Suami Kontrak

Suami Kontrak
Rencana Anita


__ADS_3

Penikahan Yumna dan Alan dibatalkan. Namun anehnya acara yang akan diselenggarakan dan hotel tempat mereka bulan madu pun tidak di batalkan. Tidak ada konfirmasi dari pihak Alan dan keluarganya.


''Sebenarnya apa sih maunya pria brengsek itu!'' Nita geram setelah di ceritakan semua oleh Yumna. Bahkan hampir saja ia membawa mobil balapnya dan akan di tabrakannya ke toko bunga milik Silvana. Yumna hanya menghela nafas. Membuang segala kekesalan di dalam hatinya.


''Na, bagaimana hatimu saat ini? Apakah kau masih belum merelakan Alan?''


''Munafik jika aku bilang tidak kesal dan benci dengan Alan, Ta. Terlebih dengan Vana. Dia sahabat kita kan Ta? Kenapa mereka tega banget sama aku Ta? Aku sekarang tidak tahu harus berbuat apa?''


''Aku nggak sudi sahabatan lagi sama pelakor berkedok teman itu Na. Lihat saja! Jika sampai aku bertemu dengannya, aku habisi dia, Na!'' Ucap Anita yang memeluk Yumna agar sahabatnya itu sabar dan ikhlas.


''Eh, tadi kamu belum menjawab pertanyaanku kan?''


''Haah....'' Pertanyaan yang mana?''


''Ya Allah Yumna lemotku tersayang!'' Pertanyaan yang tadi aku tanya kamu udah ngrelain Alan belum?''


''Diih.... ngapain coba kamu tanya soal itu. Tentu saja sudah rela. Rela banget malahan. Laki-laki yang hanya memandang nafsu saja untuk apa? Bukankah dijalanan juga banyak? Iya kan?''


Plok...plok...plok....


Anita bertepuk tangan saat mendengar kata-kata yang baru saja Yumna katakan itu.


''Kau memang Yumna ku tersayang. Tidak sia-sia aku memberimu makan selama ini Nak....''


''Nak? Siapa yang kau panggil anak ha?'' Yumna menggelitiki tubuh Anita hingga sang empunya menjerit tertawa kegelian.


''Yumna!''


''Apa?''


''Apa haah.....''


''Ampun astaga Yuman....Haa...ha..haaahahahah...''


'' Baiklah..baiklah... Aku yang menjadi anakmu dan kau ibuku...''


''Nah gitu dong. Aku lebih suka menjadi ibumu ketimbang anakmu?''


''Laah... Kenapa? Kan enak jadi anakku. Lagian selama ini kau jajan juga selalu minta aku,'' ucap Anita yang tidak mau kalah.


Yumna dan Anita selain masih sepupu, mereka juga memang sudah berteman sejak kecil. Namun karena Anita lebih tua umurnya dua tahun dari Yumna jadi uang jajan Yumna selama ini Anitalah yang memegangnya.


Anita terkenal dengan kepiawaiannya dalam mengurus keuangan dan dipercaya kedua orang tua Yumna untuk mengatur pengeluaran Yumna. Selain itu selama ini Anitalah yang selalu menjaga Yumna seperti kakak kandungnya sendiri.

__ADS_1


''Haaah...'' Yumna mendengus kesal karena memang yang dikatakan oleh Anita memang benar apa adanya.


''Besok seharusnya adalah hari pernikahanmu, tapi Alan malah mengganti mempelai wanitanya. Lalu apa rencanamu Nanaku sayang?'' Anita mencubit gemas pipi Yumna yang chabi itu.


''Au....sakit tahu,'' Plaak...''


Tidak mau kalah Yumna memukul paha Anita hingga yang mpunya mengaduh kesakitan.


''Tentu saja mengacaukannya. Lihat saja! Siapa bilang seorang Ayumna mikaila Pradibyo bisa ditindas seenaknya oleh orang-orang tak berguna itu. Manusia ditolong oleh sesama seharusnya berterima kasih, tapi ini malah berkiyanat. Jika aku tidak bisa mengacaukan pernikahan mereka, jangan panggil lagi aku Yumna!'' Ucap Yumna penuh semangat.


''Kalau bukan dipanggil Yumna, lalu kau mau kupanggil dengan sebutan apa? Nana gembrot?''


''Anita! Aku malas berbicara lagi denganmu. Huuh!''


''Och.... Nanaku yang gemoy jangan marah dong. Kalau kamu marah denganku, nanti siapa yang akan membantumu mengacaukan pernikahan mantan Tunangan dan mantan sahabat kita itu ha....''


''Memangnya kau punya rencana apa?'' Kini Yumna berbalik menghadap Anita. Ia sangat penasaran dengan rencana Anita.


''Tidak mau mengatakan....tidak mau mengatakan. Aku tidak melihatmu, aku tidak mendengarmu,'' Anita berbalik memunggungi Yumna dan menutup mata serta telinganya.


''Aaaa.... Ayolah, cepat katakan padaku apa rencananya?''


Namun Anita masih diam saja menutup mata dan telingannya.


''Apa!''


''Em...em....''


''Tidak mau! Kan tadi kita sudah sepakat kalau aku yang jadi Mama,''


''Baiklah kalau kau tidak mau. Pikirkan sendiri saja rencannya,'' Anita beranjak lalu berjalan meninggakan Yumna.


''Aaaah! Anita!''


''Baiklah...baiklah ''Mama,'' ucap Yumna sambil bergelendotan dikaki Anita.


''Apa? Aku tidak mendengarmu?''


''Mama....!''


''Katakan dulu ''Mama kau sangat cantik''


Yumna mendengus kesal. Karena ia tahu pasti Anita akan mempermainkannya seperti biasa. Sejak kecil Yumna tidak pernah menang setiap berdebat dengan Anita. Entah mengapa Anita selalu punya cara sehingga membuat Ayumna kalah telak.

__ADS_1


''Ck...'' Mama, kau sangat cantik sekali,'' ucap Yumna dengan terpaksa.


''Nah gitu dong. Kau memang putriku yang paling cantik dan gemoy. Hahahahahaha.....'' Puas sekali rasanya setiap kali Anita mempermainkan Yumna. Rasanya seperti sebuah kegembiraan tersendiri baginya.


''Besok kau datang saja ke hotel tempat resepsi mereka. Dan tunggu aku di depan lobi hotel. Ingat tunggu aku ya!''


''Apa yang akan kita lakukan besok di sana?''


''Aku akan membawakanmu suami bayaran untuk membantumu mengacaukan pernikahan mereka. Kau nanti bisa berteriak pada kedua makluk menjijikkan itu, katakan pada mereka kalau kamu bisa bahagia meskipun tanpa mereka,''


''Wah....kak kau memang hebat dalam membuat rencana. Tidak sia-sia aku memanggilmu Mama,''


''Dasar bodoh, ''Tuk'' Anita menjitak dahi Yumna.


''Au... sakit tahu!'' Yumna mengelus-elus dahinya yang memerah akibat jitakan dari Anita.


''Siapa suruh berani menipu sahabatku. Kau tenang saja. Aku akan selalu mendukung apapun keputusanmu,'' ucap Anita.


...----------------...


Ke esokan harinya


...Di hotel.......


''Selamat Tuan Alan dan Nona......'' Ucap salah seorang tamu yang bingung menyebutkan nama mempelai perempuan karena berbeda dengan nama yang tertera di undangannya.


''Silvana Tuan,'' Ucap Alan dan langsung menjabat tangan tamu undangan itu.


''Pengantin wanita terlihat berbeda dengan yang ada di kartu undangannya,'' bisik para tamu yang saling melirik satu sama lain.


''Bukankah sudah ku bilang untuk membatalkan saja dulu, baru kita rencanakan lagi pernikahan kita. Sekarang lihatlah! Lihat para tamu itu! Mereka saling berbisik untuk mengejek kita,'' Silvana merengek. Ia terlihat kesal dengan pandangan para tamu undangan itu.


''Aku tidak bisa melakukan itu sayang. Karena sebenarnya mereka semua tamunya paman Sulaiman. Mereka semua rekan kerja dan rekan bisnisnya Paman Sulaiman. Kau tahu sendiri bukan, kalau semua ini juga yang membayar lunas adalah Paman Sulaiman. Jadi jangan mengeluh terus ya? Kita nikmati dulu saja moment pernikahan kita.


''Huuuuh.... Menyebalkan! Sudah mati pun masih saja membuat orang kesal,''


''Sudahlah.....'' Belum selesai Alan berbicara tiba-tiba lampu yang ada di ruangan itu padam semua. Semua orang pun terkejut dan bingung. Para tamu undangan mengira kalau itu bagian dari acara. Namun siapa sangka...


''Maafkan saya yang datang telambat.....''


Semua mata pun tertuju pada sosok pasangan pengantin yang kini sudah berdiri di tengah-tengah panggung pelaminan.


''Yumna!''

__ADS_1


__ADS_2