Suamiku Si Cowok Cantik

Suamiku Si Cowok Cantik
Part 1


__ADS_3

Dia cowok berwajah


cantik dan postur tubuh minimalis,


maksudku perawakannya begitu mungil


untuk ukuran anak cowok.


Sebenarnya kami masih sama-sama


bersekolah di tingkat terakhir SMA. Hanya


saja karena sebuah perjodohan dan


kehendak orang tua yang sangat ingin kami


menikah, akhirnya aku dan Delova dengan


berat hati menyetujui keputusan mereka.


"Ningsih! gue mandi duluan ya,"


Ck! Cowok ini songong sekali sih! kenapa


seenak jidatnya memanggilku Ningsih?!


"Nama gue Nadira Avanya!"


seruku, sebab Delova sudah masuk lebih


dahulu ke dalam kamar mandi apartemen


kami. Yeah, setelah sukses melaksanakan


akad nikah dikediamanku tadi pagi, kami


berdua langsung digiring ke apartemen yang


akan kami tinggali bersama selama


beberapa waktu.


"Sorry! Abisnya gue ke inget sama pembantu


dirumah!"


balas Delova.Sialan!


Kalau saja aku tau lebih awal mengenai


sikap Delova yang begitu menyebalkan,


sudah pasti aku tidak akan setuju dengan


perjodohan kami.


Sejujurnya aku memiliki alasan lain


menerima pernikahan ini, yaitu karena


kekasihku yang sekarang sudah menjadi


mantan, ternyata berselingkuh dengan


sahabatku.Singkat kata, Delova hanya pelarian.


Sedangkan Delova, dia menerima pernikahan


kami karena orang tuanya mengancam akan


mencoreng nama cowok cantik itu dari hak warisnya.


Mama Delova begitu mengharapkan agar


aku dapat mengubah cara hidup Delova.


Tidak, dia sama sekali tidak seperti banci.


Meskipun ku akui wajahnya terlihat tampan


dan cenderung sangat cantik, tetapi Delova


tetaplah Manly, apalagi dia merupakan atlet


karate bersabuk hitam.


Masalahnya, Delova itu aseksual.Dia bukan


gay, namun juga tidak menyukai wanita.

__ADS_1


Yang dia cintai hanya dirinya sendiri.Aneh


memang.


Kulangkahkan kaki mendekati kamar mandi.


Sudah hampir jam 9 malam, tetapi


aku hanrus mandi beegantian dengan dia.


Iseng-iseng aku mengintip di lubang kunci


pintu, sialnya pintu malah terbuka dan


menampilkan sosok Delova yang sudah


mengenakan piama tidur pendek. Pantas


lama rupanya dia beeganti pakaian di dalam


kamar mandi.


"Dih! Ngintip suami sendiri!"


ketusnya seraya menggetok kepalaku


dengan gayung yang ia pegang.


"Abisnya lo lama banget sih!"


balasku dengan nada tinggi, sumpah aku


sangat malu saat ini.


"Alesan, oh ya, kalau lo mau mandi, ganti


bajunya langsung di kamar mandi aja,"


Delova bersungut memperingati. Ngomong-


aku jadi salah fokus ketika melihat


kakinya dari bagian lutut ke bawah yang


terekspos. Damn benar-benar mulus dan


"Cewek kok nafsuan,"


cibir Delova seraya melewatiku.


"Ngomong apa lo barusan? sembarangan!"


aku berseru kesal, sedangkan Delova malah


menjulurkan lidahnya meledekku.


..


..


..


Selesai mandi dan mengenakan


piyama tidur panjang yang bermotif sama


dengan milik Delova. aku pun melangkah


keluar dari kamar mandi.


Dimeja kerjanya, Delova terlihat sedang


mengerjakan sesuatu melalui laptop.Dia


memang sudah ikut bergabung dengan


perusahaan orang tuanya dan menjadi


manajer di sana.


"Lova, elo gak ngantuk?"


Dia menatapku dan menggeleng.


"Tidur yuk, gue takut di kamar sendirian,"


Aku tidak berbohong karena aku memang


penakut jika tinggal di tempat baru begini.

__ADS_1


"Hah! nyusahin aja lo,"


gerutu Delova. Tetapi cowok cantik itu tetap


bangkit dan menghampiriku.


"Elo kan suami gue!"


Aku membuntutinya ke kamar.Selain


hanya ada satu kamar, ternyata hanya juga


tersedia satu ranjang yang berukuran


lumayan besar.


"Kasur gue dirumah bahkan lebih gede dari


ini!"


Komentar Delova. Sepertinya orang tua kami


sengaja melakukan ini semua.


"Terima nasib,"


kataku, kemudian merebahkan diri di atas


kasur tersebut. Kulihat Delova duduk


dipinggiran ranjang sembari membersihkan


wajahnya dengan kapas yang sudah diberi


air bunga mawar, lalu dengan telaten dia


memakai masker wajah.


"Cowok kok hobinya perawatan,"


sindirku.


"Biar kulit gak rusak dan tetap lembut. Ini


maaker biasa, lo harus cobain geh!"


Tertarik juga sih. Aku mendudukan diri


di sebelah Delova. Dia mengoles kapas


membersihkan wajahku, lalu membubuhkan


masker dengan hati-hati. Delova


memperlakukan aku seperti bayi.


"Udah yuk, tidur. Tapi lo jangan macem-


macem ya!"


Aku yang cewek, namun dia yang begitu


takun akan aku apa-apakan.


"Ini batas suci! haram kalau dilewatin!"


Delova meletakan bantal guling diantara


kami.


"Masa?"


aku membuang bantal guling tersebut dan


menghambur memeluk Delova yang sudah


berbaring.


"NADIRA!"


Ya ampun dia histeris sekali.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2