
Dia cowok berwajah
cantik dan postur tubuh minimalis,
maksudku perawakannya begitu mungil
untuk ukuran anak cowok.
Sebenarnya kami masih sama-sama
bersekolah di tingkat terakhir SMA. Hanya
saja karena sebuah perjodohan dan
kehendak orang tua yang sangat ingin kami
menikah, akhirnya aku dan Delova dengan
berat hati menyetujui keputusan mereka.
"Ningsih! gue mandi duluan ya,"
Ck! Cowok ini songong sekali sih! kenapa
seenak jidatnya memanggilku Ningsih?!
"Nama gue Nadira Avanya!"
seruku, sebab Delova sudah masuk lebih
dahulu ke dalam kamar mandi apartemen
kami. Yeah, setelah sukses melaksanakan
akad nikah dikediamanku tadi pagi, kami
berdua langsung digiring ke apartemen yang
akan kami tinggali bersama selama
beberapa waktu.
"Sorry! Abisnya gue ke inget sama pembantu
dirumah!"
balas Delova.Sialan!
Kalau saja aku tau lebih awal mengenai
sikap Delova yang begitu menyebalkan,
sudah pasti aku tidak akan setuju dengan
perjodohan kami.
Sejujurnya aku memiliki alasan lain
menerima pernikahan ini, yaitu karena
kekasihku yang sekarang sudah menjadi
mantan, ternyata berselingkuh dengan
sahabatku.Singkat kata, Delova hanya pelarian.
Sedangkan Delova, dia menerima pernikahan
kami karena orang tuanya mengancam akan
mencoreng nama cowok cantik itu dari hak warisnya.
Mama Delova begitu mengharapkan agar
aku dapat mengubah cara hidup Delova.
Tidak, dia sama sekali tidak seperti banci.
Meskipun ku akui wajahnya terlihat tampan
dan cenderung sangat cantik, tetapi Delova
tetaplah Manly, apalagi dia merupakan atlet
karate bersabuk hitam.
Masalahnya, Delova itu aseksual.Dia bukan
gay, namun juga tidak menyukai wanita.
__ADS_1
Yang dia cintai hanya dirinya sendiri.Aneh
memang.
Kulangkahkan kaki mendekati kamar mandi.
Sudah hampir jam 9 malam, tetapi
aku hanrus mandi beegantian dengan dia.
Iseng-iseng aku mengintip di lubang kunci
pintu, sialnya pintu malah terbuka dan
menampilkan sosok Delova yang sudah
mengenakan piama tidur pendek. Pantas
lama rupanya dia beeganti pakaian di dalam
kamar mandi.
"Dih! Ngintip suami sendiri!"
ketusnya seraya menggetok kepalaku
dengan gayung yang ia pegang.
"Abisnya lo lama banget sih!"
balasku dengan nada tinggi, sumpah aku
sangat malu saat ini.
"Alesan, oh ya, kalau lo mau mandi, ganti
bajunya langsung di kamar mandi aja,"
Delova bersungut memperingati. Ngomong-
aku jadi salah fokus ketika melihat
kakinya dari bagian lutut ke bawah yang
terekspos. Damn benar-benar mulus dan
"Cewek kok nafsuan,"
cibir Delova seraya melewatiku.
"Ngomong apa lo barusan? sembarangan!"
aku berseru kesal, sedangkan Delova malah
menjulurkan lidahnya meledekku.
..
..
..
Selesai mandi dan mengenakan
piyama tidur panjang yang bermotif sama
dengan milik Delova. aku pun melangkah
keluar dari kamar mandi.
Dimeja kerjanya, Delova terlihat sedang
mengerjakan sesuatu melalui laptop.Dia
memang sudah ikut bergabung dengan
perusahaan orang tuanya dan menjadi
manajer di sana.
"Lova, elo gak ngantuk?"
Dia menatapku dan menggeleng.
"Tidur yuk, gue takut di kamar sendirian,"
Aku tidak berbohong karena aku memang
penakut jika tinggal di tempat baru begini.
__ADS_1
"Hah! nyusahin aja lo,"
gerutu Delova. Tetapi cowok cantik itu tetap
bangkit dan menghampiriku.
"Elo kan suami gue!"
Aku membuntutinya ke kamar.Selain
hanya ada satu kamar, ternyata hanya juga
tersedia satu ranjang yang berukuran
lumayan besar.
"Kasur gue dirumah bahkan lebih gede dari
ini!"
Komentar Delova. Sepertinya orang tua kami
sengaja melakukan ini semua.
"Terima nasib,"
kataku, kemudian merebahkan diri di atas
kasur tersebut. Kulihat Delova duduk
dipinggiran ranjang sembari membersihkan
wajahnya dengan kapas yang sudah diberi
air bunga mawar, lalu dengan telaten dia
memakai masker wajah.
"Cowok kok hobinya perawatan,"
sindirku.
"Biar kulit gak rusak dan tetap lembut. Ini
maaker biasa, lo harus cobain geh!"
Tertarik juga sih. Aku mendudukan diri
di sebelah Delova. Dia mengoles kapas
membersihkan wajahku, lalu membubuhkan
masker dengan hati-hati. Delova
memperlakukan aku seperti bayi.
"Udah yuk, tidur. Tapi lo jangan macem-
macem ya!"
Aku yang cewek, namun dia yang begitu
takun akan aku apa-apakan.
"Ini batas suci! haram kalau dilewatin!"
Delova meletakan bantal guling diantara
kami.
"Masa?"
aku membuang bantal guling tersebut dan
menghambur memeluk Delova yang sudah
berbaring.
"NADIRA!"
Ya ampun dia histeris sekali.
.
.
.
.
__ADS_1