut, Silvana pun menoleh ke arah Yumna.
''Apa kau ingat sahabatku, waktu aku mengusirmu dari apartemenku? Aku memiliki rekaman CCTV di tempat itu. Jika kau menyukainya, aku bisa mengirimimu salinnya sebagai kado pernikahanmu. Apa kau suka?''
''Kau!'' Silvana kesal lalu menunjukan jarinya ke arah Yumna.
''Jangan berterimakasih dulu,'' Yumna menggenggam tangan Silvana dengan erat hingga Silvana kesulitan untuk menariknya kembali. ''Jika Tante juga menyukainya, aku bisa mengiriminya juga ke rumah Tante. Aku punya banyak salinnanya. Atau... Tante bisa membayarnya juga?'' ucap Yumna dengan santainya.
''Kau!''
Sekarang giliran Dewi yang berdiri kesal lalu akan mengambil cangkir tehnya namun Yumna dengan cepat merebutnya.
''Kau!''
Dan Byuur....
Dewi dan Silvana berteriak kesal penuh emosi karena telah disiram teh oleh Yumna.
__ADS_1
''Aduuh.... Maafkan Yumna Tante, tangan Yumna terasa licin. Lebih baik Tante dan Silvana segera pulang untuk berganti pakaian. Jika tidak, anda bisa terkena Flu dan masuk angin.''
Dewi dan Silvana benar-benar di buat emosi oleh Yumna. Mereka pun pergi begitu saja meninggalkan butik Yumna.