
''Bagaimana kabarmu Na?''
Yumna tersenyum lalu meminum teh hijau kesukaannya.
''Aku baik-baik saja,'' jawab Yumna dan menaruh cangkir tehnya.
Di hadapannya seorang pria tengah duduk dan mengobrol dengannya. Pria yang dulu pernah memenuhi isi relung hatinya, kehidupannya selama 11 tahun lamanya.
''Alan, kau baik-baik saja bukan? Mengapa wajahmu terlihat pucat?''
Ya,pria itu adalah Alan sang mantan tunangan. Dua hari yang lalu, tiba-tiba saja Alan menghubungi ponsel Yumna dan memintanya untuk bertemu. Awalnya Keenan tidak mengizinkannya namun Yumna berusaha membujuknya karena baginya biar bagaimanapun Ia harus mengatakan sesuatu yang sudah lama ia pendam. Dan ia ingin mengakhirinya dengan baik-baik.
''Besok aku akan pergi ke Singapura untuk berobat. Satu bulan yang lalu Dokter mendiagnosa sakit kanker paru-paru.'' Ucap Alan tersenyum.
''Kangker? Bagaimana bisa kau terkena kangker?'' Yumna menutup mulutnya tak percaya. Meskipun Alan pernah menyakiti hatinya, namun Alan juga pernah menjadi bagian dalam hidupnya. Meski buka. sebagai pasangan, Yumna sudah menganggap Alan seperti kakaknya sendiri. Ia merasa terkejut saat tiba-tiba mendengar Alan terkena penyakit kangker.
''Silvana sudah meninggalkanku. Perusahaan juga sudah bangkrut akibat ulahku,'' Alan menundukkan kepalannya. Ada buliran-buliran bening yang jatuh menetes membasahi pipinya. Dengan cepat ia segera mengusapnya.
''Kau jangan terlalu banyak beban pikiran. Bukankah kau akan pergi berobat? Lebih baik jangan memikirkan hal yang sudah berlalu dan fokuslah dalam pengobatanmu supaya lekas sembuh,'' ucap Yumna.
''Maafkan aku Na. Mungkin, ini semua adalah hukum karma untukku. Aku sudah banyak menyakiti hatimu dan juga orang tuamu. Kalian sudah banyak membantu keluarga kami, tapi kami malah tidak tahu diri dan melemparkan kotoran ke wajah kalian. Maafkan aku Nana,'' Alan memegang kedua tangan Yumna.
__ADS_1
''Nana! Anita sudah menelpon berulang kali. Ayo kita segera ke sana!'' Teriak Keenan yang ternyata sudah menunggu Yumna di luar restoran.
''Ya, aku akan segera menyusulmu. Tunggulah sebentar!'' Jawab Yumna yang melepaskan genggaman tangan Alan. Lalu berdiri.
Yumna tersenyum menatap wajah Alan.
''Alan, aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kamu berpikir untuk meminta maaf padaku. Dan mengenai orang tuaku, pasti mereka juga sudah memaafkan dirimu. Maafkan aku, aku tidak bisa berlama-lama menemanimu untuk ngobrol lagi. Aku harus segera pergi.''
Yumna berjalan melangkah meninggalkan Alan yang masih duduk. Namun ia berhenti di langkah terakhirnya...''Alan, jika kelak kau menemukan cintamu lagi, jagalah ia sepenuh hati. Jangan menyakitinya, dan jangan mengecewakannya. Karena jika kamu sudah melewatkannya maka kamu mungkin tidak akan menemukannya lagi. Semoga lekas sembuh Alan,'' ucap Yumna yang kemudian menghilang di balik pintu.
Alan tersenyum mendengar ucapan Yumna. Gadis itu memang gadis yang paling baik yang pernah ia temui. Sejak kecil, sifat dan sikapnya sama sekali tidak berubah. Bayangan Alan pun memutar ke 7 tahun yang lalu.
...----------------...
''Wow Na, kau memang masih yang paling cantik dari dulu sampai sekarang,'' Anita memberikan dua jempolnya ke arah Yumna.
Hari ini adalah hari pernikahan Yumna dan Keenan.
Saat ini, Yumna tengah berias diri dibantu oleh kedua sahabatnya Arumi dan Anita.
''Oh Nanaku sayang, maukah kau kawin lari denganku?'' Arumi berlutut seolah sedang melamar Yumna.
__ADS_1
''Baiklah, aku akan berganti sepatu dulu. Tidak enak jika kita berlari menggunakan sepatu hak tinggi.'' Balas Yumna.
''Hei Nona, jika kau lari dari pernikahan mu, lalu bagaimana dengan Tuan Muda Keenan nanti?'' Anita berpura-pura menghadang kedua sahabatnya itu.
''Biarkan kau yang menjadi pengantin penggantinya,''
''Kampret lu ah,'' ucap Anita spontan
''Hahahahahahhahahaaaaa...'' Dan mereka bertiga pun tertawa terbahak-bahak.
...----------------...
Yumna melangkahkan kakinya menapaki taburan bunga di atas kain yang berwarna merah muda. Senyumannya tak pernah luntur dari wajah cantiknya. Gaun berwarna putih membuatnya semakin terlihat cantik.
Sesaat langkah kakinya terhenti, matanya tertuju pada sosok laki-laki yang saat ini tengah menantinya dengan wajah penuh dengan kebahagiaan.
...''Sebenarnya aku tidak pernah membayangkan bahwa akan ada hari di mana aku bisa mendapatkan kebahagiaanku setelah kehilangan, penghiyatan dan kepedihan yang ku alami dimasa lalu. Kebahagiaan ini rasanya seperti memenangkan sebuah lotre bagiku. Keenan, aku pernah mengira takdir begitu kejam padaku. Sampai aku bertemu denganmu, aku baru tahu nasib buruk pasti pada akhirnya akan berganti dengan nasib yang baik. Di saat takdir mempermainkanku namun Tuhan masih berbelas kasih padaku. Biarkan aku memilikimu sampai akhir di kehidupan kita, aku pasti akan berusaha untuk selalu berada disisimu dan mendampingimu saat susah maupun senang, saat duka maupun bahagia . Jika suatu hari nanti, tubuhku sudah menua dan rambutku sudah memutih setidaknya aku masih bisa tersenyum kepadamu,"...
...Tamat ........
Terima kasih untuk pembaca setia Suami Kontrak. Meskipun tulisan Mala jauh dari kata bagus dan sempurna, namun Mala sudah berusaha sepenuh hati untuk menyajikan hasil imajinasi Mala sendiri dan berusaha memberikan yang terbaik agar Pembaca setia Suami Kontrak tidak kecewa. Sekali lagi Mala ucapakan banyak-banyak terimakasih untuk teman-teman semuanya. Semoga kedepannya kita bisa bercengkrama lagi
__ADS_1