Suami Kontrak

Suami Kontrak
Kecelakaan


__ADS_3

Sebelum pulang Yumna juga sempat berpesan pada security ''kalau orang tadi memaksa masuk kembali! tolong diusir saja pak,"


Yumna melajukan kendaraannya menuju kekediamannya. Pikirannya masih melayang-layang akan kebersamaannya dengan Alan selama ini. Yumna tidak menyangka hubungannya dengan Alan akan berakhir tragis seperti ini.


''Seandainya Alan berterus terang, aku juga tidak akan keberatan untuk membatalkan perjodohan kami. Mengapa kamu bisa setega itu denganku setelah apa yang kita lewati selama ini,''


Pikiran Yumna kalut hingga tidak menyadari saat di persimpangan jalan, ia dikagetkan dengan motor yang tiba- tiba melaju dengan kencang didepannya dari arah yang berlawanan.


Karena terkejut dan tidak sempat menghindar, Yumna hanya bisa terpaksa membelokkan stir dan hasilnya ia menabrak sebuah pohon.


Braaak....


Bamper depan rusak parah akibat menabrak pohon dan mesin depan pun mengeluarkan asap yang cukup pekat. Untung saja kepala Yumna hanya mengalami luka ringan akibat terbentur stir.


"Auuu.... kepalaku!" Yumna mengelap tetesan darah di wajahnya dan berusaha melepaskan sabuk pengaman di badannya.


''Sial sekali nasibku hari ini,'' guman Yumna yang merutuki kesialannya hari ini.


Dari luar nampaklah seorang pemuda yang tinggi dan lumayan tampan. Jika dilihat, mungkin kira-kira umurnya masih dibawahnya umur Yumna. Karena dilihat dari perawakannya masih seperti seorang pelajar.


Kakinya terlihat terpincang-pincang seperti menahan rasa sakit. Mungkin akibat benturan tadi. Pemuda itu menghampiri mobil Yumna.


Tok...tok...tok..


Kaca mobil Yumna diketuk oleh pemuda itu. Yumna masih berusaha melepaskan sabuk pengaman yang sedari tadi sulit dilepaskan. Hingga akhirnya...


''Akhirnya....'' Yumna tersenyum lega setelah bisa melepaskannya.


Setelah itu ia pun keluar dari mobilnya.


''Kak! Kakak tidak apa-apa kan?'' Pemuda itu melihat Yumna dan memeriksanya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

__ADS_1


Yumna masih diam tidak menjawab. Ia langsung duduk ditanah begitu saja sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit, karna kepentok stir mobil tadi.


"Kak ..kakak gak papa kan? Apa ada yang sakit?" Pemuda itu masih mengikuti Yumna bahkan ikut duduk di sebelah Yumna.


Yumna sangat geram, Ia sangat kesal sekali mendengar pemuda itu yang terus berbicara tanpa henti. Ia berusaha menahan emosinya agar tidak mengamuk pada pemuda itu.


''Kak, kenapa tidak menjawab? Tolong katakan sesuatu!''


"Hei bocah! Bisa diam tidak! Apa kamu tidak bisa melihat darah di kepalaku ini ha!''


''Lagi pula, ini jalan raya! Juga bukan jalan milik nenek moyang mu! Bisa tidak kalau kamu mengendarai motor jangan ngebut-ngebut. Pelan saja. Kamu baru saja hampir membuatku kehilangan nyawa.'' Yumna kembali mengambil tisu untuk mengelap sisa darah yang masih menetes diwajahnya.


Bukannya takut, namun pemuda itu malah cengengesan.


"Maafkan aku kak, aku tadi sangat buru-buru, ibuku sedang berada dirumah sakit. Jadi aku ingin cepat melihat ibuku. Aku akan mengantarkan kakak ke rumah sakit dulu agar kakak segera mendapatkan perawatan," ucap pemuda itu.


"Kakak..kakak! Aku bukan kakakmu bocah. Aku tidak perlu ke rumah sakit. Jadi lanjutkan saja perjalananmu itu," Yumna hendak berdiri namun karena sakit di kepala mulai menerpa kembali, membuatnya hilang keseimbangan. Untung saja pemuda itu dengan sigap memegang kedua tangan Yumna.


"Fajar kak, namaku Fajar. Bukan bocah," Kata pemuda itu sambil mengulurkan tangannya.


"Sial..,'' umpatnya dalam hati Yumna.


Yumna menoleh ke arah mobilnya yang kini sudah tak berbentuk. Ia hanya bisa membuang nafasnya dengan kasar.


"Kak, alamad kakak dimana? Biar saya yang antarkan jika kakak tidak mau dibawa ke rumah sakit," Fajar mengambil tas Yumna yang tadi masih tergeletak ditanah.


"Tidak perlu aku bisa pulang sendiri. Lebih baik kamu lanjutkan saja perjalananmu. Katanya kamu tadi sedang buru-buru,'' ucap Yumna yang mulai melembut.


''Tapi kak.....'' Fajar masih berusaha membujuk Yumna agar ikut namun Yumna masih kekeh pada pendiriannya.


"Sana pergilah, aku tidak apa-apa," Yumna mencoba berdiri kembali namun belum sepenuhnya berdiri badan Yumna sudah terhuyung dan hendak jatuh. Untung saja langsung ditangkap oleh Fajar lagi.

__ADS_1


"Kakak, sepertinya kakak gak bisa nolak lagi. Ayo aku antarkan," kata Fajar yang langsung mengendong Yumna tanpa permisi dan didudukan dijok belakang motornya.


''Kaauuuu.....!''


Yumna hanya bisa menggeram kesal dengan perbuatan Fajar. Namun ia juga tidak bisa menolak, apa lagi kepalanya memang terasa sangat sakit. Ia pun memutuskan menuruti bocah itu saja. Opss... Fajar maksudnya.


Sebelum melajukan motornya kembali, Fajar juga sudah menghubungi bengkel langganannya untuk mengambil mobil milik Yumna. Setelah itu, ia pun melajukan motor kesayangannya kerumah sakit. Yumna yang menyadari kalau itu bukan jalan menuju ke rumahnya, ia pun tiba-tiba di terpa rasa merinding.


"Hei bocah! Ini bukan jalan menuju kerumahku. Kamu mau bawa aku kemana ha? Jangan-jangan kamu itu penculik ya? Seperti penjual manusia atau penjual organ manusia. Kamu mau jual ginjal, jantung, hati.. eh kalau hati kan hati aku udah hancur gak bisa di jual,''


"Kita kerumah sakit kak! Luka Kakak harus diobati. Aku takut kakak kenapa-kenapa," ucap Fajar yang mencoba menjelaskan.


''Apa! Ke rumah sakit? Bukankah tadi sudah ku bilang untuk antarkan saja aku pulang ke rumahku. Mengapa malah jadi ke rumah sakit?''


Fajar tidak lagi menanggapinya. Karena jika ia berbicara lagi pasti akhirnya hanya ada perdebatan saja.


Setelah sampai di rumah sakit, Yumna langsung diobati oleh dokter.


Sebenarnya dokter meminta Yumna untuk dirawat. Dokter takut jika ada luka dalam yang tidak terlihat. Apa lagi Yumna masih mengeluh kalau kepalanya masih terasa pusing. Tapi Yumna kekeh tidak mau dirawat.


''Dok, sekalian obati kaki pemuda itu,'' Yumna menunjuk ke arah kaki Fajar.


''Baiklah mbak,'' ucap Dokter itu.


Fajar tersenyum mendengar Yumna yang ternyata memperhatikan lukanya. Entah mengapa rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu didalam dadanya.


Setelah semua sudah mendapatkan pengobatan, Fajar berpamitan pada Dokter untuk pergi. Ia ingin cepat menengok keadaan mamanya.


Dan tanpa ia sadari, tangannya malah menggenggam tangan Yumna. Yumna menaikkan alisnya, bingung dengan kelakuan Fajar. Namun ia tidak ingin banyak berbicara lagi. Dan hanya bisa mengikuti langkah pemuda itu.


Setelah sampai ruangan Mamanya Fajar, Fajar baru menyadari jika sedari tadi ia masih menggenggam tangan Yumna.

__ADS_1


''Maafkan aku kak,'' Fajar spontan melepaskan genggamnya.


Yumna hanya bisa menggelengkan kepalanya. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk masuk bersama. Ya sekalian Yumna ikut menjenguk. "Kan katanya menjenguk orang sakit dapat pahala hehehee....


__ADS_2