
Satu minggu kemudian. Sampai waktu yang di tentukan oleh Vano habis Renhat dan keluarganya ternyata tidak datang itu berarti Alena harus mau di jodohkan sama orang pilihan kakaknya.
Alena sedang tiduran di kamarnya sambil menatap dinding langit-langit. Sampai Vano datang dan membuatnya bangun dari tidurnya. Sekarang Vano telah duduk di tepi ranjang Alena.
"Lena kakak udah kasih kamu kesempatan buat sama Renhat tapi sayangnya di gak dateng buat ngelamar kamu. Jadi mau gak mau kamu harus mau kakak jodohin" Ucap Vano.
"Iya lena tau, Lena gak bakal cobak buat kenal dulu sama cowok pilihan kakak" Ucap Lena pasrah.
Sedangkan Vano tersenyum puas mendengan perkataan adiknya itu. "Bagus kalok gitu nanti siang kamu ketemu sama dia di kafe XXX. Namanya Alvaro Dwinata" Ucap Vano. Alena hanya mengangguk mengiyakan ucapan kakaknya. "Bagus kalok gitu dandan yang cantik ta buat nanti" Ucap Vano sembari menepuk-nepuk pelan kepala Alena.
Alena hanya mengangguk. Kemudian Vano pergi meningalkan kamar Alena. Mau tidak mau dia harus tetep pargi menemui Alvaro dia sudah janji pada kakaknya jadi dia tidak mungkin melanggar janjinya.
__ADS_1
Alena memakai dress selutut berwana peach dengan rambut hitam panjang yang dibiarkan tergerai Alena tampak cantik apalagi dengan wajah polosnya tanpa Make Up.
Alena sampai di kafe tapi dia tidak menemukan sosok dia cari. Bukanya melihat Alvaro Alena malah melihat sosok orang yang dia kenal sedang sibuk mengobrol dengan seorang pria di depannya. Ya itu Renhat bersama Anggara yang sedang lewat lalu kebelulan mampir karena Anggara pengen nongkrong bentar.
Alena pikir mungkin ini adalah satu-satunya kesempatan yang dia punya untuk bersama Renhat. "Mungkin ini kesempatan terakhir yang bisa gue cobak buat bareng sama Renhat dan ngebatalin perjodohan ini" Batin Alena.
Alena mendekati meja Renhat dan Anggara. "Renhat" Panggil Alena. Renhat melihat sekilas ke arah Alena. "Apa?" Tanya Renhat singkat. Anggara yang melihat kejadian ini hanya mematung melihat kecantikan Alena tanpa memperhatikan obrolan Renhat dan Alena.
"Gue mohon Renhat bantu gue, gue cuman minta loe pura- pura jadi pacar gue biar perjodohan gue bisa dibatalin" Mohon Alena. "Kenapa harus gue?" Tanya Renhat. "Kalok cuman pura-pura jadi pacar loe temen gue bisa bantu loe dan masih banyak cowok lain yang bisa bantu loe kenapa harus gue" Ucap Renhat. "Ayo gara" ajak Renhat.
Renhat dan Anggara kemudian meninggalkan Alena di kafe itu. Alena tidak ingin menyerah semudah itu dia kemudian mengejar Renhat. Saat Renhat akan masuk ke dalam mobilnya Alena menarik tangan Renhat membuat Renhat menghentikan langkahnya. Renhat menoleh ke arah Alena dan langsubg menghempaskan tanganya.
__ADS_1
"Apa lagi gue udah bilang gue gak bisa bantuin loe, loe cari cowok lain aja buat pura-pura jadi pacar loe" Ucap Renhat dingin. "Gue mohon cuman loe yang bisa bantu gue" Ucap Alena yang terus memohon pada Renhat agar Renhat membantunya.
"Kenapa harus gue? Tanya Renhat. "Karena emang cuman loe yang bisa bantu gue" Ucap Alena. Anggara yang dari tadi mendengarkan penbicaraan mereka akhirnya mulai bicara.
"Udah Ren setuju aja kan loe bisa sekalian kenalin dia sama mama loe jadi loe gak di paksa nikah mulu" Ucap Anggara. Renhat langsung menatap Anggara dengan tatapan tajam.
"Gue gak akan mau pura-pura jadi pacarnya dan gak akan pernah setuju, ngerti loe!!" Ancam Renhat pada Anggara.
"Iya kan gue cuman menyarankan, jangan salahin gue dong" Ucap Anggara menbela dirinya.
Tanpa mereka sadari dari tadi ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari dalam mobil yang ada disebrang jalan. Seorang wanita paruh baya yang terus mengawasi gerak-gerik mereka bertiga. Ya orang itu adalah Reina mamanya Renhata.
__ADS_1