
Dua orang yang memiliki perasaan yang berbeda itu terlihat saling pandang dan sang pria begitu full senyum.
"Kau ini memang tidak waras dan selalu memperlihatkan ekspresi yang aneh!"
Sang gadis masih tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh sang pria.
"Kau pria yang membosankan kedua setelah satpam yang ada di kantorku!"
"Haha, berarti aku berarti familiar bagimu ya? astaga! sakitnya!"
Sang mafia terlihat berakting, dia memegang dadanya, rasanya jantung itu sang sakit dan tidak terkondisikan.
"Kenapa kau?"
"Rasanya sangat sakit, tapi kau tidak mempedulikan aku!"
"Huft!"
Sang istri masih tak mau mengikuti aturan manja yang diinginkan oleh sang pria.
Dia memilih untuk tidur saja.
Dua jam kemudian ...
Pesawat sudah mendarat, tetapi sang istri masih memejamkan matanya.
Sang suami tak tega untuk membangunkan istrinya sehingga dia menggendong tubuh itu dari turun dari pesawat sampai di depan bandara.
Banyak orang yang melihat ke arah pria itu, tapi sang mafia tidak peduli dengan apa yang orang-orang lihat terhadapnya.
Dia lebih terfokus kepada sang istri yang kelelahan dan sangat mengantuk.
...
Di depan bandara, sang mafia sudah ditunggu oleh seorang anak buah yang juga berada di tempat itu.
Pria berjas hitam yang menamakan diri sebagai anak buah paling patuh, terlihat membukakan pintu untuk sang bos.
Dia meminta bos mafia untuk masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan.
"Nona Brenda pingsan atau memang tidur?"
"Dia kelelahan karena melihatku terluka, jadi dia sangat ingin tidur."
"Oh begitu."
Sang anak buah dengan sigap membantu memasukkan tubuh sang gadis ke dalam mobil.
Sedangkan sang mafia ada di samping istrinya.
Sang anak buah, menjadi sopir yang patuh.
Dia duduk di kursi kemudi.
"Penginapan paling bagus di tempat ini."
"Oke bos, siap!"
Sang anak buah, begitu semangat.
Dia segera melajukan kendaraannya, menuju tempat penginapan yang paling bagus.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan menuju penginapan itu, sang mafia hanya menatap wajah istrinya, dia sangat bahagia dengan kebersamaan ini, tanpa ada yang menganggu.
"Baby, kau harusnya tahu bahwa aku sangat ingin bersamamu, bagaimana bisa kau melakukan ini?" ucap sang mafia lirih, dia menempatkan kepala sang istri berada dalam pangkuannya, kemudian mengusap rambut sang istri.
Dia senang saat berada di dalam situasi ini.
Sang istri menggeliat dan merasa nyaman tidur di pangkuan sang mafia, ini sangat bertolak belakang dengan apa yang dikatakan oleh sang istri di saat matanya terbuka.
"Cih, aku rasa kau hanya berpura-pura saja, aku rasa kau sangat ingin menjadi gadis yang ingin aku sayangi, baiklah! aku sangat ingin melakukan ini padamu, hanya saja kau terlalu jual mahal."
...
Beberapa menit kemudian ...
Mobil yang dikendarai oleh sang mafia, berhenti di depan sebuah hotel yang cukup mahal.
Sang anak buah menoleh ke arah pasangan suami-istri itu.
"Bos, apa kau masih ingin berada di dalam mobil ini?" tanya sang anak buah yang merasa bosnya sedang merasakan kebahagiaan.
"Sssst, jangan berisik, kau bisa keluar terlebih dahulu. Aku memintamu untuk memesan kamar untukku, setelah melakukan tugas itu, kau beri tahu aku," pinta sang mafia.
"Baik bos."
Sang anak buah lalu keluar dari mobil itu, dia terkejut saat melihat seorang pria yang terlihat mirip Martin.
"Dia juga ada di sini," batin sang anak buah.
Martin yang mendapatkan pelukan mesra dari istrinya, mencoba menghempaskan tangan manja yang melingkar di lengan Martin.
"Jaga sikap, ini di tempat umum," bisik sang suami.
Sang istri merasa tak dihargai oleh sang suami, dia merajuk.
Sang suami langsung merebut ponsel yang digunakan oleh sang istri melakukan panggilan telepon terhadap sang ayah mertua.
Dia mematikan panggilan yang sudah tersambung itu.
"Oke, kau mau apa? aku tidak suka jika kau selalu mengadu kepada ayah jika mendapati aku kesal!"
Martin mendekatkan tubuh sang gadis dan membuang ponsel milik Sonia.
"Apa ini yang kau mau?"
Sang pria begitu lihai melakukannya, sehingga anak buah Maraville tak habis pikir, ada dua orang tak tahu malu yang terbuka di area luar hotel.
Meskipun bebas, tapi setidaknya bisa menahan diri, pikir sang anak buah yang merekam kejadian itu untuk bukti agar istri sang bos mau mengakui jika Martin sudah tak suci seperti dulu.
Dia yang tak peduli akan kelanjutan kisah dua anak manusia itu, terlihat masuk ke dalam area hotel dan menuju resepsionis.
Dia memesan kamar paling bagus.
"No 142," ucap sang resepsionis sambil menyerahkan kuncinya.
Setelah itu, dia memeriksa kamar hotel yang sangat bagus itu, sang anak buah berjalan menuju lift.
Dia harus benar-benar memastikan jika kamar hotel yang dimaksud, sesuai dengan selera sang bos.
Cukup lama dia ada di lift karena kamar yang dimaksud hampir ada di puncak hotel itu, memang benar, jika itu bagus, pasti memberikan sensasi yang tak biasa.
Sang anak buah lalu menelpon Maraville.
__ADS_1
"Bos, kau mendapatkan kamar 142, aku sedang memeriksa, apakah tempat ini bagus atau tidak."
Sang anak buah, ingin sang bos mendapatkan tempat tidur nyaman, jadi dia memastikannya.
"Ya, kau keren juga."
Sang bos, lebih memilih menyerahkan segala sesuatunya kepada anak buah.
"Bos, aku memiliki video bagus."
"Apa itu?"
Sang anak buah, mengirimkan video yang baru saja ia rekam.
"Bagaimana?"
"Haha, ini bagus, Martin ada di tempat ini? aku suka."
Sang mafia begitu bersemangat dalam menjalani rencananya yang akan ia eksekusi beberapa hari lagi.
...
Di dalam mobil ....
"Bagus ini, aku suka caramu melakukan penangkapan basah dua orang yang seperti kucing."
Sang bos, mengibaratkan dua orang yang bermain di luar itu, seperti kucing yang sedang bermesraan.
"Terimakasih bos. Oh ya, lantai 142, sudah ada di depan mata, nanti aku akan mereview dengan merekam tempat ini, jika bagus, bos bisa langsung ditempati."
"Oke."
Panggilan telepon usai, sang bos melihat sang istri kembali menggeliat, tapi dengan membuka mata.
"Hoam!"
"Selamat bangun tidur sayang!"
"Astaga!"
Sang istri terlihat menjauh dari tubuh kekar sang suami.
Dia sangat terkejut.
"Kenapa sayang?"
"Kau memang pria kurang ajar, bagaimana bisa melakukan ini padaku!" ucap sang istri.
"Aku ada kado istimewa, apakah mau lihat?"
"Tidak butuh kado!"
"Kau lihat dulu, baru berkomentar."
Sang gadis yang kini duduk di samping mafia dan memalingkan wajah ke arah jendela, tiba-tiba mendengar suara aneh dari ponsel milik sang suami.
"Ini Martin dan istrinya, apa aku masih tak percaya juga?"
Sang suami mencoba meyakinkan sang istri, Brenda yang masa bodoh, hanya menatap ke arah jendela.
Sampai dia benar-benar memastikan jika itu suara Martin.
__ADS_1
"Apa yang dikatakan oleh mafia itu benar? Martin telah berkhianat?" batin sang istri penuh gemuruh keraguan.
*****