
Menikah dalam usia yang terbilang muda tidak seharusnya memiliki anak disaat itu pula.
Apalagi aku dan Dealova masih mengenyam bangku sekolah, meskipun kurang lebih dua bulan lagi kami akan lulus dan mulai menjejal universitas. Tetapi cowok cantik itu mengatakan padaku kalau sebaiknya aku dan dia sama-sama mengejar impian kami terdahulu.
Pernikahan kami berlandaskan rekan bisnis,tentu saja baik orang tuaku dan orang tua Delova tidak memaksa untuk memberi mereka cucu.
Well, sebenarnya aku baru sadar tepat ketika tadi malam aku hampir kehilangan kendali dan Delova bersikap dewasa untuk menangani ku.
"Nad, udah selesai?" tanya Delova begitu aku keluar dari kamar mandi dengan seragam sekolah yang telah rapi.
Dia sedang menyiapkan sarapan dimeja, lalu menatapku intens sambil tersenyum manis.
Duh, kalau begini sih aku bisa terkena diabetes tanpa harus mengkonsumsi banyak gula. Habisnya Delova natural terlihat manis dan menggemaskan sekali.
"Pulang sekolah nanti kerumah mama Lo kuy?" ajakku.
Setelah meletakkan sayur mayur dan lauk pauk dipiringku, Delova kembali menyunggingkan senyum. Entah kenapa, pagi cowok mungil itu sudah beberapa kali tersenyum dengan tatapan mata mengarahku.
"Terserah, gue nurut aja."
Delova duduk di hadapanku tanpa mengalihkan pandangannya, membuat aku risih karena terus-menerus diperhatikan.
"Lo kenapa sih ngeliatin gue mulu? Minta morning kiss?" celetukku asal.
Delova membuang muka, Berusaha agar aku tidak melihat guratan merah dipipinya yang putih. Apa dia malu? Makin imut saja deh.
"Gausah digemes gemesin gue terkam gak bisa lepas lagi Lo!" ancamku.
Tak kuduga dia malah melempar tawa renyah, membuat detak jantungku berhenti seketika.
Delova sangat mengagumkan.
"Emangnya Lo singa? Pake nerkam segala! Lo
mah cocoknya jadi kingkong bule."
Aku tarik kata-kataku barusan!
Dia tetaplah si mungil yang bermulut pedas.
"Hih! Dasar cabe keriting!" balasku sengit.
"Elo cabe busuk!"
Sekarang aku mendadak geregetan ingin mencubit jantungnya.
Mengabaikan Delova yang asyik tertawa, aku segera menyuap makan kemulut.
__ADS_1
"Ini hari Kamis kan?"
Aku mengangguk. Kemudian tawa Delova terdengar semakin keras, membuatku mengerutkan dahi karena bingung.
Kalo gitu kenapa Lo pake seragam Pramuka?" tanya Delova dengan tawa yang tidak kunjung mereda.
Eh sialan!
"DELOVA! NGAPA LO GAK BILANG DARI TADI HAH?!
Karma is real ini namanya.
..
..
..
..
" Nadira tunggu, gue mohon jangan kayak begini!"
Aku benci Delova. Kenapa dia tidak bilang jika mamanya yang merupakan mertuaku itu ternyata akrab dengan Anita.
"Gue gak mau denger apapun! Pergi sama
Sepulang sekolah, aku dan Delova memang langsung bergegas menuju kediaman Aryadiraga. Tetapi belum sampai masuk kerumahnya, aku mendengar suara Anita yang tengah bergurau dengan ibu mertuaku.
Mungkin dia bersungguh-sungguh untuk menyingkirkan aku dari kehidupan Delova.
Mataku memanas.
Aku jelek dan tidak pantas bersanding di sisi Delova.
"NADIRA DENGERIN GUE!"
Bersama dengan gema teriakan Delova, pergelangan tanganku kini telah diraih olehnya.
"Lepasin!" kesalku, "Jangan-jangan Lo enggak suka gue sentuh gara-gara sebenarnya elo ada rasa sama Anita?!"
Sakit. Perih rasanya ketika kucoba menahan tangis.
Masa bodo sudah sembarangan menuduh aku tidak mau lebih terluka lagi jika pada akhirnya itulah yang benar.
"Lo salah! Gue cuma cinta sama Lo Nad."
Delova memegang kedua bahuku yang bergetar.
__ADS_1
Aku takut kecewa lagi.
"Dia cantik! Bisa aja Lo berpaling!"
Mengetahui jika aku telah terjerat jatuh hati pada Delova. Membuatku tak dapat menghentikan pikiran-pikiran negatif yang terngiang di otak.
Aku tau kalau aku tidak pernah mengutarakannya secara terang-terangan. Tetapi aku tidak bisa mengabaikan perasaan cinta yang perlahan tertanam kuat dihatiku untuk cowok cantik tersebut.
"Liat gue,"
Tangan Delova mengangkat daguku. Setelah itu dia menyatukan kening kami.
Menipiskan jarak dengan bola mata indahnya yang tetap menatap mataku.
"Lo cuma gak tau dan gak sadar,"
"Apa?" tanyaku.
Untungnya kompleks perumahan elit ini nampak sepi, jadi tidak ada yang melihat kedekatan kami berdua.
"Kalo elo itu cantik," bisiknya, "Fisik dan hati Lo cantik Nad."
Mendengar pujiannya, air mataku malah lolos. Padahal aku sudah bertekad tidak mau terlihat cengeng dihadapan Delova.
"Bohong," lirihku tak percaya.
Delova pasti berbohong. Dia mungkin tidak ingin tangisanku semakin terdengar jelas.
Kurasa Delova takut kalau aku akan bertambah terluka.
"Percaya sama gue."
Jantungku menggila saat Delova mengecup keningku lama.
"Percaya sama gue, kalo elo adalah cewek tercantik yang pernah gue liat," bisiknya, "Lo benar-benar cantik Nadira Avanya."
Mulai detik ini kuputuskan untuk seutuhnya mempercayai Delova. Karena aku yakin, selama dia disampingku...
Maka semuanya akan baik-baik saja.
.
.
.
.
__ADS_1
.