
Kupandangi wajah suram Delova yang kini tengah berbaring menghadap ke arahku.
Setelah kejadian gila saat berkencan hari ini, Delova terlihat murung dan tidak banyak bicara. Tetapi untungnya dia tetap mau memasakkan makanan untukku.
"Lo nyesel ya kencan sama gue?" tanyaku iseng.
Padahal aku lah yang menjadi pihak paling dirugikan, sebab aku tadi sempat dituduh lesbi oleh Fander.
"Gue nyesel udah mempermaluin Lo." lirihnya sambil menggembungkan pipi.
Aku beringsut memeluk tubuhnya, lalu menenggelamkan wajahku diperpotongan leher cowok cantik tersebut.
"Jadi, Lo bad mood gara-gara ngerasa bersalah sama gue?"
Dia mengangguk, kemudian meletakkan dagunya diatas pucuk kepalaku.
Aduh! si mungil membuatku geregetan saja dengan tingkah manisnya.
"Gue malah kesel ngeliat Lo kayak gini!
Abisnya gue kan udah biasa ngedenger omongan Lo yang nyakitin hati," candaku sembari mendongak dan mengecup bibirnya sekilas. "Berasa ada yang kurang kalo elo diem,"
Delova tertawa, membuat jantungku mendadak bergemuruh heboh kala melihat tawanya yang sangat menawan.
"Yang cerewet itu elo Tutik!"
"Gue Nadira!" sebalku.
"Elo mirip Tutik sih."
Aku mengernyit bingung. Bukankah kerabat dan saudara jauhnya Delova tidak ada yang bernama Tutik?
"Siapa?" tanyaku dengan mata memincing karena curiga.
"Monyet dirumah gue."
Kemudian tawa kencang Delova menggelegar dikamar kami.
Ya ampun! Dia menyamai istrinya sendiri dengan monyet? Sungguh tega! Pokoknya Delova jahat.
"Tau ah gelap!"
"Gue bercanda kali Nad, gak seru elo mah,"
gumam Delova.
Tiba-tiba saja dia kembali mendekap ku.
Membawa tubuhku pada kehangatan.
__ADS_1
Aih! Cowok cantik ini memang paling bisa meluluhkan hatiku.
"Gue bakal ngelakuin apa aja buat Lo, kecuali yang elo minta adalah perpisahan kita. Gue gak mau kehilangan elo Nad."
Detak jantungku lagi-lagi bekerja tak sesuai ritme. Berdentum kuat hingga rasanya hendak meloncat keluar.
"Kenapa Lo bisa secinta ini sama gue dalam waktu singkat?"
Well, sejujurnya aku masih merasa ragu pada Delova. Ku dengar dari Mamanya, Dia tidak pernah jatuh cinta, Lalu mengapa Delova bisa seyakin ini kalau dia mencintaiku?
"Gue udah lama suka sama Lo. Bahkan sebelum kita dijodohin," jawab Delova lirih, nyaris tidak ku dengar.
"Hah, Sejak kapan?"
Mengabaikan pertanyaanku, Delova malah tertawa kecil. Dia menggemaskan sekali.
"Nadira, janji sama gue?" bisiknya, "Kalo suatu saat Lo tau segala hal tentang gue, tolong jangan berpikir buat pergi."
Keningku mengkerut, tidak mengerti apa yang baru saja Delova katakan.
"Maksudnya?" tanyaku yang tak kunjung paham.
"Udah malem, tidur."
Kenapa dia kelihatan mengelak, tidak ingin memberitahuku? Menyebalkan.
Karena Delova sudah seenaknya memejamkan mata, Aku langsung meraba pahanya yang dibalut piyama tidur.
Halus, Pantas saja pria mesum itu tidak mencurigai penyamaran Delova.
"NADIRA TIDUR!"
"Mau pulang bareng gue gak Nad?" tawar Guntur.
Sepulang sekolah,aku terpaksa berjalan kaki karena Delova sedang mengantarkan mama ke mall. Yeah, Dia mengabariku lewat chat.
"Gak perlu!" ketusku seraya terus melangkah menjauh dari gerbang sekolah.
"Nadira! kemaren gue liat elo ada di alun-alun kota!"
Aku berhenti melangkah dan secara spontan berbalik menghadap Guntur.
Apa jangan-jangan dia juga melihat bagian aku dan Delova yang kissue? Ya Tuhan, memalukan!
"Gue tau penampilan Lo disekolah cantik, tapi ngeliat gaya sederhana Lo kemaren, jujur aja Lo keliatan berkali-kali lipat lebih cantik Nad." puji Guntur yang membuatku menghela nafas lega.
Dilihat dari raut wajahnya, Guntur nampak berkata tulus, hingga tanpa kusadari sudut bibirku terangkat membentuk senyuman.
"Makasih," ujarku yang disambut dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
"Umm, sama-sama."
Aku bergegas melangkah pergi, sementara Guntur hanya terdiam, namun dia juga tidak memaksa untuk mengantarku.
Karena perutku keroncongan, maka kuputuskan untuk berjalan memutar agar bisa mampir ke kafe.
Kaca transparan kafe memperlihatkan pemandangan yang seolah menusuk perasaanku. Dimana ada sosok Delova yang duduk dipojok kafe bersama mamanya dan juga...
Anita!
Dia berbohong?
Delova membohongiku?
"Sial!"
Aku mengambil ponsel dan lekas menghubungi Delova. Kulihat dia merogoh sakunya.
'Halo Nad?'
Mendadak tubuhku gemetar ketika sambungan telepon itu diangkat.
"Lo sama siapa?" tanyaku blak-blakan.
'Mama, Lo udah pulangkan?'
Tidak bisa ku cegah ketika air mata perlahan membasahi pipi. Aih! Kenapa aku jadi secengeng ini?!
"Cuma berdua?"
Terdengar hembusan nafas lelah dari seberang telepon.
'Iya.'
Aku tidak akan percaya pada Delova lagi!
'Nad?' panggilnya.
Kemudian dia menoleh dan matanya terbelalak kaget ketika melihatku berada diluar area kafe.
'Gue kecewa sama lo.'
.
.
.
.
__ADS_1
.