
"Entahlah.'' Yumna menarik nafasnya lalu menghembuskannya perlahan. ''Aku sendiri juga tidak tahu. Bahkan aku tak bisa membedakan antara benci dan cinta. Karena bagiku, semua terlihat sama," kata Yumna.
Fajar menimbang-nimbang apakah ia harus memberitahukannya atau tidak. Ia pun berusaha mengumpulkan keberaniannya, lalu berucap ''Kak, sebenarnya ada sesuatu yang harus aku sampaikan pada kakak. Tentang Kak Keen dan ini sangat penting," ucap Fajar.
"Fajar, bisakah untuk saat ini kita jangan membahas soal apapun tentang dia? Karenacaku tak ingin mendengar apapun tentang dia Fajar. Meskipun itu kakak kandungmu sendiri. Aku mau istirahat dulu, aku sudah sangat mengantuk," Yumna langsung menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya.
Fajar tahu kalau saat ini Yumna pasti tengah menangis dan mengingat kembali tentang kepahitannya di masa lalu.
"Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini," batin Fajar, dan ia pun kembali melangkahkan kakinya kembali ke kamarnya.
Yumna masih termenung dengan pikirannya yang saat ini sedang kacau balau. Yumna mengusap air matanya. Ia tak menampik kalau perasaan itu masih ada sampai saat ini.
Ia masih bingung haruskah ia memaafkan Keenan dan mengiklaskannya atau tetap mengabaikan perasaanya dan enggan untuk kembali ke kotanya yang penuh dengan kenangan manis dan pahitnya.
Ke esokan harinya....
Hari ini, Fajar menemani Yumna yang tengah jalan-jalan. Mereka mengelilingi sekitar rumah Fajar.
Ya hitung-hitung cari angin atau cuci mata lihat yang bening-bening. Karena bule di kota ini sangat tampan-tampan dan menawan. Hehehehehe...
Tiba-tiba Fajar teringat sesuatu.
"Kak, ayo kita memancing," ucap Fajar.
__ADS_1
"Hei bocah, tumben-tumbenan mengajakku memancing, Memangnya kamu bisa memancing? Lagi pula kita kan gak punya pancing,'' ucap Yumna.
"Hedeeh nonaaaa Nana yang cantiknya aduhai. Kita bukan mau mancing ikan, jadi kita gak perlu pake pancing," kata Fajar. Hem... sedikit ambigu memancing tapi bukan memancing ikan. Lalu mereka mau memancing apa?
"Terus?'' Kalau kita tidak memancing ikan, lalu kita mau memancing apa?''
"Tuuuuu...." tunjuk Fajar menggunakan lirikan matanya, yang menunjuk ke arah para pria dan wanita menawan yang sedang berlalu lalang karena olahraga pagi.
"Dasar Fajar buaya! Aku pikir mancing apaan, ternyata malah mancing cowok! Kenapa kita tidak memancing keributan saja?" Ujar Yumna yang sedikit kesal dengan Fajar.
"Hahahahaah kak, wajahmu lucu sekali.'' ( Fajar tertawa terpingkal-pingkal melihat ekpresi Yumna )
''Udah lah kak, jangan terlalu serius. Lagi pula kan gak ada salahnya kita cuci mata. Kan kita jojoba kan Kak? ( jomblo- jomblo bahagia) hahahahahha," Tawa Fajar kembali membuat kesal Yumna. Alhasil Fajar langsung dapat pukulan dilengannya.
"Kamu itu yang Jojoba. Kalau aku sih belum memikirkan itu. Untuk sekarang aku lebih ingin menikmati kesendirianku dahulu.'' Mata Yumna berubah sendu menatap jalanan.
"Fajar, kamu tahu aku sedang tidak ingin lagi membahas tentang dia," ucap Yumna sambil memalingkan wajahnya karena tiba- tiba saja air matanya gak bisa diajak kompromi.
''Kakak, aku juga sebenarnya bingung harus dari mana aku memulai pembicaraan ini. Di sisi lain aku gak mau lihat Kakak sedih lagi. Tapi di sisi lain aku juga harus sampai in ini ke kakak. Aku takut jika kakak gak mengetahui tentang ini kakak akan menyesal nantinya,''
Namun Yumna masih tetap diam saja tak bereaksi.
"Kak, apa kau tau sebenarnya Sania sudah membohongimu dan Kak Keenan? Dia hamil bukan anak Kak Keenan. Tapi anak Dion! Dan dia sendiri yang nyebapin ibunya meninggal," ucap Fajar.
__ADS_1
Dan saat itulah Yumna baru menoleh ke arah Fajar. Dan mulai tertarik mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh calon adik iparnya itu. Fajar pun menceritakan segalanya. Bahkan sampai keadaan Keenan saat ini yang kacau balau.
Hingga air matanya tak kuasa ia bendung lagi saat ia mendengar betapa hancur dan menderitanya Keenan karena dirinya yang menghilang tiba-tiba.
Fajar pun memeluk pundak Yumna setelah menceritakan semuanya.
"Kak, aku tidak akan memaksa kakak untuk memaafkan kakakku. Karena bagaimanapun dia juga bersalah dalam hal ini. Kembali lagi, semua keputusan ada ditangan kakak. Kakak akan memaafkan kak Keenan atau tidak itu hak kakak. Tapi kak, kakak jangan menghidari cintamu itu. Aku tau jauh di dalam hatimu kakak masih sangat mencintainya? " Ucap Fajar.
"Dan satu hal yang harus kakak tahu, apapun keputusan kakak, aku akan selalu mendukungmu,''
Yumna masih diam dalam tangisan kebisuannya. Hingga... ''Biarkan aku memikirkannya dulu Fajar, dan bagaimana kedepannya nanti dan yang harus aku lakukan.'' ( Yumna tersenyum mengusap air matanya )
''Terima kasih Fajar. Karena kamu sudah memberitauku semua kebenarannya, dan kamu juga selalu ada mensuport dan mendukungku," ucap Yumna.
...****************...
Di sisi lain...
Saat ini seorang pria tengah marah-marah dengan karyawannya padahal hanya karena masalah sepele, yaitu sang karyawan yang tak sengaja menabraknya dan langsung di pecat saat itu juga.
Sejak ditinggal oleh sang kekasih, pria itu menjadi sangat pemarah dan bersikap dingin. Sedikit saja bisa membuatnya marah ibarat kata ya mode on senggol bacok. Bahkan Riko sang teman sekaligus sekertarisnya pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya.
Kalau malam waktunya ia habiskan untuk mabuk. Dan saat siang ia bekerja seperti orang gila. Makan tidak teratur bahkan bisa seharian tak makan.
__ADS_1
Membuat sang ibu menjadi sangat khawatir. Semenjak putranya yang bodoh itu ditinggal kekasihnya atau calon menantunya, putranya jadi berubah seperti itu. Berulang kali ia mencoba menasehatinya, namun semuanya terasa sia-sia.
"Kapan kam akan kembali Nak Yumna, tolong kembalilah pulang. Lihatlah putraku yang bodoh ini, tolong maafkan dia," guman sang Ibu yang masih memandangi putranya yang melamun sambil memegangi poto kekasihnya itu.