
Sebenarnya aku tidak tau harus bagaimana, meminta penjelasan pada Delova, atau memilih diam hingga semua permasalahan ini mereda. Aku...sungguh tidak tau.
"Mereka tadi siapa sih, Kak?" Lavino membuka suara ketika kami memasuki apartemen.
Setelah pintu tertutup rapat, Delova menatap kami, lalu menghembuskan nafas secara kasar.
"Anak buah mafia," gumamnya yang nyaris saja membuat ku berteriak kencang. Bukankah mafia itu sebutan untuk penjahat kelas atas? Oh, astaga.
"Gimana ceritanya Lo bisa ada anu sama mereka?" tanyaku tak percaya.
"Pertanyaan macam apa itu?!" cibir Lavino, sementara Nafio yang berada di sebelahnya tampak terkekeh geli.
Delova menarik tanganku agar kami duduk terlebih dahulu di sofa. "The Vision...adalah kaki tangannya bos mafia besar."
Aku menganga takjub. Tidak menyangka jika masalahnya akan menjadi segila ini, ku pikir kelompok mafia hanya ada di film.
"Terus, kenapa mereka ngincer kalian?" mata berilis coklat madu tersebut menatap sendu padaku.
"Karena kami memutuskan untuk berhenti kerja sama dengan mereka. Lo tau konsekuensi di dunia penjahat? Yang berhenti harus di singkirkan supaya rahasia mereka tetep aman," ujar Delova sembari menggenggam erat tanganku.
"Berarti mereka mau nyingkirin elo?"
"Enggak, mereka mau The Vision tetep berada di pihak mereka." Delova memandangku lama, kemudian berkata, "Mafia itu ngincer Lo...titik achilles gue."
__ADS_1
Aku mendadak kehilangan semangat hidup.
"A-artinya...gue dalem bahaya dong? Laporin polisi!" seruku ketakutan. Delova mendekapku dan menghujami keningku dengan kecupan.
"Percuma, karena gak ada satupun orang yang tau sosok asli bos mafia itu," lirih Delova sembari mengeratkan dekapannya. Pikiranku melayang pada Guntur, bagaimana keadaannya sekarang?
"Gimana sama Guntur? Dia ketangkep,"
"Bukan cuma dia. Tapi beberapa anak buah gue yang lain juga ketangkep," ujarnya tanpa melepasku. "Tadi pas gue mau ke minimarket, gue ketemu sama Guntur yang di hajar mereka di sekitaran cafe.
Aku meregangkan dekapannya, lalu menatap wajah berparas cantik dengan luka di sudut bibir tersebut. Tunggu...kenapa Delova terlihat menggemaskan? Uh, dia seperti korban kekerasan rumah tangga saja deh.
"Nad, gue sama Abas mau minta bantuannya Fender. Lo ngikut, gak?
MyBeautifulHusband
"Cewek Lo harus one night stand sama gue."
Jantung ku bergemuruh heboh, sementara Delova ku lihat mengepalkan tangannya, seakan tengah menahan emosi.
Di pojok kafe, percakapan ini terasa semakin tegang.
"Gila!" komentar Abas."
__ADS_1
"Cuma semalem, gak bakal hamil," jawab Fander. Setahu ku istilah one night stand merupakan ajakan untuk berhubungan intim selama satu malam.
"********!" umpat Delova dengan emosi yang berapi-api.
"Santai. Lagi pula yang Lo cinta kan Si Nadira, kenapa kesel cuma gara-gara gue pengen one night stand sama pasangan lesbinya Nadira?"
Apa?! Jadi, Fander ingat kalau aku adalah cewek yang berciuman dengan Delova saat dia sedang menyamar sebagai perempuan?
"Iya, yang gue mau cuma selingkuhan lesbi Lo itu, Nad." Fander kembali berujar, tanpa menghiraukan aku yang seakan terkena serangan jantung. Ya ampun! Yang dituduhnya selingkuhan lesbiku itu kan Delova sendiri! Dia ingin menjamah Delovaku?
"Lo lesbian sama siapa, Nad?" tanya Abas penasaran.
Aku menoleh kaku dan menatap Delova yang sama jengkelnya. Sebelum aku bersuara, ponselku terasa bergetar.
"Lavino?" kuangkat panggilan dari adikku yang masih berada di apartemen bersama Nafio.
"Kak Nad, tolongin gue! Bos mafia berbahaya itu rupanya Kak Na--" suara Lavino tampak tercekat. Bahkan belum sempat ia menyudahi kalimatnya, sambungan telepon tersebut langsung terputus bersamaan dengan bunyi hantaman benda keras.
.
.
.
__ADS_1
.
.