
Setelah kesal dengan apa yang nampak di dalam netranya serta kelakuan sang suami yang memaksanya melakukan hal yang tak biasa di dalam lift.
Sang gadis kembali merasakan dunianya hancur seketika, dia tak menyangka akan mendapatkan cobaan yang sangat berat seperti ini, bagaimana bisa menjadi orang ketiga saat dia masih mencintai sang kekasih? ini sangat aneh baginya.
Sedari tadi, sang gadis hanya diam.
"Baby, kau tidak perlu memikirkan mereka berdua, ayo kita masuk ke dalam lift," ucap sang suami yang menunggu sang istri mau masuk ke dalam lift, tapi dia gagal terus sebab sang istri tidak mau bergerak.
Dia berdiri seperti patung tepat di depan lift itu.
Sang istri lebih kesal lagi karena tingkah sang suami yang kekanak-kanakan.
"Aku tak suka kau, tetapi masih saja mengajakku bicara? kau telah melakukan hal buruk padaku!" Akhirnya Brenda mengatakan semuanya, setelah diam beberapa waktu.
Beberapa orang heran dan berbisik mengenai sang gadis yang terlihat tak memiliki semangat hidup itu, lalu tiba-tiba saja marah-marah.
"Aku tahu kau sedih, marah, kesal, tapi kau harus kuat, mana bisa terus-terusan seperti ini, ada aku tenang saja, kau juga sudah mengakui jika aku suamimu? apanya yang kurang?" Sang mafia lalu menarik tubuh sang gadis dan memaksanya masuk ke dalam lift, sang gadis tetap keukeuh tak mau dan sang mafia memukul tengkuk istrinya.
Alhasil sang gadis benar-benar pingsan, dia berada dalam genggaman sang mafia yang sebenarnya tak mau berbuat kasar, hanya saja sang istri terlalu mengesalkan.
Beberapa menit berlalu, di dalam lift, sangat berdesakan, sang mafia melindungi Istrinya agar tidak di dorong-dorongan saat akan keluar dari lift.
Ting!
Lift sudah terbuka ...
Sang mafia cukup lega dengan apa yang ia perjuangkan.
"Wah cukup menarik, anak buahku mana ini?" Sang mafia mencari keberadaan sang anak buah, waktu dia ingin memencet bel pintu unit apartemen yang sudah dipesan oleh sang anak buah, tiba-tiba saja sang anak buah muncul dari balik unit apartemen itu.
"Bos?"
"Astaga, kau mengagetkanku!"
"Maaf bos, aku kira kau masih ada di luar."
"Aku ingin cepat-cepat merebahkan tubuh istriku, dia terlihat sangat lelah, aku tidak tega."
__ADS_1
Sang mafia memiliki rasa kasih juga, mungkin itu yang ada di pikiran sang anak buah, dia cukup senang saat sang bos menikahi gadis yang ia cintai meskipun harus menggunakan jalur sadis.
"Oke bos!"
Sang anak buah menyingkir, lalu sang bos masuk ke dalam. Sang anak buah pergi karena tugas sudah selesai.
Sekarang saatnya sang mafia menjaga sang istri yang sedang patah hati itu.
Di dalam kamar utama ...
"Huft, ternyata dia berat juga," ucap sang mafia.
Tiba-tiba sang gadis mengigau saat Maraville membantu merebahkan tubuh itu.
"Kau jahat Martin, apa maksudmu melakukan semua itu padaku, aku tidak menyangka kau akan berbuat semau mu! kau meninggalkanku dan bersama gadis lain! mafia tidak waras itu justru lebih baik darimu! apakah kau tidak merasa malu dengan apa yang aku lakukan! Martin, kau kejam!"
Sang mafia begitu emosi kala mendengar sang istri sangat kecewa dengan apa yang diungkapkan oleh sang gadis.
Dia segera menghubungi anak buahnya.
"Urus Martin, beri dia pelajaran! aku tidak terima istriku sakit hati!" ucap sang mafia lewat panggilan telepon.
"Habisi saja dua orang itu, aku tak suka jika mereka masih hidup pasti akan membuat istriku menderita!"
"Perintah akan segera dilaksanakan!"
"Bagus!"
Sang mafia tersenyum smirk, dia cukup senang dengan kekuasaan yang dia miliki.
"Aku bisa melakukan apapun jika istriku sampai menangis, awas kau Martin!"
Sang pria lalu beranjak dari tempat duduknya, dia menuju kamar mandi karena rasanya ingin membersihkan diri setelah perjalanan yang cukup jauh.
....
Di tempat lain...
__ADS_1
Martin masih memikirkan apa yang baru saja dia lihat, dia tidak pernah menyangka jika kekasihnya masih hidup dan menikahi pria lain.
Ini begitu menyebalkan baginya karena selama ini dia juga merindukan serta mencari Brenda kemana-mana, setelah bertemu dia justru merasa kesal.
"Baby, Apa yang kau pikirkan?" tanya sang istri ya duduk di samping kursi kemudi.
"Aku memikirkan dirimu yang tadi kesal, maaf kan aku ya?" ucap Martin berbohong kepada istrinya.
"Haha, foto intinya kau adalah suamiku dan dia bukan apa-apa mu! Aku akan tetap menjadikanmu pangeran di dalam hatiku karena kau juga yang akan menjadi ayah dari anak-anakku."
"Iya, aku sangat bahagia memilikimu yang tidak pernah memberikan keburukan terhadap kehidupanku, terima kasih atas segala hal yang kau berikan!"
"Oke, btw kita mau ke mana ya?"
"Aku sudah menyiapkan tempat yang sangat bagus untuk berlibur, sebuah pantai yang indah!"
"Oke."
Perjalanan yang panjang menuju pantai yang dikatakan oleh sang suami menjadikan dirinya bosan, tanpa sengaja dia membuka sebuah berita online dan mendapati foto Brenda di sana.
"Seorang gadis cantik bernama Brenda Marvina, di kapal kan masih hidup setelah beberapa hari lalu menghilang, yakin hidup sama seorang bos mafia yang sangat terkenal di kota. Meskipun seluruh keluarganya telah tiada dengan misterius, tetapi, media tidak bisa mengekspos sang suami karena privasi yang tidak bisa diganggu gugat."
Sang istri membaca berita online di ponselnya, dia terkejut dengan wajah Brenda ada di sana.
"Owh, jadi dia Brenda ya? anak seorang pengusaha sukses yang tidak mau bekerja di tempat ayahnya? nasibnya sangat miris, oh ya pasti pria yang bersamanya itu adalah bos mafia yang dimaksud. Ini akan membuat kita mendapatkan uang lebih jika bisa mewawancarai 2 orang itu, media akan ramai memberitakan kita."
Sang istri begitu Ingin terkenal sehingga dia melakukan segala cara tetapi sang suami sama sekali tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh istrinya.
"Tidak perlu mengambil keuntungan dari seorang yang sudah dikatakan meninggal dunia, tetap fokus dengan perjalanan menuju pantai yang indah. Kau bilang ingin memiliki anak yang banyak, seharusnya kau fokus dengan jalan-jalan kita dan kita akan membuat semua anak itu di resort yang ada di dekat pantai."
Martin dengan sekali menyelidiki apa yang disampaikan pada berita online itu tetapi dia harus mengelabui sang istri agar tidak ketahuan.
Dia pura-pura tidak peduli dengan apa yang diberitakan itu sehingga dia hanya menutupi apapun yang ingin dia ketahui.
"Iya baby, aku tahu kau sangat mencintaiku dan tidak akan memikirkan gadis lain, iya kan?"
"Tentu saja! Aku tidak akan mengkhianatimu, Aku akan terus bersamamu sampai akhir hayat nanti." ucap sang pria berdusta.
__ADS_1
*****