Suamiku Si Cowok Cantik

Suamiku Si Cowok Cantik
Part 13


__ADS_3

Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, kali ini


aku berinisiatif menunggu Delova di depan


gerbang sekolah cowok cantik tersebut.


"Eh! Tuh gembel pacarnya Delova kan?


Yeuwh, ngapain dia kesini?"


Samar-samar ku dengar kalimat menusuk


hati yang tertuju kepadaku. Sial! Kenapa sih mereka usil sekali?


"Modelan begitu mah gampang nyingkirinnya Nit!"


sahut yang lainnya. Mereka berjalan lengak-lengok menghampiriku.


"Hai, gue Anita."


Cewek berwajah cantik yang kemungkinan bos mereka menyapaku.


"Nadira,"


balasku cuek. Anita dan geng squadnya tertawa mengejek.


"Lo minta bantuan dukun mana? Kok bisa ngedapetin calon suami gue sih?"


Kurang ajar, Aku menatap tajam Anita yang baru saja bertanya. Ingin rasanya kucongkel bola mata sok polos itu!


Seenak jidat Anita mengatai Delova calon suaminya, huh! Dia tidak tau saja kalau Delova sudah resmi menjadi milikku.


"Mungkin nih cewek anaknya mbah dukun kalik!"


Temannya menimpali dan disambut dengan ledakkan tawa mereka. Aku mengepalkan tangan erat, Jika aku tahu akan dihina begini, Aku tidak mau membuang waktu menanti Delova seperti orang pinggiran.


"Mulutnya harap disekolahin sekalian dong!"


makiku. Sangat menyebalkan bila berhadapan dengan manusia-manusia gila ini. Lihat! bulannya merasa bersalah karena telah menghinaku, Kini Anita dan rombongannya justru nampak semakin geram.


"Belagu amat sih! Inget ya cewek buluk, gue bakal ngerebut Delova dari elo!"


Jantungku seakan berhenti berdetak kala mendengar penuturan Anita. Dasar pelakor!


"Nadira,"


belum sempat aku mengeluarkan kata-kata kasar terhadap Anita dan kawannya, Delova sudah keburu menghampiriku bersama teman-temannya yang tak kalah tampan.


"Hai Va! kita nemenin cewek lo nih,"


lapor Anita. Hidih! Perlukah kumaki cewek berbisa ini dihadapan Delova?!


Sementara Delova nampak tidak memperdulikan Anita, dan berdiri menghadap ke arahku yang hanya diam.


"Lo udah lama nungguin gue disini?"


tanyanya seraya menyentuh kedua bahuku.


Dapat kulihat tatapan iri cewek-cewek yang berada disekitaran gerbang. Apa Delova benar-benar sangat populer ya?


"Lumayan,"


jawabku acuh. Guna menghindari tatapan mata Delova yang menghipnotis, Kulirik sekelompok cowok yang tadi mengekori Delova, mereka serentak melempar senyuman manis kepadaku.


"Mobil gue masih diparkiran sekolah, Ikut gue yuk?"


Lagi-lagi aku menanggapi perkataan Delova dengan anggukan singkat. Ku rasa aku sudah termakan oleh ucapan Anita dan teman sintingnya.


Maaf Delova, kamu jadi terkena imbas kesalahanku terhadap mereka. Habisnya kamu juga sih, kenapa harus punya banyak penggemar? Aku kan muak dihina.


"Gue duluan ya."

__ADS_1


Delova berpamitan kepada teman-temannya yang masih betah menatap kami.


"Ayay Captain,"


jawab cowok berwajah imut dengan mata sipit yang terlihat memakai eyeliner. Hei! Itu eyeliner sungguhan.


Saat berlalu melewati sekelompok cowok tampan dengan berbagai variasi gaya tersebut, kuhitung jumlah mereka yang ternyata ada sebelas orang.


"Nadira,"


panggil Delova yang spontan mengalihkan perhatianku. Cowok berparas cantik itu tetap memandang lurus kedepan, Sedangkan aku terpaku kala melihat tangan kami yang saling menggenggam.


Desiran jantungku terasa berdentum kencang, aku terlalu fokus dengan pikiran kacauku, hingga tanpa kusadari teman-teman Delova kini tengah memakai jaket hitam yang sudah sangat familiar dimataku.


..


..


..


..


Malam ini aku memilih tidur duluan, mengabaikan Delova yang seharian kudiami.


"Nad? Lo udah tidur?"


Kurasakan pergerakan ranjang yang artinya Delova pun ikut aku terlelap.


"Udah!"


Seruku seraya berbalik membelakanginya.


"Lo kenapa sih?"


heran Delova.


Oh ayolah, berhenti menanyaiku! Karena aku sendiri tidak tau apa yang salah dengan perasaan ini.


"Lo marah ya Nad? Emang gue salah apa?"


tanya Delova. Tangan mulusnya menarik-narik piyama tidurku.


"Gue males sama lo,"


gumamku masih dengan nada acuh yang tak enak didengar.


Ketika tidak mendengar sahutan Delova, aku memutar kepala agar bisa melihatnya.


Cowok cantik itu sekarang tengah memunggungi ku dengan bahu yang


bergetar.


"Hiks..."


Deg!


What the hell?! Apa dia menangis?


"Va? Lo nangis?"


aku bergegas duduk dan menarik tangan


Delova supaya dia ikut duduk diatas ranjang.


Delova menunduk dengan wajah memerah


yang sudah basah oleh air mata.


"Ja-jangan males sama gu-gue,"


lirihnya parau.

__ADS_1


Seberarti itukan aku sehingga Delova yang terkenal tidak peduli dengan apapun kini menangisiku?


"Ma-maafin gue,"


lanjutnya sambil menatapku dengan mata merah berair yang nampak berkaca-kaca.


Aku sangat jahat, tanpa sebab yang jelas aku telah mengabaikan keberadaan Delova begitu saja.


"Lo gak salah kok,"


Jemari tanganku mengusap air mata yang


menetes di pipinya. Uh, Delova yang sedang dalam keadaan menangis begini sungguh membuatnya terlihat semakin menggemaskan.


"Gue takut Lo marah,"


Delova mempoutkan bibir tipisnya.


"Jangan ngediemin gue lagi,"


pintanya yang refleks kuanggukan.


"Iya tapi gak janji,"


jawabku yang membuat Delova lekas manyun.Segera kupeluk erat tubuh mungil sosok yang sudah menjadi suamiku. Aih Kenapa dia harus seimut ini?


"Dasar tikus botak,"


umpat Delova. Aku tertawa, Cowok cantik ini sebentar-sebentar kelihatan takut aku marah, detik berikutnya kembali mengumpatiku.


Aku mendongak, dan menatap tepat matanya yang sayu.


"Gue cinta elo, Nad,"


bodohnya aku yang telah meragukanmu.


Dengan tergesa kucium bibir ranum Delova, ******* dan melesakkan lidahku ke dalam rongga mulutnya yang hangat serta manis.


Delova hanya menurut, bahkan ia mengalungkan kedua tangannya di leherku.


"Eungh..."


Lenguhan Delova terdengar saat kusudahi ciuman kami. Menyadari jika Delova masih sibuk mengatur nafas, aku berpindah keceruk lehernya, tidak sebatas mengendus, tetapi juga menciptakan kissmark di permukaan lehernya uang mulus.


Tiba-tiba saja Delova mendorongku pelan, lalu menatapku dengan raut waspada.


"Gue belum siap,"


ujar Delova seolah aku yang pria dia wanitanya.


"Gue gak peduli,"


Delova bangkit dan hendak pergi ketika melihat seringai di wajahku, tetapi dia kalah cepat karena aku dengan sigap menarik tangannya dan membanting Delova sampai dia terbaring diatas kasur.


"Jauh-jauh dari gue!"


seru Delova dengan wajah cemas luar biasa.


Dia beringsut mundur saat aku mendekatinya.


Well, Kurasa ini akan menjadi malam yang sangat panjang.


.


.


.


.


Mohon maaf bila tak berkenan dengan cerita ini! Dan terima kasih untuk yang sudah menunggu😄

__ADS_1


__ADS_2