Suamiku Mafia

Suamiku Mafia
Di Bandara ... [Revisi]


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju bandara, sang mafia dan istri, sama sekali tidak saling tegur sapa. Dua orang itu seperti batu yang tidak bisa dihancurkan saja.


Anak buah sang mafia bahkan mengingatkan kepada bosnya agar tetap berbicara karena sangat sepi jika tidak ada suara dari sang bos yang sangat cerewet seperti biasanya.


"Bos, Apakah kau sedang sakit gigi?" tanya sang anak buah, berusaha untuk mencairkan suasana.


"Tidak, aku hanya merasa istriku tidak menghargaiku sama sekali, tidak mengatakan terima kasih kepada apa yang akan aku lakukan karena ini suatu tindakan yang sangat penting. Sebab, Martin telah menghianati dirinya tetapi dia hanya diam saja. Bahkan, menurutnya, mungkin aku adalah orang yang sangat jahat."


Sang mafia melirik ke arah wajah sang gadis.


Dia tak mendapatkan respon apapun setelah mengatakan hal itu, dia kembali berbicara dengan sangat lantang.


"Aku sudah menjadikan istri, sudah menjadikan ratu di dalam hatiku tetapi kau sama sekali tidak luluh!"


Sang mafia sepertinya sudah kesal dengan apa yang dilakukan oleh istrinya, dia meluaskan segala isi hatinya yang terpendam beberapa tahun ini.


"Aku tak suka Kau hanya diam saja, bagaimana bisa melakukan ini kepadaku karena kau adalah orang yang sangat aku cintai. Kenapa kau melakukan hal ini kepadaku?"


Sang mafia sangatlah kesal, dia tak menyangka akan mendapati sifat cuek yang berlebih dari sang istri yang super tidak peduli ini.


"Aku sudah muak dengan apa yang kau lakukan, kau sudah melakukan kejahatan kepada keluargaku dan kau memintaku untuk berbicara? kau ini pria mafia yang tidak punya hati!"


"Ini juga karenamu yang terlalu sombong dan menolak apa yang aku inginkan, kok seharusnya mengikuti saja apa yang Aku perintahkan jadi tidak ada pertumpahan darah di antara keluargamu!"


Sang mafia membela diri seperti biasanya karena dia tidak mau disalahkan dengan apa yang sudah dilakukan olehnya.


Menurut sang mafia, Dia sangat benar dan tidak bisa disalahkan.


Semuanya terlihat begitu luar biasa, jadi sang mafia tetap dalam pendiriannya yang tidak akan pernah goyah.


Perdebatan suami istri itu, berlangsung sampai di depan bandara.


Sang anak buah yang menjadi sopir, kemudian mengatakan," Aku tidak tahu apa yang ada di dalam hati kalian, tapi yang pasti, Jangan mengatakan hal yang membuat orang-orang di samping kalian itu berpikir bahwa pernikahan yang ada merupakan suatu hal yang tidak penting, silakan selesaikan urusan kalian berdua. Bandara sudah ada didepan mata, aku sebagai anak buah juga pusing melihat kalian bertengkar terlalu lama!"


"Cih, kok tumben bisa mengatakan hal itu kepadaku?! kau merasa menjadi orang yang paling benar!"


"Maaf bos, tapi sebaiknya aku segera menyelesaikan kisah cintamu yang rumit ini, perjalanan kita masih jauh dan banyaknya urusan yang satunya hanya karena kisah cintamu. Kita harus datang ke kota X menemui bandar kokain, Dia memberikan kita banyak keuntungan tetapi kita sendiri sama sekali tidak tepat waktu. Setelah itu, kita juga harus bertemu Tuan Juan, dia sudah menantikan kerjasama yang bagus antar geng, itu tak bisa mendapatkan sekutu yang cukup kuat karena geng Tuan Juan, sangat berpengaruh di kota ini. Apalagi, misteri hilangnya beberapa anak buah, kita harus segera mengungkap semuanya daripada terlalu pusing dengan hubungan yang itu-itu saja bos!"

__ADS_1


Sang anak buah, benar-benar mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya sehingga sang mafia juga berpikir.


Dia harus melakukan segala sesuatu untuk menstabilkan kehidupannya yang mulai oleng karena kehadiran sang istri.


"Ya, apa yang kau katakan memang benar, Aku akan segera melakukan perubahan dalam diriku!"


Sang mafia lalu keluar dan menggendong sang istri.


"Kau mau bawa aku ke mana?" tanya sang istri yang kesal.


Dia memukul dada bidang sang suami yang terus saja berjalan sambil menemui seseorang.


Saat dia berhadapan langsung dengan seseorang itu, sang mafia lalu memberikan orang itu sejumlah uang.


"Dua tiket."


"Ya, pembayaran biar anak buahku yang mengurusnya."


"Baik tuan!"


"Sialan, kenapa kau menggendongku diantara orang-orang ini! kau membuatku malu!" bisik sang gadis sambil mengalungkan kedua tangan di leher sang suami.


"Ini karena kau yang tidak bisa diam!"


Sang suami tetap menggendong tubuh itu menyusuri jalan menuju tempat pesawat yang sudah siap untuk lepas landas.


Beberapa menit kemudian, sang suami sudah sampai di dalam pesawat, lalu menghempaskan tubuh sang istri.


Setelah itu, sang istri di ikat menggunakan sabuk pengaman agar tidak kabur.


"Kau gila ya?"


"Iya, aku memang gila, seharusnya aku menggunakan pesawat pribadi, tapi malas, kau harus merasakan malu yang aku rasakan, kau paham?"


"Maksudmu apa?"


"Aku selalu mendambamu tiap malam, tapi kau sama sekali tak mau bersamaku! ini sangat menyebalkan kau tahu?"

__ADS_1


"Cih, ini salahmu! kau yang memaksaku untuk menikahimu, ini salahmu!"


"Aku tak pernah merasa bersalah, kau yang salah sayang, Diamlah! atau aku akan melakukannya di sini," bisik sang mafia.


Dia mulai meraih kancing baju sang istri dan perlahan ingin membukanya, sang istri menghempaskan tangan itu lalu menatap ke arah jendela.


Brenda kesal sekali.


Sebelum pesawat take off, sang mafia terlihat menjawab sebuah panggilan telepon dari seorang pria.


"Bos? kapan kita bertemu?" ucap sang penelpon.


"Segera, aku sedang ada urusan dengan istriku, kau tahulah bagaimana repotnya seorang wanita! aku sudah merasakannya, dan tidak akan berdebat lagi denganmu!"


"Haha, Aku memiliki tiga istri dan kau baru satu, kan aku ada 6 dan kau sama sekali belum memiliki anak, nanti kau akan repot sendiri ketika istri dan anak-anakmu memprotes banyak hal. Aku sudah katakan jangan membiarkan orang biasa masuk ke dalam kehidupan kita, mereka hanya akan merepotkan mu!"


"Cih, aku juga menggunakan orang biasa untuk dijadikan istri? mengapa aku tidak bisa? kok sangat aneh dengan segala tingkah lakumu yang bertolak belakang!"


"Ya, Aku tidak mau berdebat terlalu panjang denganmu karena esok hari kita harus bertemu."


"Dimana kau?"


"Ingin memberikan pelajaran kepada kekasih istriku!"


"Woah, sangat rumit kehidupan rumah tanggamu ya? aku doakan segera selesai dengan baik tanpa harus mengorbankan tanganmu yang sangat bersih itu."


"Haha, aku hanya bersih ketika cuci tangan saja, yang lainnya aku akan memberikan pelajaran. Aku tidak terima jika istriku memikirkan pria lain saat bersamaku."


Dua pasang mata milik Brenda dan Maraville saling menatap, ini membuat keduanya seperti ingin saling memakan.


"Sudah ya, aku akan menelponmu nanti setelah semuanya usai!"


"Oke, siap!"


Panggilan telepon usai, lima menit kemudian pesawat lepas landas.


*****

__ADS_1


__ADS_2