
"Emang lena kenapa lagi" Tanya Vano yang masih sibuk menandatangin berkas-berkasnya. Vano terliht sangat tenang dan terlihat tidak terlalu tertarik dengan apa yang akan Vina bicarakan.
"Loe kok tenang banget sihh?! Loe gak khawatir sama lena dia kan adik loe juga kalok dia bunuh diri karena depresi gimana?!" Teriak Vina. Ucapan Vani membuat Vano langsung menatapnya dengan tajam.
"Maksud loe apaan? Tanya Vano. "Udah jelas dong maksud gue apaan sememjak loe ngelarang Lena deket sama Renhat Lena udah gak pernah ngomong sama kita lagi. Terus dia juga ngurung diri mulu di kamar gak pernah senyum apalagi ketawa kayak dulu lama- lama gue liat kayak mayat hidup tau gak" Jelas Vina panjang lebar.
"Jadi?" Tanta Vano dengan ekpresi datarnya. Sedangkan Vina mulai habis kesabaran menghadapi tingkah Vano. "JADI APA RENCANA LOE BUAT BIKIN LENA LUPA SAMA RENHAT?!" Teriak Vina.
Vano langsung menutup kedua telinganya karena mendengar teriakan Vina. "Udah tenang aja, gue udah punya rencana kok. Nih liat!!" Perintah vano sambil memberika sebuah amplop.
"Amplop apaan nih??" Tanya Vina kemuadian dia segera membuka amplop tersebut dan ternyata di dalamnya ada foto cowok-cowok ganteng. Vina memperhatikan foto itu dan kemudian bertanya pada Vano apa maksudnya meminta Vina melihat foto cowok-cowok itu. "Maksud loe apa nguruh gue ngeliat foto cowok-cowok itu".
__ADS_1
Vano menatap Vina dengan senyum liciknya. "Pilih satu buat jadi adik ipar loe" Ucap Vano. Vina terkejut mendengar ucapan Vano. "Loe mau ngejodohin Lena sama salah satu dari mereka??" Tanya Vina. Sedangkan Vano hanya menngangguk menjawab pertanyaan Vina.
"Loe yang bener aja lena gak mungkin setuju sama perjodohan ini" Ucap Vina. "Lena harus setuju karena dia gak ada pilihan lain selain bilang 'iya'!!" Ucap Vano. "Maksud loe?" Tanya Vani.
Flashback on
Beberapa hari yang lalu Vano menemui Lena di kamarnya. Lena yang sedang melamun menatap keluar jendela menyadari kehadiran Vano yang berada tepat dibelakangnya. "Ngapian kakak kesini?" Ketus Lena.
"Kakak gak bakal menentang hubungan kamu sama Renhat asal kan sebelum bulan depan dia sama keluarganya udah harus dateng ke sini buat ngelamar kamu kalok gak kamu harus setuju buat nikah sama cowok pilihan kakak,gimana?" Tanya Vano dengan penuh percaya diri.
Sedangkan Alena merasa khawatir dia tau Renhat tidak mungkin datang melamarnya. Dia sendiri juga tidak tau bangaimana parasaan Renhat padanya. Tapi mungkin hanya ini satu-satunya cara agar kakaknya tidak menentang hubungannya dengan Renhat. Akhirnya dengan penuh pertimbangan Alena menerima kesepakatan yang di tawarkan oleh Vano.
__ADS_1
"Oke Lena setuju tapi kakak harus janji kakak gak bakal nentang hubungan lena sama Renhat lagi" Ucap Alena. Vano langsung menatap Alena dengan senyum liciknya dia tau kalau Renhat tidak mencintai Alena. Jadi dia yakin 100% kalau dia akan menang.
"Oke asalkan dia beneran dateng sama keluarganya ngelamar kamu kakak janji gak bakal nentang hubungan kalian" Ucap Vano seraya keluar dari kamar Alena.
Flashback off
"Bagus juga ide loe" Puji Vina. Vina merasa lega mendengar penjelasan Vano itu berarti Alena tidak harus bersama Renhat Kusuma yang kejam itu.
Vano kembali tersenyum "Sekarang Alena tinggal punya waktu satu minggu dan gue yakin Renhat gak mungkin dateng buat ngelamar Lena" Ucap Vano dengan penuh percaya diri.
"Kalok gitu gue pilih cowok ini buat jadi adik ipar gue" Ucap Vina sambil menunjukan sebuah foto pada Vano. "Alvaro Dwinata pilihan bagus" Ucap Vano.
__ADS_1
Alvaro merupakan seorang pengusaha muda yang sukses selain pintar Alvaro juga tampan dan memiliki latar belakang keluarga yang baik. Tapi sayang kedua orang tuanya meninggal sejak dia masih kecil. Alvaro sebenarnya memiliki seorang adik namun adiknya bunuh diri 2 tahun yang lalu karena depresi terus di tolak oleh orang yang dia cintai. Jadi sekarang Alvaro hidup sebatang kara.