
Sambil berjalan pulang menuju apartemen, pikiranku terus melayang pada kejadian tadi pagi, dimana Delova dan Guntur sempat berkelahi sengit hingga akhirnya mereka dapat di lerai oleh satpam sekolah. Aku? Tentu saja malah heboh sendiri mendukung Delova, tanpa berniat memisahkan keduanya.
"Capek bingits,"
keluhku, karena jarak dari sekolah ke apartemen memang lumayan jauh jika di tempuh dengan berjalan kaki. Yeah, mau bagaimana lagi, Delova bilang dia ada urusan yang sangat penting hingga tidak dapat menjemputku.
"Butuh tumpangan,"
Aku menoleh begitu mendengar suara seseorang yang memberiku penawaran.
"Tuh mobil gue,"
katanya seraya menunjuk sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari kami.
"Gak butuh!"
ketusku. Sedangkan cowok tampan yang tidak lain dan bukan adalah Guntur Bagaskara itu nampak melempar tawa kepadaku. Bew, makin tampan saja. Dasar tukang tebar pesona!
"Yakin? Lo gak ngeliat disana ada sekelompok geng motor yang lagi ricuh?"
Aduh sial!! Kenapa aku baru menyadarinya? Tepat di jalan sepi yang harus kulewati untuk mencapai apartemen terdapat seerombol geng bermotor yang tengah berkelahi.
Kumpulan cowok berjaket hitam dengan topeng putih sudah tidak lagi asing dimataku. Mereka merupakan geng penguasa jalanan yang memiliki julukan The Vision. Kabarnya anak geng tersebut sudah biasa keluar-masuk penjara.
Tahun lalu aku pernah terjebak ditengah perkelahian mereka. Bukan tanpa sengaja tentunya, saat itu aku yang baru pulang dari kafe setelah mentraktir Mila dan Ulva, Karena aku dan Bryian resmi berpacaran, malah iba ketika melihat seekor anak kucing yang berada diantara pertarungan mematikan itu bahkan hingga tubuh kecilnya terinjak-injak.
Meskipun ku akui bahwa aku tidak terlalu menyukai kucing, tetapi hati nuraniku berdenyut nyilu dan pada akhirnya aku nekat menyelamatkan kucing tersebut. Jangan pikir kala itu aku akan baik-baik saja! Salah satu lawan The Vision secara terang-terangan mengayunkan balok kayu kepadaku, untungnya sosok berjubah hitam dengan topeng yang juga berwarna hitam lebih dahulu melayangkan tinjunya dan membuat cowok yang berniat menyakitiku langsung sekarat di jalan.
"Nadira? Jangan ngelamun ****!"
Ya ampun! Benar-benar kurang ajar si Guntur ini! Seenaknya saja dia mengata-ngatai aku.
"Pergi aja sana lo!"
__ADS_1
usirku. Saat aku mulai kembali melangkah sosok berjubah dan bertopeng serba hitam yang merupakan ketua geng The Vision terlihat berjalan menghampiri kami. Ya, sosok yang pernah menolongku itu ternyata leader dari The Vision, makanya penampilan dia sedikit berbeda dengan anggotanya.
Ngomong-ngomong mau apa kemari? Padahal anak buahnya yang lain kan masih sibuk bertarung. Apa dia mau menjahatiku dan Guntur?
"Ayo gue anterin Nad. Lo gak mau mati ditangan dia kan?"
tegur Guntur dengan mata yang melirik sosok berjubah yang telah berdiri beberapa langkah dihadapan kami. Entah perasaan saja atau memang iya, tangan ketua The Vision itu nampak mengepal erat.
"Gue bilang enggak ya enggak! Gue mau nungguin Delova didepan minimarket!"
seruku. Minimarket terletak tidak jauh dari sini, dan Delova sering lewat sana ketika pulang. Kalau tidak bersama mungilku biasanya aku memilih lewat gang sepi yang sedang dipakai berkelahi sekarang, sebab ini jalan pintas dan alternatif paling cepat tiba di apartemen.
Tanpa kuduga ketua geng The Vision itu menyerang Guntur. Berhubung aku tidak peduli sama sekali pada Guntur, aku pun berlari riang menuju minimarket.
..
..
..
..
Setelah menunggu selama hampir satu jam di kursi panjang yang tersedia di depan minimarket, aku dikagetkan dengan kehadiran Delova yang memberhentikan mobilnya sebelum aku sempat melambai.
"Aura gembel lo menyilaukan mata,"
sahutnya dengan senyuman super duper manis. Aduh! Tetapi kata-katanya itu sungguh terasa seakan mencabik hatiku. Tega sekali! Masa istrinya sendiri dibilang gembel sih?
"Malah ngejek! Lo tau gak kalau nyawa gue tadi terancam bahaya?"
sebalku seraya memeluknya. Kupikir Delova akan mendorongku karena tempat ini lumayan ramai. Namun nyatanya dia hanya diam, bahkan membalas pelukanku.
"Makasih,"
__ADS_1
bisiknya. Dia berterima kasih untuk apa?
"For?"
Aku mendongak dan tertegun kala melihat senyum tulus di wajah berparas imut tersebut. Ya Tuhan, senyuman Delova kali ini membuat aku mendadak kehilangan kekuatan.
"Ada deh,"
jawabnya sambil mengedipkan sebelah mata dengan genit. Uh! Kenapa makin menggemaskan begini sih? Giliran aku tergoda, pasti aku yang disalahkan olehnya.
"Jangan disini Nad. Rame,"
lanjut Delova ketika aku mendekatkan wajah kami. Dengan segera aku menyeretnya ke kamar mandi yang berada disebelah minimarket.
Menyadari situasi disini sepi, aku mendorong Delova sampai punggungnya bersandar di dinding kamar mandi.
"Na-nad? Lo ma-mau apa?"
Wajahnya merona dengan tatapan mata yang sayu. Sekali lagi jangan salahkan aku kalu bernafsu! Siapa suruh punya pahatan tubuh dan wajah yang mengagumkan?
Ketiak berpacaran dengan Briyan dulu, aku bahkan tidak pernah mau diajak bergandengan tangan. Entahlah kenapa aku begitu suka menyosor Delova, mungkin karena kami sudah sah dan dia juga terlihat sangat menggiurkan.
"Disini kan sepi,"
sahutku yang membuat Delova spontan menatapku tajam.
"Udah tengil, mesum, idup pula!"
seru Delova dengan tangan yang menyentil pelan dahiku.
.
.
__ADS_1
.
.