Suamiku Si Cowok Cantik

Suamiku Si Cowok Cantik
Part 17


__ADS_3

Rasa percaya itu sama halnya akan sebuah kertas, sekali saja disobek, maka tidak akan pernah kembali pada bentuk semula.


Aku kecewa, tapi juga tidak bisa menutupi kerinduanku pada Delova.


"Kak! Bukain pintunya dong! ada kak Delova sama mamanyatuh mau ketemu sama kak Nad."


Suara cempreng yang tidak ada merdunya itu terdengar dari luar bersamaan gedoran pintu yang membuatku ingin mengumpati adik lelakiku, Lavino Griselda. Well, aku memang tidak pulang ke apartemen, melainkan langsung ke rumah orang tuaku.


"Suruh mereka pergi! Gue muak dan butuh waktu untuk merenung!" seruku masih dalam keadaan merebahkan tubuh diatas kasur.


"Tapi gue gak mau masalah ini terus berlarut Nadira!"


Jantungku berdetak kencang saat mendengar suara yang tak lagi asing ditelinga ku.


Sial! Kenapa mendadak hatiku terasa nyeri begini?!


Aku sungguh belum siap mendengar apa yang mau Delova jelaskan.


Takut jika prasangka burukku adalah kebenarannya.


"Buruan kak Nad, Heran deh gue, cewek yang gak ada sisi perempuannya kayak lo kok bisa sih ditaksir sama cowok sesempurna kak Delova."


Dasar bocah SMP! Mulutmu beracun!


Sebenarnya yang kakak kandung Lavino itu siapa sih?! Mengapa dia terlihat memihak Delova? Adik kurang ajar.


''Nadira? oke, gue tau Lo butuh waktu buat sendiri, gue juga gak bakal maksa elo untuk ngedengerin semuanya sekarang. Tapi Nad..."


Dapat kurasakan kesedihan Delova yang seolah mengoyak batinku, bahkan kata-katanya ikut terputus. Mungkinka dia juga tengah menahan sesak karena sikapku?


''Tapi gue mohon sama elo, tolong keluar sebentar. Gue cuma mau mastiin kalo elo baik-baik aja," ujarnya pilu.


Air mataku mengalir deras. Haduh kenapa sakit sekali ketika mendengar permintaan Delova?


Haruskan kuturuti? tapi bagaiman kalo aku goyah dan kembali menaruh kepercayaanku padanya?


Aku takut dia mengalami kesalahan yang sama. Aku tak mau kecewa dan sakit hati untuk kesekian kali.


"Seenggaknya ucapin sepatah kata Nad, biarin gue denger suara Lo. Setelah itu gue janji gak bakal ganggu Lo, sampai akhirnya Lo siap ngeliat muka gue lagi," lirihnya," Hiks...Nad-nadira..."


Untuk sesaat aku lupa bagaiman cara bernafas. Oh Tuhan, dia menangis.


"Pergi," ucapku sendu.


"A--apa?" tanyanya dengan nada terluka.


" PERGI!"

__ADS_1


Seperti orang kesetanan aku berteriak murka.


Aku masih belum bisa memaafkan Delova!


Aku harus memberi batasan agar dia tidak seenaknya membohongiku!


"Kalo itu keinginan Lo, gue pergi Nad. Maaf gue udah ngerusak kepercayaan Lo."


Ku dengar derap kaki yang mulai menjauh. Dan seketika itu pula tangisanku pecah.


Aku tidak mau hidup dalam drama! Tetapi bersama Delova membuatku terus membuatku terlibat dalam urusan aneh yang tak pernah ku mengerti akar permasalahannya.


"Nak, ini mama,"


Ibu mertuaku.


.....


"Apa selama ini Nadira tidak nyaman dengan sikap mama?"


Didalam kamar, kini aku sedang bersama mamiku dan mama Delova. Yeah, berkat tangisan mama didepan pintu, membuatku tidak tega dan berat hati mempersilahkan beliau masuk.


"Jangan bohongin perasaan kamu, Nak. Kalo emang ada keluhan, tolong sampaikan ke mama," ujarnya sambil mengelus rambutku.


Sementara mami hanya terdiam, seakan menyerahkan segala keputusan semauku sendiri.


"Nadira gak suka sama Anita,'' ujarku dengan suara parau karena habis menangis.


Ada secuil rasa lega ketika mendengar penjelasan mama.


"Kenapa kalian ke kafe bareng?" tanyaku dengan kepala tertunduk.


Masih dalam posisi duduk dipinggiran ranjang. Mama membawaku ke pelukannya yang hangat.


"Tadi sesudah nganterin mama ke mall, kami mampir ke kafe, dan tanpa di duga ada Anita yang langsung duduk dimeja tempat kami. Nadira tau gak? Delova sempat marahin dan maki-maki Anita, tapi karena mama gak enak sama pengunjung yang lain, mama minta Delova untuk ngebiarin Anita."


Aku refleks menangis sesenggukan. Berarti aku sudah salah menilai Delova?


"Makanya jangan main menyimpulkan sepihak," sahut mamiku yang sama sekali tidak membantu dan membuat tangisanku makin menjadi-jadi.


"Delova tau kalo Nadira gak suka sama Anita, makanya Delova bohong. Dia gak mau Nadira marah," ucapan mama bertambah memukul telak ulu hatiku.


Duh, kenapa sekarang aku jadi pihak yang bersalah sih? Aku tuh tidak suka disalahi!


"******!" celetuk Lavino yang kebetulan melintas melewati kamarku. Adik durhaka!


"Ma bilangin ya sama Delova, jam tujuh malem nanti Nadira pengen ketemu ditaman kota," kataku setelah merasa tenang.

__ADS_1


Aku sudah memantapkan hati ingin meminta maaf ditempat yang lebih romantis.


"Iya," jawab mama dengan senyuman teduh.


..


..


..


..


Cuaca tidak mendukung. Hari ini hujan turun mengguyur kota hingga lama. Sekitar pukul 21.28 WIB yang artinya telah lewat jam sembilan malam, gemerisik derasnya hujan masih tetap berlanjut.


Gagal. Hujan begini mana mau Delova datang.


Aku menghela nafas gusar. Harusnya aku mendengarkan penjelasan Delova terlebih dahulu, agar masalahnya tidak serunyam ini.


Dering ponsel mnyentak lamunanku.


-MyMungilDelova-


Nama yang tertera dilayar membuatku lekas membuatku menggeser tombol terima.


"Hallo?"


Aku merasa aneh ketika mendengar gema hujan saat panggilan telah tersambung.


'Gue udah nungguin Lo selama berjam-jam. Tapi kenapa Lo gak Dateng juga?'


Dia datang? Delova menungguku?


Demi apa?! Kenapa dia bodoh sekali?! Hujan sedang turun dengan deras!


'Apa gue gak pantes diamaafin?' lirihnya nyaris tak terdengar.


Sesak. Aku benci rasa sakit ini!


"Gue kesana sekarang!" finalku.


Seharusnya aku ingat kalau Delova akan melakukan apa saja yang aku inginkan.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2