
Sampai tengah malah kedua mata Yumna masih belum terpejam. Ia masih memikirkan setiap kata yang telah Fajar ucapkan. Dari tadi mondar-mandir seperti setrikaan.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku memang harus kembali?" Ucapnya.
Tanpa terasa kini kantuk mulai menyerang otaknya. Sambil berbaring ia masih memikirkan tentang apa yang terjadi kepada Keenan. Apakah benar-benar seperti yang Fajar katakan atau itu hanyalah sebuah bujukan agar ia mau kembali.
...****************...
Satu minggu kemudian...
Setelah melalui perdebatan hati dan pikiran yang panjang, akhirnya ia pun memutuskan untuk kembali pulang saja bersama Fajar. Namun ia tak langsung pulang ke rumah, melainkan ke rumah kak Alana dulu.
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan dari pesawat hingga ke mobil, benar-benar menguras banyak tenaga. Apa lagi Yumna belum diperbolehkan untuk terlalu kelelahan.
Tubuh Yumna belum terlalu fit. Bahkan setelah melakukan operasi dan koma saat itu, kini ia pun tak bisa terlalu lama berdiri. Jika terlalu lama, maka badannya akan gemetar dan lemas. Selain karena penyakit, sebenarnya itu juga disebabkan Yumna pernah jatuh terguling dari tangga.
Setelah sampai, mereka disambut dengan senang oleh kak Alana dan juga Riko. Namun Yumna meminta kepada mereka untuk merahasiakan kedatangannya dari Keenan. Mereka sangat memahami perasaan Yumna.
Yumna dan Fajar terpaksa menginap di rumah Alana. Karena hari sudah terlalu larut karena keasikan bercerita dan melepas rindunya. Apa lagi kini Rio semakin menggemaskan.
Pagi harinya, Yumna ingin mengunjungi Butiknya. Awalnya Fajar tidak menyetujuinya. Karena Yumna harus banyak-banyak beristirahat sebelum keadaannya pulih. Namun karena keras kepalanya Yumna, akhirnya Fajar pun terpaksa menyetujuinya dengan syarat ia akan ikut menemani.
Yumna sebenarnya merasa tidak enak karena selama ini Fajar sudah banyak membantunya. Dan bohong jika Yumna juga tidak menyadari perasaan Fajar. Namun entah mengapa hatinya hanya terkunci untuk satu orang saja. Ia terkadang merasa bahwa ini sungguh tidak adil untuk Fajar.
Setelah sampai di butiknya semua orang sudah menyambut kedatangan Yumna.
"Hai Tere, bagaimana kabarmu?'' Sapa Yumna yang melihat Tere tersedu-sedu menyambutnya.
"Kaka senior, kenapa baru kembali? Kau pergi lama sekali. Lihatlah! Butikmu sekarang semakin ramai," ucap Tere yang bahagia melihat bosnya telah kembali.
Yumna tersenyum mendengar ucapan Tere. Yumna pun memeluk Tere dan Marisa. ''Terima kasih ya, kalian masih tetap bertahan di saat aku sendiri dalam keterpurukan,'' ucap Yumna. Mereka pun tersenyum sekaligus menangis dalam pelukan.
Kini semua terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Begitu juga dengan Yumna. Gadis itu tengah sibuk dengan data-data pengeluaran dan sebagainya.
Sedangkan Fajar. Ia terlihat tertidur di sofa. Mungkin karena terlalu lelah karena sejak kemaren mereka tiba, mereka belum beristirahat dengan benar.
Yumna pun kembali malanjutkan pekerjaannya di ruangan pribadinya yang terletak di lantai atas. Dari lantai atas, Yumna bisa melihat para pengunjung di lantai bawah.
Saat Yumna akan melihat pengunjung dari kaca jendelanya, Yumna tak sengaja melihat seseorang yang mungkin sangat ia rindukan, namun ia juga belum siap jika harus bertemu sekarang .
Tanpa sadar Yumna masih memandangi pria yang saat ini terlihat seperti sedang berbicara dengan seseorang di ponselnya. ''Emmm, mungkin dia sedang vidiocall dengan kliennya," guman Yumna.
Tak berapa lama kemudian Tere masuk ke ruangan Yumna karena ia harus memberikan data-data pengeluaran butik bulan ini.
"Kaka senior, kau sedang melihat apa?" tanya Tere yang penasaran karena melihat Yumna berdiri di depan kaca jendela.
__ADS_1
"Ah, tidak sedang melihat siapa-siapa. Aku hanya ingin melihat para pengunjung saja," kilah Yumna.
Namun mata Tere mengikuti arah mata yang Yumna sedang lihat.
"Oh itu... Kakak senior, Tuan Keenan memang setiap hari datang ke sini kak. Lihatlah! Setiap hari dia memesan makanan dan cofee lalu berbicara dengan potomu yang ada di ponselnya, "
Ucapan Tere pun sukses membuat hati Yumna semakin terenyuh.
Yumna melihat bagaimana Keenan seperti sedang mengobrol dengan dirinya. Sesekali ia terlihat tertawa, sesekali seperti sedang menunduk. Yumna tahu, pasti saat menunduk Keenan sedang menangis. Tanpa terasa bulir-bulir di matanya pun ikut turun membasahi pipinya.
Keenan masih menunduk memejamkan kedua matanya, di saat Yumna mulai menuruni anak tangga.
Kini Yumna telah berdiri di atas panggung tempat para pengisi acara untuk meramaikan butiknya yang memang ada Cafe kecil milik Tere dan Marisa. Jadi tempat itu selain butik, Yumna juga menyewakannya kepada Tere dan Marisa untuk membuka Cafe kecil-kecilan. Jadi saat para pengunjung sedang menunggu pasangannya atau sahabatnya yang sedang mencoba baju, mereka bisa memesan makanan dan minuman.
Di sana Yumna ingin bernyanyi untuk memberi kejutan kepada Keenan. 🎶 Perasaanku__ Adista 🎶
Ketika kau tertawa
ku pandang dengan pasti
oh dirimu menarik hati ku…
dan biarkanku menatapmu
dengan perasaanku
Andaikan engkau mengerti
perasaanku saat ini
namun engkau tak mengerti
itu…
Aku pemujamu disini
yang tak engkau kenali…
sedikitpun sepercikpun kini..
Dan biarkanku menatapmu
dengan perasaanku
yang menggebu tiada henti…
__ADS_1
Andaikan engkau mengerti
perasaanku saat ini
namun engkau tak mengerti
itu…
Menyusuri ruang hati mu yang tebal tak dapat ku sentuh
semua ini hanyalah angan anganku yang terlalu jauh…
intro…
Andaikan engkau mengerti
perasaanku saat ini
namun engkau tak mengerti
itu…
Menyusuri ruang hati mu yang tebal tak dapat ku sentuh
semua ini hanyalah angan anganku yang terlalu jauh…
Keenan yang mendengar lagu yang dulu menjadi paforit kekasihnya itu, membuat kedua matanya langsung terbuka.
Dan betapa terkejutnya ia, saat melihat siapa yang tengah berdiri di atas panggung dan membawakan lagu itu.
''Peri kecilku!'' Refleks kata itu yang langsung terucap dari mulut Keenan. Ia pun langsung berdiri menatap Yumna dengan wajah yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya itu. Hingga tanpa Keenan sadari kini Yumna sudah berjalan ke arahnya dan berdiri di hadapannya.
''Keenan,''
Panggilan dari Yumna membuat Keenan tersadar dari lamunannya dan langsung memeluk tubuh Yumna sembari mengucapkan kata maaf yang entah sudah berapa kali Keenan ucapkan.
Bahkan laki-laki itu pun tak sungkan menitikan air matanya. "Peri kecil, apa aku masih bermimpi?" Ucap Keenan.
"Jika ini adalah mimpi, tolong jangan bangunkan aku dulu. Kalau perlu, jangan bangunkan aku selamanya. Aku tidak mau kehilangan kamu lagi," ucapnya lagi.
Yumna yang tak sanggup membendung air matanya, ia pun ikut menangis dalam pelukan Keenan. Namun ia segera menghapus air matanya dan berkata...
"Keenan, ini aku, kamu tidak sedang bermimpi," ucap Yumna.
"Aku tahu,'' ucap Keenan. Padahal di dalam hatinya keenan masih mengira kalau Yumna tidaklah nyata. Hanya halusinasi akibat kerinduannya yang teramat dalam.
__ADS_1