Suamiku Si Cowok Cantik

Suamiku Si Cowok Cantik
Part 28


__ADS_3

Aku melotot marah ketika jari kelingking yang baru saja di gunakan untuk mengorek lubang hidung itu menyentuh kakiku.


"Lavino! Kalo ngupil jangan di tempelin ke kaki gue, ****!" seruku sembari menjitak kepala bocah lelaki yang duduk di bawah ranjang, sementara aku sendiri duduk dipinggiran kasur.


"Abisnya Lo maen hp mulu sih, Kak." Lavino menggerutu dengan bibir tipis yang mengerucut lucu.


Kuletakkan ponsel yang semula aku mainkan, lalu menatap Lavino yang kini mendongak memandangku.


"Kenapa?" tanya ku sedikit sewot karena merasa terganggu dengan kehadirannya.


Dia tampak menghela napas kasar.


"Kayaknya gue gak bakalan jago lanjut sekolah ke luar negri deh," gumam Lavino dongkol.


"Bagus, dong? Gak nyusahin, kalo gitu." Tangannya memukul pelan kakiku.


"Lo gak tau gimana rasanya ngehalalin sekolah di luar negri!"


"Ya jangan dihayalin!"


Lavino bangkit dengan ekspresi cemberut, kemudian duduk di sebelahku dan secara tiba-tiba memeluk dari samping erat sekali.


"Pangabdi gratisan kayak Lo mana paham perasaan seorang pangeran ganteng!"


Dasar Lavino! Kumat penyakit narsisnya.


"Kak, Lo sayang gak sama gue?" Aku menatap Lavino yang kini menyandarkan kepalanya di bahuku. Kenapa mendadak dia mengalihkan pembicaraan begini?


"Sayanglah. Kalo elo sayang gak sama gue?" meskipun aku sudah tau jawabannya, karena Lavino pernah mengatakan hal itu, saat di kafe beberapa waktu yang lalu. Tetap saja aku ingin mendengarnya lagi.


"Sebenarnya sih enggak, tapi ya udah deh gue pura-pura sayang aja."


Jawaban macam apa itu?


"Becanda, Mak lampir. Gue sayang banget kok sama elo, Kak Nad," sahutnya cepat ketika melihatku hanya diam dengan wajah masam.


"Tumben manja," celetukku saat Lavino semakin mempererat dekapannya. Tanpa sadar tanganku bergerak membalas pelukan Lavino.


"Biar Lo gak kangen."


"Kangen? Gue mah bosen liat Lo terus," tawanya terdengar begitu mendengar ucapan ku yang bernada jengkel.

__ADS_1


"Kak Nadira Avanya..."


Jantungku seakan berhenti berdetak ketika Lavino memanggil nama lengkapku dengan suara lirih yang terdengar pilu.


Dia mengangkat kepala,setelah itu menatapku seraya tersenyum getir.


"Kenapa kakak gak nolongin Lavino?"


DEG!


Mataku mengerjap berulang kali dan perlahan terbuka. Memperlihatkan sekeliling, ruapanya aku masih berada di dalam mobil.


Ya Tuhan, ternyata aku hanya bermimpi.


"Kebetulan Lo bangun, kita udah sampe apartemen." Delova menyentak lamunanku.


Kami keluar bersamaan dengan mobil, kemudian melangkah memasuki lobby apartemen.


Aku dan Delova berjalan tergesa-gesa, kami mengingat jelas panggilan telepon Lavino saat di kafe tadi.


Adik kecilku, jangan sampai kenapa-napa.


"Lavino?! Nafio?! Kalian di mana?!" seru Delova antara dan panik.


Hening.


Tidak ada jawaban. Aku dan Delova memandang ke seluruh penjuru apartemen yang tampak kacau.


"Va..."


Tubuh ku melemas dan jatuh terduduk kala tanpa sengaja mataku menangkap ceceran di sekitar dapur.


Jantung ku berdegup dengan kecepatan yang tak biasa.


Aku terhenyak.


Pikiranku melayang.


Hatiku seketika di serang berbagai macam perasaan.


Sesak. Hingga sulit bagiku untuk sekedar bernafas.

__ADS_1


"Mereka pasti baik-baik aja, Nad," Delova bersimpuh dan mendekap ku.


"MEREKA DIMANA?!" teriakku histeris. Aku menangis meraung-raung di pelukan Delova.


Tidak ada siapapun di sini, tetapi terdapat cairan pekat berwarna merah yang kental tampak berceceran di lantai dapur.


"Hiks...tolongin adek gue, Va..." aku masih menangis sesegukan.


"Iya, Nad. Gue bakal cari keberadaan Lavino sama Nafio. Tenang aja, Sayang." Mendengar bisikan lembut Delova membuat perasaanku sedikit membaik.


"Nadira? Delova?" seseorang memanggil nama kami dari luar.


Dengan keadaan merangkul tubuhku, Delova mengajakku melangkah ke depan.


"Syukurlah kalian udah pulang." ujar bibi Rin lega, beliau merupakan tetangga apartemen kami. "Tadi, Bibi ngeliat rame orang di apartemen kalian. Bibi gak curiga karena mereka kelihatan kayak orang bermoral, tapi setelah itu mereka pergi sambil ngebawa koper besar banget. Kalian berdua gak kemalingan kan?"


Hati ku kembali mencelos saat menyimak cerita Bibi Rin.


"Bibi kok bisa gak curiga sih ngeliat orang lain ada di apartemen kami?!" bentakku kehilangan kendali.


''Bibi gak mau asal tuduh, Nad. Apalagi adek sepupunya Delova jalan barengan sama mereka."


Nafio bersama para penjahat itu?


"Delova," lirihku nyaris tak bersuara.


Aku bukannya bodoh dengan mengabaikan fakta soal koper besar dan hilangnya Lavino.


Mungkinkah...


.


.


.


.


.


Ada yang rindu berat?

__ADS_1


__ADS_2