
Senin pagi aku dan Delova berangkat
sekolah bersama. Meskipun kami berbeda tetapi, kali ini dia mau mengantar aku lebih dahulu.
"Entar, sepulang sekolah lo langsung ke kantor ya?"
tanyaku Delova yang sedang menyetir mobil nampak melirikku sekilas, kemudian kembali fokus pada jalan raya.
"Maybe yeah,"
jawabku sedikit lesu. Bagaimana tidak lesu jika dia harus mengimbangi waktu sekolah dan bekerja. Apalagi sekarang ini Delova juga sibuk mengurus aku serta apartemen kami. Entah dosa apa yang pernah Delova perbuat sehingga dia mendapatkan istri yang tidak bisa apa-apa seperti diriku.
"Cowok yang sama lo waktu itu, siapa namanya?"
aku menoleh ketika Delova tiba-tiba saja bertanya mengenai Briyan.
"Kenapa emang? Masih cemburu?"
Delova berdecak sebal begitu mendengar yang malah balas bertanya.
"Kalau iya kenapa? Masalah buat lo? Gak suka gue cemburuin? Oke, bye maksimal!"
Sungguh perkataan yang amat sangat tidak santuy. Kenapa sih dia harus berbicara ngegas begitu? Bikin pusing kepala saja deh.
"Namanya Briyan Fernandez. Lo kenapa misuh gitu sih? Lagi datang bulan yah?" ucapku langsung mendapat jitakan dari
Delova. Cowok cantik ini! Sedang menyetir masih sempat-sempatnya menjitak kepalaku. Lihat saja nanti, akan kucium sampai tidak dapat bernafas.
"Briyan biasanya lewat mana kalau berangkat sekolah?"
Delova kenapa sih menanyai Briyan trus? jangan-jangan dia jatuh cinta pada Briyan?
"Enggak! Gue cuma nanya doang,"
sahut Delova cepat seolah mengetahui isi pikiranku.
__ADS_1
"Dari arah yang berlawanan dengan kita,"
jawabku tanpa memedulikan seringai minterius yang menghiasi wajah imut Delova.
"Udah sampek, turun gih!"
Yah, kenapa harus secepat ini tiba di sekolahnya? aku kan masih ingin berdua dengan suamiku tercinta.
"Salim,"
ujarku sambil mengulurkan tangan. Setelah mengecup tangan punggung Delova, aku sama sekali tidak melepaskan tangan halusnya.
"Nad, lepasin!"
Aku tersenyum penuh arti lalu secepat kilat ******* bibir Delova.
"Kebiasaan!
seru Delova ketika aku mau turun dari mobil.
Ulva sepontan mengejekku ketika aku menghampirinya yang sudah menunggu di depan gerbang sekolah.
"Iya dong,"
banggaku. Ulva merupakan satu-satunya orang disekolah yang sudah tahu perihal pernikahanku dengan Delova. Tentu saja pernikahan kami dilangsungkan secara diam-diam, karena aku dan Delova masih berstatus seorang pelajar.
"Eh, lo tau gak kalu bakalan ada siswa baru di sekolah kita? katanya sih pindahan dari SMA Internasional, sekolahnya Delova.
Aku tertenggun. Sudah akhir semester begini masih menerima siswa pindahan?
" Kok masih diperbolehin pindah sih?"
tanyaku tak percaya. Kini aku dan Ulva
tengah berjalan bersama menuju kelas.
__ADS_1
Sebelumnya kami biasa bertiga dengan Mila, tetapi setelah apa yang dia lakukan padaku,
kami menjauhi Mila.
"Denger-denger sih dia anak donatur
terbesar di sekolah kita. Dikeluarin dari sekolahnya karenabikin masalah."
tutur Ulva menjelaskan. Setibanya kami di dalam kelas, murid-murid yang lain juga nampak sedang membahas hal serupa.
"Gue dapat berita baru, Bro!"
heboh Devi ketika ia masuk kelas. Serentak aku dan teman sekelas yang lain memghela nafas jengah.
"Tau! dikelas kita bakalan ada anak baru kan?"
sahutku sementara Devi malah mengguncang bahuku dengan tampang sebal.
"Bukan! Ini soal Briyan! Tadi dia ditemuin
beberapa warga tergeletak gak sadarkan diri
dalam keadaan babak belur dipinggir jalan yang sepi!"
cerocos Devi. Aku mendelik kesal, berpura-pura tidak peduli walau sebenarnya terbesit rasa khawatir.
"Apa hubungannya dengan gue? Bilangin tuh sama Mila!"
Ketusku sambil menyindir Mila yang nampak berjengkit kaget di tempat duduknya.
.
.
.
__ADS_1
.