
I love you.
Untaian kata sederhana yang di sekolah ini membuatku tak bisa berhenti tersenyum, lebih tepatnya nyengir seperti orang gila sih.
"Lama-lama kering tuh gigi,"
komentar Ulva yang sejak tadi memperhatikan gelagat aneh ku.
Aduh, mau bagaimana lagi? Delova benar-benar menyihir perasaanku hingga aku tidak dapat memikirkan hal lain barang sejenak.
"Ini namanya menyebar aura positif,"
sahutku seraya memasukkan buku-buku ke dalam tas ransel. Beberapa teman sekelas yang lain sudah bergegas pergi karena bel pulang sekolah memang telah berdering.
"Menebar aura positif dari Hongkong! Gue malah ngerasa ngeri ngeliat lo cengengesan mulu."
Aku bangkit dan menatap Ulva dengan pandangan jengah.
"Bilang aja kalo iri,"
"Gue jadi duta sampo laen? Gak deh!"
sahut Ulva tidak nyambung.
Saat kami masih asik begurau, Delova tiba-tiba muncul dengan pandangan menyapu kelas mencari keberadaanku. Eh, tumben dia langsung menyusul kemari, biasanya kan Delova hanya menunggu di depan gerbang.
"Cihuy! Di samperin ke dalem kelas,"
ledek Devi. Aku tersenyum tanpa melepas
tatapan mata dari Delova, tetapi malah anehnya cowok cantik itu malah menatap tajam sosok yang berada dibelakangku. Siapa lagi kalo bukan Guntur.
"Nad mau pulang bareng gue gak?"
Aku tersentak kaget begitu mendengar ajakan Guntur yang sekarang sudah berdiri disebelahku. Entah kenapa .... aku merasa jika Guntur sengaja melakukannya bukan karena sungguh-sungguh ingin mengantarku pulang. Apa dia berniat memancing emosi Delova?
"Najis,"
uajrku. Belum sempat aku melangkah, Delova segera menghampiriku dan menarikku agar bersembunyi di balik tubuhnya yang wangi.
"JANGAN DEKETIN NADIRA!"
Deg!
Suasana mendadak hening kala teriakan Delova menggema ke penjuru kelas. Tidak hanya aku, namun sebagian temanku yang masih stay di lokal ikut bergidik takut.
"Jangan berani-berani elo ngedeketin Nadira, kalo elo emang masih sayang nyawa!"
__ADS_1
ancam Delova. Tangan putihnya menggenggam tanganku erat.
Sementara Guntur nampak menyeringai sinis, tetapi tatapan matanya berubah menyedu.
"Lo gak perlu khawatir, gue udah lama mati rasa."
jawab Guntur, kemudian dia berjalan menghadap Delova.
"Seandainya saja elo dulu lebih murah hati dan mau nurutin satu permintaan gue, Mungkin saat ini gue masih berdiri di pihak lo,"
lirih Guntur seraya berlalu meninggalakan kelas.
Aku tertegun. Meski tak mengerti arah pembicaraan mereka, tapi aku dapat menangkap maksud Guntur bahwa ke duanya pernah berteman.
"Sialan,"
Delova mendesis. Setelah itu dia menghadap kepalaku yang tak tau harus bersikap bagaimana.
"Lo mau pulang apa mau nginep disini?"
tanya Delova dengan wajah cemberut
Syukurlah, aku menghela nafas lega melihat cowok cantik tersebut kembali pada mode menggemaskan.
"Ih! Kayak anak kucing,"
Aku mencubit pipi Delova yang terlihat tidak keberatan menerima perlakuanku. Duh, jadi ingin cepat-cepat pulang ke apartemen supaya lebih leluasa melakukan yang iya-iya.
Dasar Delova! Kenapa sih bibir seksinya harus selalu berbicara pedas begitu?!
..
..
..
..
Sesampainya di apartemen, aku dan Delova berbaring bersama di lantai. Kami belum mandi serta masih mengenakan seragam sekolah.
"Mau makan apa?"
tanyanya dengan pandangan menatap langit-langit atap apartemen.
"Emang lo gak ngantor?"
Delova menolehkan kepalanya menatapku.
__ADS_1
Surai rambutnya turun menutupi dahi, membuat berkali-kali lipat terlihat semakin imut.
"Papa bilang semester terakhir ini gak usah kerja. Untuk sementara waktu kebutuhan sehari-hari kita bakal di tanggung sama orang tua."
sahut Delova. Aku bergerak tidur menyamping, lalu menyibak poni rambut suamiku yang mungil ini.
"Pengen nasi goreng,"
Aku kembali pada pertanyaan Delova yang awal. Tak kusangka dia juga mengganti posisinya menyamping, tepat berhadapan denganku.
"Ya udah, entar gue bikinin,"
ucap Delova. Mata coklat jernihnya mengingatkan aku pada Rusa. Uh, dia manis sekali.
"Jadi tambah sayang,"
ujarku seraya memeluk tubuh Delova.
"Na-nad lepasin,"
aku tertawa mendengar suara merdu Delova
yang gugup. Dan bukannya melepaskan, aku malah mempererat, lalu mengendus ceruk lehernya.
"Oh, tidak bisa!"
Kudongakkan kepala untuk melihat wajah Delova. Permukaan wajahnya merona merah, matanya terpejam, dan bibirnya ia gigit.
"Va? gue gak bakal macem-macem kok,"
Delova membuka matanya dan sedikit menunduk agar dapat melihatku.
"Be-bener?"
gugupnya dengan rona merah yang kini menjalar hingga ketelinga. Ya ampun! Kenapa dia harus selucu ini?
"Iya, cuma satu macem aja,"
kataku, kemudian mencium bibirnya. Delova yang mendapat serangan mendadak nampak terbelagak kaget.
"NADIROH!"
teriak Delova ketika aku berhasil mengerjainya dan kabur tunggang langgang menuju kamar. Eh! Delova tadi memanggilku apa?!
.
.
__ADS_1
.
.