Suami Kontrak

Suami Kontrak
Peri Kecil Keenan


__ADS_3

...Flashback...


Terlihat kerumunan orang-orang sedang membantu salah satu tetangga mereka yang sedang mengalami musibah kebakaran. Karena jauh dari perkotaan, desa mereka terletak di pelosok. Sehingga pemadam kebakaran pun sedikit sulit untuk menjangkau titik lokasinya.


''Bagaimana? Apakah semua keluarga pak Rudi sudah di selamatkan?''


Seorang kepala desa terlihat panik melihat warganya yang mengalami musibah itu.


''Sepertinya sudah pak. Tadi pak Rudi dan Bu Eni juga putra mereka sudah berada di rumah Bu Yani. Untuk sementara mereka di ungsikan di sana,'' ucap salah satu warganya.


Namun tiba-tiba seorang ibu-ibu berlari dan akan memasuki rumah yang masih terlalap api tersebut. Untung saja para warga dengan cepat menangkap ibu-ibu itu.


''Anakku!''


Teriak ibu itu yang tak lain adalah Bu Eni.


''Anak? Bukannya semua putra bu Eni sudah di ungsikan di rumah Bu Yeni?''


''Belum pak, putraku tadi sedang main petak umpet dengan adiknya. Setelah itu tiba-tiba kebakaran terjadi. Saya mohon tolong selamatkan putraku pak,'' Tangis bu Eni kian memilukan membayangkan apa yang akan terjadi pada putranya tersebut.


Di sisi lain...


Seorang gadis kecil juga tengah bersembunyi dari kejaran ibunya karena ia telah memecahkan guci kesayangan milik neneknya. Setiap liburan sekolah, keluarganya selalu mengajaknya berlibur kedesa tempat tinggal neneknya.


Namun gadis kecil itu terkenal sangat nakal. Ia suka sekali berlari-larian dan tidak mau mendengarkan saat ibunya melarangnya. Hingga yang terjadi, ia tak sengaja memecahkan guci kesayangan neneknya. Padahal guci itu tanda cinta dari mendiang kakeknya.


''Kenapa rumah itu terbakar?'' Ucap gadis itu saat ia tak sengaja melihat kebakaran yang terjadi di rumah milik Pak Rudi.


Terlihat seorang anak laki-laki seperti menggedor-gedor sebuah kaca jendela.


''Apa anak laki-laki tersebut terkurung?'' Gadis kecil itu pun segera bergegas mendatangi rumah tersebut. Tak lupa ia mengambil sebuah tangga yang terbuat dari bambu.


Namun sayang karena badannya yang masih kecil gadis itu pun tak kuat untuk mengangkat tangga yang terbuat dari bambu itu. Karena tangga itu berukuran yang lumayan panjang.


''Bagaimana ini? Ya Allah Kumohon tolonglah anak gadis yang baik dan cantik ini,'' ucap Gadis kecil itu sambil merapalkan doa-doanya.


Sekuat tenaga ia berusaha menyeret tangga tersebut, hingga akhirnya sampai di tembok tepat di bawah jendela tempat bocah laki-laki tersebut.


''Mundurlah sebentar!'' Teriak gadis itu sambil memberi kode supaya anak laki-laki itu mundur dari jendela. Dan.....


...PYAAAAAAR..............

__ADS_1


Gadis kecil itu dengan sekuat tenaga melemparkan sebuah batu yang ia bawa dengan susah payah. Hingga akhirnya kaca jendela itu pun pecah berantakan.


''Huuuh jika soal pecah memecahkan tentu saja aku jagonya.... Yumnaaaaaa,'' ucap gadis kecil itu dengan bangganya sambil memperlihatkan otot lengannya yang sama sekali tak terlihat karena kurus dan masih kecil.


''Kau sungguh berani sekali. Kau seperti seorang pahlawan wanita yang pernah kulihat di televisi,'' ucap anak laki-laki tesebut.


''Tentu saja dong. Yumna sangat kuat, Yumna juga sangat berani aku akan menjadi pahlawan wanita yang paling cantik di desa ini ahhaahahaaa....''


''Ya itu benar. Kau akan menjadi pahlawan paling cantik di desa ini,''


''Ayo cepatlah keluar!''


Yumna kecil membantu anak laki-laki tersebut untuk turun melalui jendela tersebut. Anak laki-laki itu ternyata sangat takut akan ketinggian karena memang tempat anak laki-laki tersebut berada di lantai tiga atas.


''Jangan takut. Ada aku di sini,'' ucap Yumna kecil.


''Tapi ini sangat tinggi sekali. Aku sungguh tidak berani,''


Yumna tersenyum, lalu meminta anak laki-laki itu untuk menatap matanya.


''Jangan takut. Kamu lihat saja mataku ini. Lihatlah! Kata ibuku, mataku ini seperti sepasang bintang yang bersinar di langit.'' Yumna melebarkan kedua bola matanya hingga nampak bersinar terkena pancaran kobaran api.


Anak laki-laki tersebut pun langaung menuruti kata-kata Yumna lalu memandangi kedua mata Yumna tanpa terlihat ketakutan lagi. Yumna kecil dengan hati-hati menuntun anak laki-laki tersebut hingga sampai bawah


''Kenapa? Apa kau masih takut?''


Anak laki-laki itu mengangguk.


''Jangan takut. Kita sudah aman. Ayok! Aku akan mengantarkanmu pada keluargamu,'' ucap Yumna kecil.


Mereka pun segera menghampiri kerumunan warga yang masih kebingungan karena mereka berpikir kalau anak laki-laki itu masih terjebak di dalam rumah yang terbakar.


''Mama......''


''Anakku! Itu anakku,'' Teriak Bu Eni yang bahagia penuh rasa syukur karena melihat putranya selamat dan dalam ke adaan baik-baik saja tanpa lecet sedikit pun. Yumna pun ikut senang melihat pemandangan itu.


''Aaaah.... Ketemu kan sekarang,''


Tiba-tiba dari arah belakang sebuah tangan menjewer telinga Yumna.


''Ayumna Mikaila Pradibyo! Ayo pulang dan terima hukumanmu!''

__ADS_1


''Ampun Mah.... Yumna janji Yumna gak akan nakal lagi,'' rengek Yumna sambil menahan jeweran mamanya yang membawanya pergi dari tempat itu.


''Kemana dia pergi?''


''Kamu mencari siapa nak?''


''Mah tadi aku di tolong oleh peri kecil mah. Dia yang menyelamatkan aku!''


Karena mungkin hanya anak kecil yang berbicara para orang tua pun menganggap itu sebagai hayalan anak laki-laki tersebut.


''Aku pasti akan bertemu kembali denganmu peri kecil,'' ucap anak laki-laki itu sambil menggenggam sebuah gelang kecil yang bertuliskan nama lengkap Ayumna.


...Flashback selesai...


Keenan tersenyum membayangkan wajah gadis yang menjadi istri kontraknya kemaren di hotel sambil memegangi gelang kecil. Bayangan wajah gadis itu seakan menari-nari di pelupuk matanya. Hingga sebuah tepukan tangan dibahu mengejutkannya dari lamunannnya.


''Hayoo apa yang sedang kakak pikirkan? Apakah seorang gadis?'' Ucap Fajar.


''Kau itu kalau berjalan bisa tidak kalau pakai suara. Setiap hari kerjaannya selalu menggangguku,'' Keenan buru-buru dengan segera menyimpan gelang tersebut di sakunya.


''Apa itu kak? Seperti sebuah gelang?''


''Sejak kapan kau sekepo itu?''


''Tunggu dulu, apa kakak sampai sekarang masih menyimpan gelang peri itu?''


Keenan tidak menanggapi pertanyaan Fajar ia malah berlalu kembali ke meja kerjanya lagi.


''Ayolah kak, ini sudah zaman apa? Mungkin saja peri kecilmu itu sudah menikah dengan pria lain. Atau....''


''Atau apa ha!''


''Atau jangan-jangan peri kecilmu itu sudah menghadap Tuhan karena ia terlalu baik karena sering menolong orang,''


...Plaak........


Sebuah bolpoin tepat mengenai jidat Fajar hingga sang mpunya mengaduh kesakitan


''Rasain siapa suruh kau berbicara sembarang,''


''Kau......''

__ADS_1


Dan terjadilah aksi saling menggelitiki sesaman saudara.....


__ADS_2