
"Itu demi kebaikan loe juga dari pada loe di suruh ketemu sama anak temen-temen mama loe" Ucap Renhat dengan santai
"Loe enak tinggal ngomong terus kalok mama suruh gue bawa pacar gue pulang gue mau bawa pulang apaan" Ucap Renhat dengan geram
***
"Ehh iya geu lupa" ucap anggara dengah polos.
"Makannya kalok ngomong di pikir dulu gara" Renhat langsung duduk di tepi ranjangnya dan menatap Anggara dengan tatapan mematikan.
"Loe kan tau sendiri gue gak bisa bohong sama mama" ucapnya lagi.
Renhat memeng seorang pumbunuh bayaran dan pemimpin geng mafia yang kejam bagi semua orang tapi dirumah dia tetep anak yang sangat menurut pada mamanya. Bagi Renhat mamamnya bangaikan sorang Dewi,Dari kecil Renhat sudah terbiasa dengan geng mafia dan pembunuhan dan salalu mendapat perlakuan yang kejam dari pesaing-pesaing ayahnya entah sudah berapa kali Renhat mendapat percobaan pembunuhan dari para pesaing-pesaing ayahnya. Tapi disisi lain mamanya selalu menyayanginya dan sangat perhatian padanya. Karena itu Renhat sangat menyayangi mamanyua dan selalu menurut pada mamanya.
"Huh" Anggara menghela nafasnya dan langsung menatapa Rengat dengan heran. " loe itu kan pembunuh yang gak punya hati tapi kok loe nurut banget sama tente Reina" Ucapnya lagi.
__ADS_1
"Udah gak usah banyak tanya loe emang loe ada kerjaan apa pergi sana" Ucap Renhat menatap Anggara dengan tatapan malas.
"Iya dasar anak mami" Ledek Anggara yang kemudian lari terbirit-birit meninggalkan kamar Renhat.
Setelah Anggara pergi Renhat langsung masuk ke kamar mandi dan berendam dengan air panas untuk menghilangkan rasa lelahnya. Setelah 20 menit berendam Renhat keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan celana panjang danĀ handuk kecil untuk ngeringkan rambutnya. Siapapun yang melihat pasti akan terpesona pada Renhat pria tinggi dengan badan atletis, berwajah tampan dengan tatapan mata yang tajam hanya satu kata yang bisa mengambarkan itu "Sempurna". Tapi sayang belum pernah ada wanita yang berhasil menaklukan hatinya.
Renhat yang sudah selesai mengeringkan rambutnya langsung berbaring di ranjangnya yang sangat empuk. Renhat mulai memejamkan matanya dia mulai memikirkan cara agar mamanya tidak terus memaksanya untuk terus menikah. Renhat bukannya tidak ingin menikah tapi dia masih bimbang pada perasaannya, sampai sekarang dia masih terus menunggu dan mencari seseorang yang pernah membutanya berjanji untuk menikahinya saat mereka sudah dewasa nanti. Tapi sayangnya gadis yang membutnya berjanji itu menghilang entah kemana dari dulu dia berusaha memcarinya tapi tidak pernah ketemu.
"Ahhh?! Gue harus gimana sekarang, gue gak bisa ingkar janji tapi gue juga gak bisa nolak permintaan mama buat cepet nikah" Renhat sangat bingung dia tidak ingin mengecewakan mamanya tapi dia juga tidak bisa mengingkari janjinya.
Renhat langsung mengambil handphone yang ada di sebelahnya dia langsung nelpunnya.
"Apaan sih ganggu tidur gue aja loe" Ucap Anggara yang kesal tidurnya terganggu.
"Dari pada loe tidur mending loe nyari identitas cewek itu" Ucap Renhat santai dan tak merasa bersalah sedikitpun karena menggangu tidur Anggara.
__ADS_1
"Aduh... Udahlah dari pada loe terus nyari tu cewek diluar sana kan masih banyak cewek lain loe sama mereka aja" Ucap Anggara.
Renhat yang mendengar kata-kata Anggara langsung menghela nafasnya dejgan kasar. "Mending loe cewek itu atau gue yang cari temen baru buat ngegantiin loe" perintah Renhat.
"Lah jangan gitu dong" Ucap Anggara. Dan tanpa menjawab Anggara Renhat langsung memutus panggilan telpunnya. Setelah Renhat memutus panggilannya Anggara dengan cepat bangun dari tidurnya dan langsung mengambil leptopnya untuk mencari identitas cewek itu.
"Aduh Ren kenapa sih loe masih nyarin tu cewek sampek sekarang. Loe ketemu tu cewek pas umur 8 tahun dan sekarang umur loe 28 tahun Udah 20 tahun gue nyariin tu cewek YA AMPUN KAPAN GUE BAKAL NEMUIN TU CEWEK?!" Umpat Anggara.
Sedangkan Renhat langsung tertidur pulas setelah memutuskan panggilan tersebut.
* Di Rumah Alena*
Setelah kejadian malam itu Alena tidak pernah lagi bicara pada kedua kakaknya dia terus mengunci diri dikamar dan tidak mau bicara pada orang lain.
Vina yang menyadari perubahan sikap pada adiknya merasa bersalah. Vina terus memcoba bicara pada Alena tapi Alena selalu menghidar dan tidak menanggapi apa yang dia katakan.
__ADS_1
Di ruang kerjanya Vano tengah sibuk menandatangani beberapa berkar. Tiba- tiba Vina masuk ke ruang kerjanya dan mengagetkanny. "Ahh?! gue pikir siapa ngagetin aja loe" Ucap Vano kesal.
"Vano gue khawatir sama keadaan Lena selain itu gue juga takut hubungan kita sama Lena jadi hancur gara-gara masalah ini" Tutur Vani.