Suami Kontrak

Suami Kontrak
Lamaran Keenan


__ADS_3

Setelah sampai di ruangan Yumna, Keenan ingin memberikan sebuah kejutan pada Yumna. Ia pun menutup kedua mata Yumna menggunakan telapak tangannya.


"Coba tebak, siapa aku?''


''Pertanyaan yang sangat bodoh. Siapa lagi kalau bukan pria aneh yang selalu menggangguku setiap harinya." Ucap Yumna dan melepaskan telapak tangan Keenan dari wajahnya.


"Oh, sama ini sekali tidak seru.'' Keenan mendudukkan tubuhnya di sofa dekat tempat duduk Yumna.


''Kenapa kamu selalu tahu sih kalau itu aku, My Wife?" ucap Keenan.


''Ck...'' Yumna hanya berdecak sebal mendengar Keenan memanggilnya dengan sebutan My Wife. Entah sejak kapan, Keenan selalu memanggilnya dengan sebutan my wife.


Namun Yumna juga sama sekali tidak keberatan atas panggilan itu. Baginya jika memang mereka ditakdirkan bersama, maka tak ada yang bisa mengelak.


''Ada perlu apa kamu datang ke sini?" tanya_nya lagi.


''My Wife, aku ingin berbicara serius denganmu. Kau tau usia kita sudah tak muda lagi bukan? Dan kamu juga tahu aku tidak suka berpacaran," ucap Keenan kemudian di pun menjeda ucapannya dan menarik nafasnya dalam-dalam.


''Lalu...?'' Yumna mengeryitkan dahinya mendengar ucapan Keenan yang terdengar ambigu.


Bagi Keenan sungguh ini sangat membuatnya gugup. Bahkan lebih gugup dan berdebar-debar dari pada lamarannya yang dulu. Ya, hari ini Keenan berencana akan melamar Yumna setelah perdebatan panjang dengan hati dan pikirannya semalam.


Hingga akhirnya ia memantapkan tekadnya untuk segera bertindak secepatnya. Selain dirinya ia juga menyadari jika Fajar sang adik masih menaruh rasa suka terhadap Yumna. Jadi ia tidak ingin jika sampai keduluan adiknya ataupun orang lain.


Keenan berlutut di hadapan Yumna sambil memegang telapak tangan Yumna.

__ADS_1


''Yumna peri kecilku, aku sudah menunggu momen saat ini untuk waktu yang lama. Untuk mengatakan ini, aku butuh banyak waktu. Mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. Bermunajat pada Tuhan untuk menentukan pilihan yang paling tepat. Berkali-kali ku tanya pada hatiku sendiri. Sudah tepatkah pilihanku? Dan berkali-kali pula jawabanku tetap sama, yaitu kamu.


''Ayumna Mikaila Pradibyo, maukah kau menjadi belahan jiwaku ,menjadi istriku dan menjadi bagian dari hidupku selamanya membangun rumah tangga yang bahagia hingga menua bersama dan dipisahkan oleh akhir hayat kita," ucap Keenan sambil mengangkat satu tangannya yang menunjukkan sebuah cicin yang indah di hadapan Yumna.


Yumna sendiri tidak dapat berkata apa-apa lagi. Tak dapat ia dipungkiri, cintanya memang masih milik Keenan. Dan selama ini ia mencoba mengacuhkan segala perhatian dan ketulusan Keenan karena masih menyimpan ketakutan direlung hati yang dalam. Tentang kegagalannya di masa lalu.


Namun cintanya sepertinya mengalahkannya. Bahkan tanpa sadar, Yumna langsung mengangguk mengiyakannya.


''Benarkah kau menerima lamaranku Na?'' Ucap Keenan yang masih belum mempercayainya.


Sekali lagi Yumna menganggukan kepalanya. Dan mereka pun berpelukan hingga tanpa terasa air mata Yumnq dan Keenan sudah membasahi pipi mereka.


Setelah satu bulan Keenan melamar Yumna, kini dua minggu lagi mereka akan melangsungkan pernikahan.


Hari ini Yumna sudah mulai membereskan pekerjaannya agar tidak mengganggu kelak acaranya yang akan di adakan dua minggu lagi. Keenan sudah datang menjemputnya mereka akan pergi untuk memilih cincin pernikahan mereka.


Sepertinya mereka juga sedang memilih-milih cincin juga.


"Wah wah, kukira siapa ini. Ternyata gadis ****** nan miskin yang akan memilih perhiasan juga ya, "sarkas Silvana.


''Ups... Sorry! Relet, sudah jadi kaya lagi. Karena berhasil menggaet pria kaya seperti Tuan muda Keenan. Iya kan Yumna?"katanya lagi.


Yumna masih diam dan sama sekali tak membalas satu kata pun. Bahkan Keenan saja sudah mengepalkan kedua tangannya berusaha menahan emosinya. Ingin rasanya ia menguliti wanita yang sudah menghina orang yang sangat ia cintai itu.


"Oh Tuan Keenan, anda jangan mau ditipu oleh perempuan busuk ini. Dia hanya mau harta anda saja. Lebih baik anda tinggalkan dia, maka aku akan bersedia jika anda membutuhkan saya," ucap Silvana tanpa sadar dan membuat Alan seketika memelototinya.

__ADS_1


Yumna yang tak ingin ada keributan lagi. Ia ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan ketenangan dan kedamaian. Setelah menerima pesanannya, ia pun bergegas menarik tangan Keenan untuk segera pergi dari sana dan menyisakan Alan yang sedang berdebat akibat kata-kata Silvana tadi.


Keenan masih saja cemberut dalam pikirannya Yumna ini hatinya terbuat dari apa si. Sudah dihina begitu masih aja diem- diem bae🤣🤣.


"Hei...'' Yumna melambaikan tangannya di depan wajah Keenan yang terlihat masih emosi.


''Apa yang membuatmu marah?'' tanya Yumna dengan tampang wajah polosnya.


Keenan masih diam tak bergeming dan masih cemberut. Yumna yang gemaz akhirnya menghentikan langkahnya dan mencubit kedua pipi Keenan hingga yang mpunya mengaduh kesakitan.


"Ya Tuhan, lucu sekali si calon suami aku ini. Gemeziiinn deh," ucap Yumna yang masih menampilkan wajah tersenyumnya.


"Hei, apa kau tidak bisa marah sedikitpun? Bagaimana bisa kamu masih tersenyum saat ada orang yang menghinamu di depan umum my wife?" Ucap Keenan.


"Lalu aku harus apa? Apa aku harus menamparnya dan balik menghinanya sambil berteriak-teriak di depan umum juga?"Ucap Yumna.


"Ya, tidak seperti itujuga dong. Paling tidak itu, kamu membela diri dan jangan hanya diam aja. Aku benar-benar tidak suka orang yang aku cintai di hina dan di sakiti oleh orang lain, " ucap Keenan.


Yumna yang memahami kekhawatiran Keenan, ia pun mulai memeluk Keenan untuk menenangkan hati calon suaminya itu.


"Aku sungguh tidak apa-apa kok. Dan aku sudah terbiasa mendapatkan perlakuan seperti itu. Kamu jangan khawatir, aku diam bukan berarti aku kalah ataupun lemah. Aku hanya tidak mau ada keributan. Dan lagi pula itu di tempat umum banyak yang melihat.


Yumna masih menjeda ucapannya sambil melihat ekpresi wajah kekasihnya itu.


"Selama masih ada kamu, aku tidak perlu khawatir. Biarkanlah mereka berkata sesuka hati mereka. Toh nanti kalau sudah capek dan bosan pasti akan diam sendiri. Sudahlah jangan marah lagi, lebih baik kita mengurus urusan kita sendiri, Ok!'' ucap Yumna.

__ADS_1


"Hemm...'' Hanya deheman yang di jadikan Keenan sebagai jawaban.


__ADS_2