Suamiku Si Cowok Cantik

Suamiku Si Cowok Cantik
Part 25


__ADS_3

Mata ku manatap malas buku paket tebal yang harus di pelajari. Otak kecil ku mana sanggup memahami isi-isi buku tersebut. Ini nama nya penyiksaan secara tidak langsung! Tega sekali para guru meracuni pikiran muridnya dengan begitu banyak.


"Good morning, Nadira. How are you today?" Kursi di sebelah ku sedikit tergeser, ada Guntur yang dengan santai mendudukinya.


"Menurut Lo?" sinis ku mengabaikan tawa renyah Guntur.


Cowok ini biasanya akan datang paling terlambat, tumben pagi hari begini dia sudah muncul dikelas.


"Lo keliatan gak baik-baik aja," Aku menoleh, menatap lurus Guntur yang kini memandangku dengan senyuman manis. Lalu Guntur kembali berkata, "Tapi aura cantik Lo gak berkurang kok Nad.''


Harus ku akui kalau aku suka mendengar pujian Guntur. Dia tampak tulus mengatakannya. Namun, aku hanya diam saja tanpa berniat menanggapi ucapan Guntur.


"Kalo ada masalah, jangan sungkan buat cerita sama gue," ujar Guntur yang masih duduk setia menemaniku.


"Lo...Kenapa bisa musuhan sama Delova?" Dia tampak terkejut ketika aku menanyakan hal yang tidak pernah ku dapat jawabannya dari Delova. "Apa karena gue? Lo kan suka sama gue," lanjutku asal berbicara. Masa bodi dianggep percaya diri, toh aku sudah biasa malu.


"Rima adalah cewek yang bunuh diri karena di tolak sama Delova." Keningku mengkerut, kenapa dia membicarakan persoalan lain?


Guntur menatapku dengan senyuman yang terlihat pilu. "Gue udah nyoba nyegah dia supaya gak lompat dari lantai empat gedung sekolah, tapi gue gagal. Seandainya saja waktu itu Delova mau ngasih sedikit perhatian untuk Rima, dia pasti masih hidup sampai sekarang. Rima ngalamin depresi, makanya gak berpikir panjang saat bunuh diri."


Kasian sih tapi apa hubungannya?


Ku pandangi perubahan ekspresi Guntur yang terlihat sendu.


"Gue nanya apa, Lo ngejawab apa. Situ waras?" kesalku sembari mengalihkan pandangan pada buku.


"Rima...kakak perempuan gue. Satu-satunya keluarga yang gue punya, karena orang tua kami selalu sibuk ngurusin proyek di luar negri."


DEG!


Pernyataan Guntur seakan menampar perasaanku. Menyesakkan hingga tanpa sadar aku menahan nafas.

__ADS_1


"Hei, Nadira," dia mengacak rambutku seraya tertawa lepas. "Meskipun gue sama sekali gak ada artinya buat Lo, tapi bagi gue Lo itu sangat berarti,"


"Gue cuma cinta sama Delova," tegasku, yang tak ingin membuatnya terlalu berharap lebih karena yang kucintai memang hanya suamiku yang berparas cantik natural.


"Lo gak perlu khawatir, gue cuma bakal mencintai Lo dari kejauhan, secara diam-diam dan menyimpan semua rasa sakitnya sendirian."


Guntur bangkit, lalu beranjak pergi dengan sebelumnya memberiku sebuah senyuman yang menyayat hati.


..


..


..


..


"Kalo bokap Lo main tangan lagi, kabarin gue, Fio!" titah Delova setelah sampai di kediaman megah keluarga Maheswari yang tampak sepi.


Sepulang sekolah aku dan Delova mengantarkan Nafio terlebih dahulu, sementara mobil yang Nafio kemaren bawa kabur sekarang ini sedang berada di bengkel.


"Gak usah! Gue kalo mampir suka ngehabisin makanan," candaku yang mendapat jitakan penuh kasih sayang dari Delova. Tepat kala aku melirik Nafio, tanpa ku duga bocah itu melempar tawa kecil yang memperlihatkan deretan gigi rapih putih dengan dua taring seperti vampir. Ya ampun, dia sangat menawan.


Tak butuh waktu yang lama, aku dan Delova segera berpamitan pulang pada Nafio.


Selama diperjalanan menuju apartemen, aku ketiduran dan baru terbangun saat sudah terbaring di kasur empuk tercinta. Pasti Delova yang menggendongku sampai ke apartemen kami. Uh, romantisnya suami mungilku.


"Va?" panggil ku ketika menemukan sosok nya yang sedang berkutik di dapur.


"Kenapa bangun? kan baru tidur sebentar," ucapnya tanpa menoleh. Tangan halus itu terlihat begitu cekatan saat menumis sayur-mayur.


"Gak nyetak kalo gak di peluk," Delova sampai berjengit kaget karena aku memeluk tubuhnya dari belakang.

__ADS_1


"Jangan ganggu! Gue lagi masak. Mendingan Lo ganti baju aja sana," usir nya yang tentu saja enggan kulaksanakan. Aku lebih suka mengusiknya begini.


"Nad! Gak usah ngeraba-raba! Lo mau gue goreng, ya?! ancam Delova ketika aku mengusap perutnya yang rata.


''Perut Lo bisa ada bayinya gak?"


"Bisa," aku menganga saat mendengar jawaban Delova. Yang benar saja! Padahal aku tadi hanya bercanda.


"Serius?" Delova membalikkan tubuh menghadap kearah ku yang spontan mendekapnya.


"Bisa...dalam mimpi Lo!" ketus cowok imut seraya menjitak kepalaku dengan jengkel.


"Sekali lagi nanyain hal yang gak berbobot, Lo gak boleh nyium gue seharian ini!"


Mengapa aku kesannya jadi mesum sekali sih?


"Ya udah, gue cari cowok lain aja," balas ku dengan tampang kalem.


"Jangan!" tuh kan dia pasti mencegah ku. "Lo boleh cium gue sesuka Lo kok, Nad."


Ehehe menang banyak.


Ku dekatkan wajah ku dengan wajah Delova, setelah bibir kami hampir bertemu, aroma gosong yang begitu menyengat menghentikan aksi ku.


"NADIRA! LIAT MASAKAN GUE JADI GOSONG GARA-GARA ELO!" teriakkan heboh Delova refleks membuat ku menutup telinga.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2