
Saat Alena sampai di rumah kedua kakaknya sudah ada di ruang tamu menunggunya."ehh kalian kok belum tidur?" tanya Alena "Alena ikut kakak sebentar kita mau ngomong sesuatu sama kamu" Vina menarik tangat Alena masuk ke kamarnya.Sampai di kamar Vano langsung mengunci pintu agar tidak ada yang masuk. "ini ada apa ya kak, kok pintunya sampek di kunci selaga" tanya Alena yang bingung melihat sikap ke dua kakaknya.
"Alena sekarang kamu jujur sama kakak, kamu kenal sama Renhat Kusuma?" tanya Vano yang tanpa basa basi langsung mulai mengintrogasi adiknya." hah?!?! kok kakak bisa nanyak soal Renhat apa kakak udah tau ya?" batinnya Alena, "Alena jangan bengong jawab pertanyaan Vano sekarang" ucap Vina sedikit membentak Alena." gak aku gak kenal sama orang yang kakak bilang tadi" Alena berbohong pada kedua kakaknya karena takut mereka tidak akan menyetujui hubungannya.
__ADS_1
Vano yang mendengar kebohongan Alena marah karena Alena tidak pernah bohong dan sekarang dia berbohong untuk Renhat "Alena jawab yang jujur" bentak Vano. Alena sangat kaget mendengar Vano membentaknya ini adalah pertama kalinya dia dimarahi aleh Vano "tapi kak..." belum selesai Alena bicara Varo langsung menotong pembicarannya "tapi apa kakak udah tau semuanya sekarang jawab yang jujur" bentak Vano.
"Kakak gak suka kamu punya sama Renhat dia seorang pembunuh bayaran kamu gak akan bahagia kalok sama dia, Dia juga orang kejam dan gak punya hati" ucap Vina berusaha menasehati adiknya " Tapi kak dia gak seburuk yang kakak pikir"Alena Menbantah ucapan kakaknya karena menurut Alena Renhat tidak seburuk yang kakaknya bilang. "dia udah nyelametin dan aku percaya kalok aku bisa ngubah sikapnya jadi lebih baik" ucap Alena menyakinkan kakaknya."iblis kayak dia gak akan pernah bisa berubah" bentak Vano, " Kak dia bukan iblis dan lena yakin di bisa berubah" ucap Alena "atas dasar apa iblis kayak dia bakal berubah?"tanya Vano. Alena yang mendengar hal tersebut seketika diam, "Kenapa diem?" tanya Vano "udahlah lena kakak tau kamu sadar kalok Renhat gak punya perasaan apa-apa sama kamu" ucap Vano yang meremehkan Alena.
__ADS_1
" Lena sadar dong buat apa loe berkorban demi cowok kayak gitu,loe pantes dapet yang lebih baik dari dia" ucap Vina "Tapi yang Lena mau cuma Renhat kak" ucapnya Alena sambil tersenyum ke arah kakaknya.
Vano dan Vina saling menatap satu sama lain,mereka gak percaya sama apa yang mereka dengar. Alena manatap kedua kakaknya dan kemudian keluar dari kamar tersebut tanpa bicara satu kata pun.Vano duduk di kursi sambik memegang kepalanya "Ahhh pusing gue" teriak Vano " Emang apa Renhat lakuin sampek bisa bikin Alena cinta setengang hati sama dia"gerutu Vano. "tau gue heran apa lena kena pelet ya" kata Vina sambil berpikir apa bener Alena kena pelet. Vano yang mendengar itu langsung menatap Vani dengan tatapan sinis " loe pikir sekarang zaman apa masih percaya aja loe ama yang kayak gitu"ucap Vano dengan sinis."ya siapa tau bener Lena kena pelet" ucap Vina dengan wajah cemberut. Vano langsung menepuk jidatnya sambil geleng-geleng "Kenapa gue punya kembaran yang otaknya cuman separuh" kata Vano, Vani yang mendengar hal itu langsung menatap Vano dengan marah "apa loe bilang otak gue cuman separuh berarti separuhnya lagi di loe kan loe kembaran gue" Vina terus nyerocos gak selesai-selesai, sedangkan Vano terus memegang kepalanya karena pusing denger Vina ngoceh.
__ADS_1
"Aduh bisa diem gak sih loe puyeng gue denger loe ngoceh dari tadi" ucap Vano.Vina akhirnya diem dan langsung pasang wajah serius "jadi gimana cara kita misahin Lena dari Renhat" ucap Vina dengan wajah serius." Tenang aja apapun yang terjadi gue Lena pasti bakal berubah pikiran dan gak akan suka lagi sama Renhat" ucap Vano di sertai dengan senyum jahatnya.