Suamiku Si Cowok Cantik

Suamiku Si Cowok Cantik
Part 9


__ADS_3

Aku menatap Delova yang tengah sibuk menyiapakan sarapan diatas meja. Dia sudah mengenakan seragam sekolah, sama halnya diriku.


"Mungil,"


panggilku seraya memeluknya dari belakang, Aroma tubuh Delova langsung tercium. Wanginya benar-benar menghanyutkan akal sehatku.


"Kenapa?''


aku membalikkan tubuh Delova agar dia menghadap ke arahku.


" Morning kissnya mana?"


tanyaku dengan mata yang melirik jahil bibir ranum milik cowok cantik itu. Setelah pengakuan cintanya tadi malam, entah kenapa kelakuanku terhadap Delova malah semakin menggila.


"Lo udah nyerang gue berkali-kali tapi masih belum puas juga?"


Delova balas bertanya dengan raut wajah tak percaya. Well, pagi ini aku memang sudah berulang kali mencuri ****** di bibirnya.


"Yang pentingkan udah halal,"


jawabku sambil menelusupkan wajah di perpotongan leher mulus Delova. Sebenarnya aku tidak mesum kok, hanya Delova terlalu menggoda untukku abaikan.


"O ya Va, lo gak perlu nganter gue ke sekolah.


Soalnya gue sama Devi mau ke minimarket dulu sebelum berangkat, kita berdua mau beli bahan-bahan buat tugas kelompok.


Aku mendongak guna melihat reaksi Delova. Wajah imutnya nampak sedikit tidak suka saat mendengar ucapanku.


" Bukan karena mau selingkuh?"


selidik Delova dengan ekspresi manyun. Haduh! Menggemaskan sekali sih! aku kan jadi kepikiran yang iya-iya.


"Enggak mungilku,"


Nah kan, ujung-ujungnya wajah imut Delova ku kecupi bertubi-tubi. Seperti biasa mukanya yang unyu mulai merona merah.


"Janji ya jangan selingkuhin gue?"


Masih dengan wajah malu-malu namun cemberut, Delova mengangkat jari kelingkingya ke arahku.


"I promise!"

__ADS_1


Akupun mengaitka jari kelingking kami.


Ketika aku hendak menciumnya tangan Delova spontan mendorong pelan dahiku. "Sarapan Nadira! Gak usah nyari kesempatan mulu!'


seru cowok cantik itu sambil bergerak untuk duduk dikursi. Hah, kumat deh sikap judesnya.


..


..


..


..


Setelah membeli kebutuhan untuk tugas kelompok di minimarket, kini aku dan Devi tengah berjalan beriringan menuju sekolah.


" Nad, lo gak mau ngejengukin Briyan?"


tanya Devi tiba-tiba.


"Gak deh,''


Aku memang tidak ingin lagi berusan dengan Briyan. Meskipun belum seutuhnya melupakan dia, tetapi aku sangat sadar diri jika ada perasaan lebih penting yang masih harus kujaga.


Kutatap Devi dengan pandangan malas.


Rupanya cewek ini masih beranggapan kalo yang menghajar Briyan adalah Si Mungil.


"Sorry, gue gak sempet nanyain hal yang gak bermutu kayak gitu,"


sahutku cuek. Tidak memedulikan gerutuan Devi.


"Eh, pacarnya monster,"


Suara sialan itu! Aku langsung menoleh kebelakang, dimana sosok Guntur sudah melangkah mengekori kami. Apa dia tidak membawa motor sportnya hingga ikut jalan kaki begini?


"Elo yang monster!"


makiku. Sungguh aku tidak terima sekali jika Delovaku yang menggemaskan disebut sebagai monster.


"Lo pake jimat apa buat ngedapetin Delova?" makin lama bocah ini semakin kurang ajar ya?! Masa dia menanyai aku dengan jimat apa?! Mengesalkan.

__ADS_1


"Sembarangan amat sih ngomongnya,"


bela Devi. Sedangkan Guntur malah tersenyum sinis. Hih! Minta dicakar wajah tampannya itu!


"Gue tau banget Delova! Bahkan cewek-cewek yang ngedeketin dia banyak yang jauh lebih cantik dari lo!"


katanya sambil menunjuku. Menghinanya sungguh tidak nanggung-nanggung, bikin sakit hati saja.


" Delova juga gak pernah nunjukin ketertarikan sama cewek, apalagi sampai berhubungan dengan salah satunya. Lo gak tau kan? Pernah ada cewek yang suka sama Delova dan nekat bunuh diri kalo Delova gak nerima cintanya. Mau tau tanggapan Delova? Dia sama sekali tidak peduli sama tuh cewek,"


Aku tertenggun mendengar ucapan Guntur. Begitu juga dengan Devi yang nampak melongo kaget.


"Terus gue harus bilang wow gitu?!"


ketusku, tidak mau terlalu percaya dengan perkataan berandar seperti Guntur.


" Dari pada sama Delova, mending lo pacaran sama gue Nad,"


Benar-benar perlu kuberi pelajaran mah!


Enak saja dia bicara begitu. Memangnya aku ini cewek gampangan apa?!


BRUAGHH!


Bu-bukan aku! Jelas bukan aku yang menghantam Guntur hingga jatuh tersungkur seperti itu.


"De-delova?"


Ya, sekarang Delova tengah berdiri menjadi tamengku dengan aura mencekam yang selama ini tidak pernah kurasakan.


Ngomong-ngomong kenapa dia bisa disini? Apa Delova mengikutiku?


Kulihat Guntur yang terbaring malah menyeringai puas, sementara tangan Delova nampak terkepal kian erat seolah menahan emosi. Kemudian cowok cantik tersebut mendesiskan kalimat yang membuatku terpaku.


"Berani lo ngedeketin Nadira, gue gak mikir dua kali untuk ngehancurin hidup lo."


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2