
"Kau masih kurang bukti? coba lihat dua sejoli itu, apakah itu Martin dan gadis lain?" tanya sang mafia dengan perasaan yang sangat bahagia.
Dia tidak cukup merasakan suka cita sebelum sang istri mempercayai apa yang dia katakan.
Brenda tak menyahut, hanya saja di sana ia melihat sosok pria dan wanita, pria yang ada di sana, seperti Martin.
"Martin?" ucap sang istri.
"Iya, dia memang Martin, apa kau sudah bangun dari mimpimu?" cetus sang mafia penuh kemenangan.
Sang istri terlihat diam, tapi memperhatikan apa yang ada di depannya.
Dia tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Martin, seperti itukah sikapnya dibelakang Brenda?
Brenda sangat kesal.
"Aku tak menyangka jika Martin menjadi orang yang seperti itu, apa benar dia harus mengkhianati aku? harus menjadi orang yang tak tahu diri seperti ini?"
Brenda rasanya sesak di dalam dadanya, dia tak menyangka jika apa yang ada di dalam hatinya begitu luar biasa. Dia tak merasakan hal lain, selain sakit hati.
"Kau boleh menangis melihat semua ini, tapi hanya satu yang boleh kau lakukan, jangan menyesal meninggalkannya dan menikah dengan ku, aku sangat mencintaimu dan tidak akan pernah merasakan hal lain, karena kau adalah tujuan hidupku selama ini Brenda, kau cukup ikuti aku dan kita hidup dalam kebahagiaan!"
Sang mafia begitu percaya diri, sehingga membuat dirinya lupa jika sang istri menitihkan air matanya.
"Sayang? kau kenapa?" tanya sang mafia sambil mengusap rambut sang istri.
"Aku baik-baik saja, singkirkan tanganmu itu Maraville!"
"Oke, oke! kita lebih baik keluar dari mobil ini dan hadapi kenyataan!"
Sang mafia memaksa gadis itu keluar dari mobil, dan dua insan yang tanpa malu masih berada di sana memadu kasih.
"Halo bung, sepertinya kita pernah bertemu!" ucap Maraville sambil menggenggam erat lengan Brenda, dia memaksa gadis itu untuk bertatap muka dengan Martin.
"Ehm, iya kah? kau darimana? kita pernah berjumpa dimana?" tanya Martin yang belum menyadari jika orang yang ada bersamanya adalah si gadis malang, Brenda Marvina.
...
"Dulu kita bersama-sama dalam satu bisnis, apa kau lupa? oh ya, perkenalkan dia istriku!"
Maraville cukup lihai melakukan hal ini, dia terlihat menarik sang gadis ke dalam pelukannya, kini Martin sudah bisa melihat dengan siapa Maraville datang.
"Astaga, Brenda?"
__ADS_1
Martin terkejut, sang istri pun bingung.
"Kau mengenal gadis ini?"
"Tidak, hanya saja aku pernah tahu. Dia sepertinya gadis yang di bandara itu!"
Deg!
Brenda merasakan sesak di dalam dadanya, bisa-bisanya sang kekasih tak mengakuinya, dan berpura-pura tidak tahu siapa Brenda.
Acara lamaran itu, apa kabar?
Apa hanya simbol?
Sang gadis kini paham apa yang sebenarnya terjadi.
"Oke, kau dan aku memang tidak saling mengenal, oh perkenalkan ini adalah suamiku! Maaf, kami tidak ada waktu untuk meladenimu!"
Raut wajah Martin begitu layu, dia merasa bersalah tapi dia juga tak mau disalahkan.
Dia hanya tahu Brenda sudah tiada saat pembakaran waktu itu, tapi nyatanya tidak demikian.
Sang gadis masih sehat dan baik-baik saja.
"Jika sempat, nanti kita bisa mengobrol lagi saat secara minum teh," ucap Brenda penuh ketegaran.
Dia merasa rindu pada sang kekasih yang ia kira tiada.
...
Brenda sikap yang ditunjukkan oleh kekasihnya, dia langsung menarik lengan sang mafia dan masuk ke dalam area hotel.
Raut sang gadis berubah menjadi sendu dan terlihat bulir air mata yang hampir jatuh, dia tersiksa dengan segala beban ini.
"Kau tidak perlu merasakan kesedihan itu, aku tidak pantas bersama dengan pria semacam itu karena aku ada di sampingmu!"
"Aku tidak butuh kalian berdua karena aku bisa hidup sendiri!"
"Tidak sayang, kau tidak bisa hidup sendiri karena kau seorang wanita yang sangat lemah!"
"Kau tahu apa soal aku? Aku hanya bisa membuat hidupku hancur dan tidak bermakna lagi karena kau sudah menghancurkan kehidupanku! Aku tidak pernah mengharapkan apapun darimu tetapi kau tidak mau pergi dariku! bisakah Kau membiarkan ku sendirian?"
Brenda, melangkah dengan penuh emosi menuju lift, lalu sang suami menggendong tubuh itu.
__ADS_1
"Woy! Apa yang kau lakukan padaku? turunkan aku!"
"Tidak, aku akan memandangmu sampai di lift itu dan jangan memintaku untuk menurunkanmu!"
"Kau gila ya?"
"Ya, aku memang gila dan sudah tergila-gila padamu!"
Sang mafia begitu cepat melakukan segalanya sehingga di dalam lift, dia mengusir semua orang yang akan naik ke atas, kini tersisa hanya dua orang itu saja.
"Kau tidak perlu melakukan semua! aku masih sangat membencimu!" ujar Bella.
Sang suami Ya sudah tadi merasa bahagia karena sang istri mengakui keberadaannya di depan Martin, tidak bisa membendung kebahagiaannya sehingga dia memeluk Gadis itu rata-rata meskipun masih dalam gendongan.
"Hey, Apa yang kau lakukan kepada tubuhku! karena aku sangat membencimu dan tidak akan pernah bisa memberikan cinta kepadamu!"
Brenda melakukan perlawanan berulang-ulang sehingga membuat pria itu sepertinya tidak lelah untuk menggoda istrinya.
"Haha, Aku sangat suka perlawananmu karena aku lebih mencintaimu dari siapapun! Jangan membuatku marah hanya karena kau tidak mencintaiku, cinta bisa datang karena terbiasa dan kau harus mengakuinya! kalau aku juga akan mencintaiku dan aku menunggumu momen itu!"
"Aku tak sudi melakukan hal yang membuatku sedih, Aku tidak pernah memberikan kesempatan untuk hatiku membuka perasaan kepadamu, tidak ada hal seperti itu! kok harus ingat baik-baik mafia!"
"Haha! katakanlah punya kau mau, aku sama sekali tidak memperdulikannya karena cinta yang aku rasakan dan aku miliki lebih dari apapun yang kau sampaikan itu! masa bodoh jika kau tidak menginginkan diriku, intinya kau sudah sah menjadi istriku dan kita akan menghadapi kehidupan bersama tanpa ada yang menghalangi kecuali Martin sendiri."
Sang gadis terus saja melawan sehingga pria itu sangat menertawakan sang istri.
"Haha, aku tahu kau butuh hiburan yang cukup agar hatimu baik-baik saja, tertawa bersama aku karena aku sedang menghiburmu!"
"Tidak akan, mana bisa aku tertawa disaat hatiku sedang murung dan begitu sedih akibat dirimu yang telah menghancurkannya! turunkan aku dan biarkan aku lepas!"
"Tidak akan cantik!"
Sang mafia justru membungkam mulut sang istri dengan mulutnya, dia tidak memperdulikan sang istri yang kehabisan nafas, hanya ingin melepaskan hasratnya yang sudah terhalang.
Martin membuatnya emosi dan harus melakukan sesuatu yang cukup ekstrim yaitu mempertemukan antara Brenda dan Martin di dalam tempat yang sama seperti sekarang ini.
Ting!
Lift terbuka, tapi di lantai yang salah.
"Bukan ini lantainya, kita masuk lagi!"
"Aku tidak mau."
__ADS_1
Brenda teringat lagi akan kesedihan itu, dia tak mau masuk ke dalam lift lagi, dia hanya diam tanpa kata.
*****